
Malam ini adalah malam pertama Rea berada di rumah sakit untuk menjaga sang suami.
Firas yang masih saja betah memejamkan matanya membuat Rea malam ini harus menginap di rumah sakit untuk tetap berada di samping sang suami.
Rea terduduk lesu di kursi yang berada di samping tempat sang suami berbaring.
"Fir, bangunlah. Kamu tidak merindukanku??" Rea menyandarkan kepalanya di atas perut suaminya.
"Ya, aku juga sangat merindukanmu Lea."
"Ya, makanya bang......" Rea tidak melanjutkan kata katanya setelah menyadari jika yang bicara itu adalah suaminya yang masih terbaring lalu dengan cepat melihat arah sang suami yang ternyata sedang terkekeh sendiri karna telah berhasil menjahili sang istri.
"Iihhh, ternyata kamu udah sadar ya, kok diam aja dari tadi orang cemas juga ih!" Lea memukul mukul lengan sang suami yang masih terbaring tapi sudah membuka matanya.
Sang suami hanya terkekeh geli sambil terus menatapnya. Satu hari saja tidak melihat sang istri membuat Firas begitu merindukannya.
Firas meraihh tangan sang istri lalu digenggamnya.
"Terima kasih sudah mau berusaha mengingat semuanya, tentang masa kecil kita." dikecupnya punggung tangan sang istri dengan lembut.
"Jadi kamu sudah tahu jika aku adalah gadis kecilmu?" tanya Rea penasaran dan mendapat anggukan dari sang suami.
Kini Rea teringat beberapa waktu lalu saat Firas tiba-tiba saja memeluknya dengan begitu erat. Dan menangis begitu pilu saat itu.
"Sekarang aku ingat beberapa waktu la....."
Firas membekap mulut Rea menggunakan mulutnya.
"Udah jangan diterusin, aku lapar sayang!" ucap Firas setalah berhasil mencuri ciuman pada istrinya.
"Astaga aku lupa, kalau kamu belum makan dari kemarin, tunggu aku akan ke kantin membelikan mu makanan."
Rea berjalan keluar ruangan hendak menuju kantin.
"Kalau jauh gak usah sayang," ucap Firas sedikit berteriak karna sang istri sudah semakin jauh menghilang dibalik pintu.
Rea berjalan menyusuri lorong rumah sakit jalan untuk menuju ke kantin.
Saat dipertengahan lorong ia melihat sosok wanita yang sedang menangis, berjongkok menyender kedinding terlihat wajahnya menunduk kedua tangannya digunakan untuk menutup wajahnya dan terus menangis sesenggukan.
"Mbak, maaf kalo boleh tahu, mbak kenapa menangis sendirian disini?" Rea mencoba bertanya pada wanita itu.
Seketika wanita itu menurunkan kedua tangannya dari wajahnya.
"Nilam!" Rea terkejut bukan main.
Melihat Rea dihadapannya tangisan Nilam semakin pilu dan sendu.
"Lam, kamu kenapa? Kenapa menangis seperti itu?" tanyanya Rea lagi.
__ADS_1
"Aku... A.....aku.. Aku hamil Rea," sahut Nilam disela isak tangisnya dengan suara terbata.
"Apa!, kenapa begitu Lam, siapa pria itu katakan padaku!"
Nilam hanya menggelengkan kepalanya lemah tidak berani untuk memberi tahu Rea.
"Kalau kamu tidak mengatakan siapa dia padaku, bagaimana aku bisa membantumu Lam, cepat katakan padaku!" ucap Rea lagi.
"E.. Erik, dia Erik." Nilam menundukkan wajahnya malu.
"Dia harus bertanggung jawab dengan semua ini! Kamu tenang saja aku akan membantumu."
"Terima kasih Rea," Nilam memeluk Rea.
"Kamu kenapa ada di rumah sakit? Siapa yang sakit Rea?" tanyanya seraya menghapus sisa sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
"Fir sedang... Astaga!" Rea menepuk jidatnya kala mengingat sesuatu.
"Kenapa Rea?" tanya Nilam heran.
"Aku mau ke kantin beli makanan untuk suamiku Lam," sahut Rea seraya menarik tangan Nilam untuk mengikutinya.
Rea jalan tergopo dengan menarik tangan Nilam yang mengekor dibelakangnya.
Setelahnya Rea kembali ke ruangan sang suami dirawat.
"Fir," panggilnya dengan panik. Mencarinya kedalam kamar mandi tapi tidak ada siapapun di sana.
"Fir, kamu dimana?"serunya lagi.
Saat bersamaan pintu terbuka dan muncul sosok Firas dengan wajah yang begitu panik.
"Sayang, kamu darimana?" tanya Rea pada Firas.
"Kamu yang dari mana saja, aku mencarimu kemana-mana tapi tidak menemukanmu. Darimana kamu?" Tanyanya dengan raut wajah panik.
"Lah, aku kan dari kantin beli makanan untukmu." Rea menunjukan kantong makanan yang masih tergantung ditangannya.
"Tapi kau tidak ada di sana!" ucap Fir lalu melirik seorang wanita yang kini juga berada di ruangannya.
"Ah, dia Nilam teman lamaku, aku tidak sengaja bertemu dengannya di lorong rumah sakit ini saat hendak ke kantin tadi Fir," tuturnya pada Firas.
"Jangan ulangi lagi, aku sangat takut kehilanganmu sayang." Firas memeluk sang istri dengan begitu erat dan penuh rasa takut.
"Kamu tidak akan kehilanganku Fir, aku tetap bersamamu selamanya." Rea membalas pelukan sang suami, lalu berbisik di telinganya. "Lepaskan aku Fir, kita tidak sedang berdua disini."
"Aku akan melepaskan mu setelah kamu berjanji tidak akan seperti itu lagi!"
"Iya aku janji, aku minta maaf karna telah membuatmu khawatir."
__ADS_1
Melihat pemandangan didepan mata membuat Nilam teringat kekasihnya yang kini malah menghilang entah kemana saat mengetahui kehamilannya.
Wanita itu kembali meneteskan air matanya.
Sesak di dadanya kembali terasa. Entah apa yang harus ia katakan kepada kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang selama ini menjamin kehidupannya.
Wanita itu mengusap air matanya yang terus mengalir deras lalu menatap dua manusia yang masih enggan melepaskan pelukannya itu.
Aku ikut senang Rea, akhirnya suamimu sekarang sangat menyayangimu. Kamu pantas mendapatkan semua itu, kamu wanita berhati baik. Aku tahu rasa sakit yang kamu rasakan saat kehilangan Daniel. Dan kini semua sudah tergantikan dengan lelaki yang begitu mencintai dan menyayangimu.
"Ehem!" Nilam sengaja berdehem untuk menyadarkan dua orang dihadapannya.
"Ah Nilam maaf aku melupakan keberadaan mu."
Rea berkata seraya melepaskan diri dari dekapan sang suami dan terlihat malu malu
"Tidak apa Rea , aku ikut bahagia. Akhirnya kini kamu menemukan kebahagiaan dan cinta yang sesungguhnya dari suamimu."
"Rencana tuhan memang lebih indah Lam."
"Kalau begitu, aku pamit ya terima kasih."
"Emang kamu mau kemana Lam?"
Lalu Nilam menceritakan bahwa sebenarnya dirinya sedang mendapatkan perawatan karna kondisinya yang lemah setelah mengetahui kehamilannya memaksa ART nya untuk pulang ke desa dengan alasan ingin mencari ketenangan di desa tempat pembantunya tinggal, namun ia mengabaikan pola makan dan tidurnya yang tidak teratur sampai akhirnya ia drop dan dibawa oleh pembantunya ke rumah sakit ini.
"Astaga Nilam, jadi kamu sedang dirawat, lalu tadi kenapa ada di lorong gelap dan menangis sendirian?"
Percakapan mereka terputus saat dua orang perawat memasuki ruangan Firas.
"Apa wanita itu yang anda cari?" tanya salah satu perawat pada seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Mbak Nilam! Saya cari cari dari tadi, ternyata ada disini," ucap seorang wanita yang merupakan ART dari Nilam.
Nilam hanya nyengir tanpa dosa telah membuat sang ART nya itu kelabakan. Lalu Nilam pamit pada Rea dan Fir untuk kembali ke kamarnya tersebut.
"Lam, kalau ada apa apa hubungi aku ya."
"Ya Rea, nanti aku akan telpon kamu, terima kasih untuk malam ini."
Rea hanya mengangguk.
Rea sama sekali tidak menyangka jika Nilam dan Erik ternyata hubungannya sudah sangat jauh, bahkan kini Nilam sedang Hamil anak dari lelaki yang bernama Erik itu.
Rea menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Nilam sendiri. Ia terus berpikir sejak kapan mereka berdua melakukan hubungan diluar nikah.
Yang ia tahu temannya yang bernama Nilam adalah perempuan baik-baik yang tidak mungkin melakukan semua itu. Tapi nyatanya ia salah.
Rea mendesah pelan.
__ADS_1