Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
Bab 67


__ADS_3

"Astaga, saking paniknya sampai lupa dengan CCTV!" kedua lelaki itu bergegas menuju ruangan CCTV atas petunjuk petugas keamanan rumah sakit.


"Ketemu!" teriak Samuel dan Firas serempak.


"Ada yang menculik Lea Fir, mereka membekapnya dengan obat bius tapi wajahnya mengenakan masker dan itu sangat menganggu!"


"Sial!" seru Firas. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar.


Tenang Fir, berpikirlah dengan jernih, jangan panik! Semua pasti ada jalan keluarnya. Firas terus menenangkan dirinya sendiri.


"Apa ini ada hubungannya dengan Riana El?" pertanyaan Firas berhasil membuka pikiran El yang juga sedang kalut dan tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Ya, kau benar Fir, aku yakin ini ada hubungannya dengan Riana dan suaminya itu!".


"Jika begitu kemana kita harus mencari keberadaan mereka El?"


"Kita datangi rumahnya! Siapa tahu di sana kita bisa mendapatkan petunjuk!" ajak El pada Firas.


Mereka pun bergegas menuju ke kediaman Riana dan suaminya.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan seorang Firas saat ini yang sedang kacau. Perasaannya tak menentu, memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi pada sang istri yamg baru saja melahirkan namun harus mengalami nasib yang begitu menyedihkan ini. Kondisinya yang pastinya belum stabil setelah pasca operasi sesar itu membuatnya semakin tak karuan diri Firas.


Ia pun sangat menyesali perbuatannya yang membiarkan istrinya keluar ruangan sendirian, meskipun itu karna dirinya yang tak mengetahui jika sang istri keluar ruangan sendirian.


Memakan waktu perjalanan 45 menit mereka telah tiba didepan rumah milik Riana.


"Apa langkah kita selanjutnya?" ucap Firas seraya ia hendak keluar dari dalam mobil namun El mencegahnya.


"Sepertinya kita tunggu saja disini Fir, aku yakin Riana membawanya ke suatu tempat yang pasti bukan disini!" usul El.


"Bagaimana bisa aku hanya diam menunggu, sementara istriku dalam bahaya El!" geram Firas.


"Aku tahu Fir, dia juga sepupu kesayanganku, aku juga sama khawatirnya denganmu, tapi dengan kita berlaju gegabah semua bisa kacau, kita tidak akan bisa mendapatkan petunjuk apapun. Maka menunggu sebentar adalah solusi terbaik!" tegas El


"Sampai kapan?!" geramnya lagi.


"Sampai Riana keluar dari rumahnya dan melakukan perjalanan dan saat itulah kita akan mengikutinya sebenarnya bisa saja aku menyuruh orang untuk melakukan itu, tapi aku ingin memastikan secara, krna jika sampai benar benar dia yang melakukanya, berarti dia benar mengibarkan bendera perang terhadapku!"


"Kita!" Firas menekankan kata kita!".


"Ya Kita, maksudku, maaf aku lupa jika Lea sekarang adalah milikmu!"

__ADS_1


Firas mendengus kesal mendengar perkataan Samuel, membuat seorang Samuel tertawa lebar.


Namun saat bersamaan nampak Riana dan suaminya keluar dari dalam rumah menuju mobilnya.


Mereka pun dengan sigap mengikuti arah mobil Riana melaju.


Sementara di salah satu kamar


"Apa sebenarnya tujuanmu menculik aku dan mengurungku disini?" tanya Lea pada seorang pria yang kini sedang menatapnya


"Sudah kubilang , bukan aku yang menculikmu, aku hanya diberi perintah untuk mengawasimu disini, selebihnya aku tak tau apapun nona!" sahut pemuda itu meyakinkan.


"Lalu kenapa kau mau bekerja seperti ini, apa tidak ada pekerjaan lain?!" tanya Lea lagi namun pemuda itu hanya tersenyum kecut seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.


Karena saat ini Alex sedang mengingat saat dirinya benar benar sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan orang tuanya beberapa tahun lalu dan akhirnya ia bertemu dengan seorang teman yang menawari sebuah pekerjaan sebagai penjaga kemanan, namun nyatanya ia pekerjaan itu adalah menjaga seorang tawanan.


Awalnya Alex menolak namun lagi lagi tuntutan rumah sakit yang harus segera melunasi biaya pengobatan sang ibu harus segera ia lakukan. Dan pada akhirnya ia pun mau tak mau harua bertahan di tempat tersebut.


"Apa aku bisa pergi ke toilet?" ucapan Lea menyadarkan lamunan seorang Alex


"Tentu saja, aku tidak sekejam penjaga lain!" sahut Alex.


"Ada diujung sana!" tunjuknya.


Wanita itupun berlalu pergi menuju toilet dan melewati satu kamar lain nampak jelas suara seorang wanita paruh baya sedang terbatuk tanpa henti membuat Lea merasa iba.


"Luna, minum dulu obatnya!" titah snag suami.


"Aku tidak butuh obat, aku hanya ingin segera keluar dari tempat ini mas!" keluh wanita paruh baya itu disela batuk yang terus menyerang.


"Pasti ada jalan bersabarlah Luna!"


"Sabar yang bagaimana lagi mas, hampir 14 tahun Riana mengurung kita di tempat ini, aku bahkan tidak tau bagaimana keadaan anakku saat ini!" setelah berbicara panjang lebar Luna kembali berbatuk.


Lelaki paruh baya itu kemudian keluar dari kamar tersebut hendak mencari lelaki yang bernama Alex namun bahunya menabrak seorang perempuan.


"Maaf nona!" lelaki paruh baya itu menunduk lalu berjalan kembali guna menemui Alex.


"Paman, butuh sesuatu?" tanya Alex yang baru saja muncul dari arah berlawanan.


"Aku butuh air hangat karna istriku terus terbatuk dan menolak meminum obat!"

__ADS_1


Deg.


Deg


Deg


Hati Lea seakan bergetar mendengar suara yang tak asing ditelinganya.


Wanita itu mengurung niatnya memasuki toilet lalu mengejar lelaki paruh baya itu dan tiba tiba Lea membalikan tubuh lelaki paruh baya itu dengan secepat kilat.


Matanya membulat sempurna saat melihat wajah sang lelaki paruh baya itu.


."Ayah! Kau kah itu?!" mulutnya menganga tak percaya mendapati kenyataan yang ada didepan matanya saat ini.


Seketika tubuh itu luruh dan memeluk sang ayah yang selama ini ia anggap sudah meninggal itu. Tanpa bisa berkata apapun wanita itu terus mendekap tubuh lelaki tua itu. Air matanya terus mengalir tapi lidahnya mendadak kelu dan mulutnya seakan terkunci.


Lelaki itu merasa bingung dengan sikap wanita yang sedang luruh di dalam pelukannya. Betapa tidak, selama 14 tahun ia sama sekali tak pernah melihat sosok anak perempuannya yang saat itu masih menjadi gadis kecil. Tentu saja ia tak begitu mengenalinya, apalagi perubahan wajah sang anak begitu nampak jauh dari masa kecilnya.


Cukup lama Lea memeluk tubuh lelaki yang sudah sekian lama ia rindukan itu. Perlahan mengurai pelukannya lalu menatap lekat wajah lelaki tua dihafapannya.


"Ayah, aku adalah Lea anakmu, aku tidak salah orang kan kau benar ayahku kan, ayah Sutan!"


Lelaki tua itu hampir saja terhuyung kebelakang saking terkejutnya dengan kenyataan yang ada didepan matanya saat ini.


"Lea, benarkah ini kamu sayang?" tanyanya tak percaya.


Sementara Lea hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir dengan begitu derasnya. Sama sekali tidak menyangka jika ayahnya masih hidup bahkan kini sedang berdiri dihadapannya dan memeluknya.


"Ayo, sayang kita temui ibumu!" Sultan menarik Lea kedalam kamar dengan begitu antusias.


Lagi lagi Lea tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun saat melihat wanita paruh baya yang terlihat begitu lemah dan terbaring tak berdaya.


Wanita itu langsung bersimpuh dibawah kaki sang ibu yang sedang terbaring.


Sama seperti halnya Sultan wanita paruh baya itu hanya bingung. Namun tak berselang lama Lea mendongak dan menatap lekat wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"Ibu, ini anakmu bu, aku Lea anakmu!" ucapnya seraya terus menangis dan air matanya tak bisa terbendung lagi dan mengalir dengan begitu deras.


Prok prok prok...


Suara tepuk tangan dari arah luar kamar terdengar begitu jelas dan membuat ketiganya menoleh dengan serempak. Nampak seorang lelaki mengarahkan senjata api kearah ketiga manusia yang sedang melepas rindu.

__ADS_1


__ADS_2