
Dua minggu sudah sejak penculikan Rea yang membawa Rea bertemu dengan kedua orang tuanya yang ternyata masih hidup. Kini keadaan sang ibu semakin membaik berkat penanganan medis yang semakin canggih.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu saat ini?" tanya Rea saat memasuki ruangan perawatan sang ibu.
"Sudah sangat baik sayang, apa aku boleh bertemu cucuku? Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya."
"Tentu saja boleh bu, ayo ikut aku keruangan bayi!" ajak Rea kemudian dak mereka pun menuju ruangan bayi.
"Cucu oma, ini oma sama opa sayang," ucap Luna seraya matanya berkaca kaca. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika akan bertemu kembali dengan sang anak dan bahkan kini sudah mempunya cucu,
Hidup sebagai tawanan adik ipar dan keponakannya sendiri selama belasan tahun membuat dirinya tidak pernah punya harapan untuk bisa berkumpul lagi dengan anak semata wayangnya itu.
"Ibu, jangan menangis lagi, sekarang kami semua bersama ibu dan ayah," ucap Rea seraya mendekati sang ibu dan mengusap air mata yang terus mengalir di pipi sang ibu.
"Ibu terlalu bahagia sayang, bisa bertemu kembali dan berkumpul dengan kalian semua." lalu menatap keponakannya yang bernama El, "Terimakasih El, kamu selama ini banyak membantu Lea."
"Sama sama Bibi, sudah sepantasnya aku melindungi sepupuku satu - satunya. Aku juga sama sekali tidak menyangka paman dan bibi yang aku anggap sudah meninggalkan kami untuk selamanya nyatanya masih ada dan sekarang kita bisa bertemu dan berkumpul kembali." Samuel tertunduk mengusap air mata yang mulai menetes.
Sama sekali tidak pernah dirinya bayangkan hidup menjadi tawanan selama belasan tahun dan kadang pasti mendapat perlakuan jahat dan tidak manusiawi dari keluarga Rania. Sebab ia tahu betul bagaimana keluarga itu, hati dan pikirannya sudah dikuasai oleh iri dan dengki. Mereka bisa melakukan segala cara untuk memenuhi ambisinya.
Namun sekarang tak ada lagi yang bisa menghalangi kebersamaan kedua orang tua dan anak semata wayangnya itu. Semua yang melakukan kejahatan telah mendapat balasan, adik laki laki dari sultan pun meninggal akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa tahun silam, Rania dan suaminya itupun kini telah mendekam dibalik jeruji besi untuk selamanya lamanya.
Tidak ada lagi air mata kesedihan. Wajah dari Luna pun terlihat semakin cerah karna kondisinya kesehatan yang sudah semakin membaik dan dokter mengijinkan untuk pulang ke rumah walaupun masih harus menjalani berobat jalan dalam masa pemulihannya.
__ADS_1
"Baiklah ayok kita bersiap untuk pulang!" ajak Firas pada kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya.
Namun tiba tiba wajah Sultan terlihat murung.
"Ayah mertua kenapa? Apa ayah keberatan untuk tinggal di rumah kami?" Tanya Firas kemudian.
"Bikan begitu Fir, hanya saja ayah takut merepotkan kalian semua!" ujarnya pada sang menantu.
"Tidak ada yang keberatan ayah, justru kami sangat senang kita berkumpul bersama di rumah, kita bisa berbagi banyak hal yang telah lama hilang, bukan begitu sayangku?" tanya Firas kemudian pada sang istri.
"Ya, ayah. Suamiku betul, kita memang harus tinggal bersama, aku masih sangat merindukan kalian, banyak hal yang mau aku bagi dengan ayah dan ibu!" sahut Rea akhirnya.
"Jika itu tidak membuat kalian repot baiklah, kami nurut saja," jawab Ayah Sultan.
Mereka pun bersiap untuk menuju ke kediaman keluarga Mahotra.
"Erik, kamu kenapa babak belur begini?" Nilam terkejut melihat kondisi tubuh sang suami yang pulang terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan bonyok dan wajahnya sama sekali tak terlihat bahwa itu adalah suaminya, jika saja Nilam tidak mengenali pakaiannya yang ia kenakan dari saat pergi bekerja.
"Katakan, siapa yang melakukan semua ini padamu?" tanyanya lagi dengan penuh ke khawatiran.
Lelaki itu hanya menatap lekat wajah sang istri sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan membuat Nilam semakin merasa khawatir dan panik.
"Erik, bangun Rik, jangan tinggalkan aku, aku janji akan memperlakukan dengan baik seperti layaknya seorang suami, tapi kamu bangun Rik, aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita! Hiks hiks," ucapnya kemudian seraya terisak.
__ADS_1
"Dokter tolong selamatkan suami saya dokter, aku mohon!" seru Nilam pada dokter yang hendak melakukan penangangan pada sang suami.
"Saya akan melakukan yang terbaik Nona, mohon bersabar dan terus berdoa," sahut sang dokter lalu mempersilakan Nilam untuk menunggu diluar ruangan.
Dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata, wanita itu terus mondar mandir diruang tunggu dengan perutnya yang semakin membuncit.
Tiba tiba saja, ia merasakan sakit luar biasa pada perutnya disertai air yang mengalir dari sela pahanya.
"Suster tolong aku, sepertinya aku melahirkan," teriaknya pada suster yang kebetulan melintas.
Dengan perasaan yang tidak menentu Nilam berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan sang bayi.
Pikirannya yang kalut akan kondisi sang suami membuat ia tak kuasa menahan sakit yang luar biasa dan membuat dirinya pingsan dan dokter terpaksa harus melakukan operasi secar pada wanita itu.
Kini sepasang suami istri itu sedang sama sama berjuang antara hidup dan mati didalam rumah sakit yang sama.
~Selesai~
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kisah Fir dan Lea udah selesai sampai disini. Terima kasih yang udah dukung karya ku. Aku adalah author pemula yang masih harus banyak belajar, jika ada kesalahan dalam menulis kata atau kalimat jangan sungkan untuk mengkritik di kolom komentar ya.
~Bye bye~
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹