Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
Bab 62.


__ADS_3

Setelah dipindahkan keruang perawatan kini semua keluarga Mahotra sedang berkumpul di sana menyambut kehadiran anggota keluarga barunya.


Mereka semua sedang bahagia dan penuh suka cita.


Laudrea benar - benar dikelilingi oleh orang - orang yang begitu menyayanginya.


"Beruntung sekali kamu Rea, mendapatkan suami yang begitu menyayangi dan mencintaimu." Sera membatin dalam hati.


Dirinya merasa malu saat teringat dulu telah berbuat begitu jahat padanya.


"Rea." Sera mendekat pada Rea, "Maaf, aku dulu begitu jahat kepadamu. Walaupun aku tahu, perbuatan ku dulu tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu. Tapi aku ingin membuat hatiku lega dengan terucap langsung kata maaf padamu Rea, maafkan semua kesalahanku yang dulu terhadapmu!" ucapnya dengan raut penuh dengan penyesalan.


Sera benar - benar telah menyesali semua perbuatan jahatnya terhadap Rea. Cintanya yang begitu besar tehadap Rama hingga membutakan hati dan pikirannya sehingga apapun akan dilakukannya demi cinta. Namun cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan. Karna ternyata lelaki yang begitu dicintainya itu hanya memanfaatkannya saja.


"Aku sudah memaafkan mu Sera, semua yang aku rasakan saat ini, secara tidak langsung adalah hasil kerja kerasmu yang telah menggagalkan pernikahanku dengan Daniel, sehingga aku bertemu dengan lelaki yang sangat berarti didalam hidupku," sahut Rea dengan santai, namun justru membuat Sera semakin merasa tertampar.


Entah itu tanda terimakasih atau sekedar sindiran yang pasti semua kata kata yang keluar dari mulut Laudrea benar benar membuatnya merasa semakin malu saja dihadapan keluarga Mahotra.


"Sudah - sudah semua sudah jadi masa lalu, menantuku kesayanganku sekarang sudah bahagia dan terus bahagia apalagi sekarang ada cucuku, bukan begitu Lea?" tanya sang mertua.


"Ya , ibu benar sekarang Firlee diantara kami yang melengkapi kebahagian rumah tangga kami, jadi tidak ada kisah masa lalu yang dulu begitu menyedihkan."


Sultan Firlee Mahotra, nama gabungan antara keluarga sultan dan mahotra dan kedua orang tua itu sendiri yakni Fir dan Lea.


Gimana bagus gak kak reader nama yang author buat jawab di kolom komentar ya hehehe.


Sementara ditempat lain.


Nilam terus saja merasa keram di bagian bawah perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Erik yang sejak tadi memperhatikan Nilam yang terus memegangi perutnya.


"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.

__ADS_1


"Ayolah sayang, turunkan sedikit egomu itu, aku tidak mau terjadi apa padamu dan anak kita, tolong katakan padaku apa yang kamu rasakan. Jangan membuatku terus merasa bersalah karana tidak bisa melakukan apapun saat kamu sedang kesulitan please Nilam beri aku kesempatan!" Erik terus memohon.


"Tapi hatiku sudah mati Erik, jika kamu mau berusaha menghidupkannya lagi, berusahalah aku tidak melarangmu, tapi jangan buat aku jadi bergantung pada dirimu, karna aku sudah memutuskan untuk jadi wanita mandiri!"


"Itu bukan mandiri Nilam, tapi keras kepala!"


"Terserah aku! Mau itu keras kepala atau apa menurutmu, aku tidak peduli!"


"Apa kamu mau membuat anak kita sakit dengan keras kepala dan egoismu itu hah?"


"Tidak ada hubungannya dengan anak kita Rik!"


"Jelas ada Lam, jika kamu membiarkan perutmu terus keram seperti itu sama saja kamu menyakitinya, kenapa dulu tidak kamu gugurkan saja sekalian!" ucapnya Erik yang sudah begitu geram dengan sifat keras kepalanya Nilam.


PLAK


Suara tamparan yang berhasil mendarat pada wajah tampan Erik.


"Lalu apa bedanya dengan sekarang , kamu tak pernah mau mempedulikannya didalam perutmu itu, kamu berbuat semaumu, kamu membiarkan perutnya dengan segala kesakitannya, apa itu namanya jika bukan menyakitinya Nilam Cahya!".


"Dan aku tahu betul saat ini perutmu sedang tidak baik baik saja, tapi kamu membiarkan saja semua itu, bagaimana seandainya terjadi apa apa pada anak kita didalam sana hah?" ucapnya lagi.


"Lalu aku harus bagaimana?" Nilam mulai terisak


Erik mendekat lalu meraih tangan Nilam, " Kita akan ke rumah sakit, memeriksakan kondisimu dan anak kita!"


Sementara Nilam dalam mode bengongnya, Erik tidak membuang kesempatan untuk membimbing Nilam keluar dari Apartemen dan membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


"Kamu, gak pengin makan sesuatu Lam?" tanya Erik memecah keheningan dalam mobilnya.


Nilam hanya menggeleng tanpa sepatah katapun.


Sejujurnya hati wanita itu sampai saat ini masih begitu sakit saat mengingat video betapa brutal Erik sedang mencumbu wanita lin disebuah Club meskipun Erik sudah menjelaskan semuanya secara rinci dak jujur tapi tetap saja.

__ADS_1


Bayang - bayang itu selalu muncul dalam pikirannya.


Mungkin jika dirinya tidak menerima kiriman video itu, akan lebih muda untuknya memaafkan hanya dari kejujuran yang terdengar dari mulut Erik sendiri. Seburuk apapun itu ia akan berusaha memaafkannya.


Hanya saja video yang ia dapatkan dari temannya itu membuat hatinya terasa hancur dan tercabik - cabik. Sungguh semua itu sangat menyakitkan.


Sesampainya disebuah rumah sakit Nilam turun dari mobilnya meninggalkan Erik yang masih berada didalam mobil.


Nilam langsung berjalan menuju ruangan dokter kandungan yang berada tak jauh dari tempatnya parkir, karna memang Erik sengaja memarkirkannya tak jauh.


"Kenapa hatimu jadi sekeras batu Nilam, apa kejujuran dan perubahan sikapku belum cukup membuatmu yakin padaku?" Erik bergumam sambil terus berjalan mengikuti Nilam yang sudah jauh meninggalkannya.


Entah harus dengan cara apalagi untuk membuat wanita itu percaya dan memaafkannya sepenuhnya. Sungguh lelaki itu menjadi semakin merasa bersalah saja.


"Aku tidak akan menyerah Nilam, aku akan berjuang sampai kau benar benar mau menerimaku. Apapun dan bagaimana sikapmu saat ini kepadaku takkan membuatku menyerah," gumamnya lagi.


Lelaki itu tahu bahwa selama ini ia telah banyak memanfaatkan Nilam, mengkhianatinya berkali kali bahkan dulu ia tak punya sedikitpun rasa cinta untuk Nilam, semua yang dilakukan lelaki itu dulu hanya untuk kepuasan dirinya semata.


Mungkin hati Nilam saat ini telah mati itu sebabnya wanita tak sedikitpun mau untuk sekedar disentuh oleh lelaki yang bernama Erik itu.


"Niat gak sih nganterin aku ke dokter, lama banget jalannya!" seru Nilam pada Erik yang masih tertinggal jauh dibelakang sana.


Erik yang seolah mengerti dengan tatapan Nilam dari kejauhan itu lalu mempercepat langkahnya


"Seperti inikah rasanya mencintai seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kehadiran kita?" gumam Erik dalam hati.


Lelaki itu merasa semua yang dilakukan olehnya itu selalu salah di mata wanita itu.


Semakin Erik merasa bersalah, justru Nilam semakin membuatnya tersiksa.


Semua itu Nilam lakukan hanya untuk sedikit memberinya pelajaran agar lelaki tidak lagi mempermainkan hati seorang wanita, apalagi jika wanita itu sangat mencintainya dengan segenap jiwa dan hatinya.


Jauh didalam lubuk hatinya, wanita itu masih sangat mengharapkan kehadirannya, namun terkadang rasa sakit yang ia alami menutup mata hatinya.

__ADS_1


__ADS_2