Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
40.Kembali Menghangat


__ADS_3

Jam tiga sore, waktunya para staff dan karyawan kantor untuk pulang kerumahnya masing - masing.


Sore ini Firas yang merupakan pimpinan sekaligus pemilik perusahaan itu menyuruh semua pegawainya untuk tidak melakukan kerja lembur seperti biasanya.


Bahagia seketika menyelimuti hati semua pekerjanya saat pertama kalinya mereka tidak bekerja lembur. Walaupun upah lembur yang didapatkan para pekerja itu tidaklah sedikit, tapi mereka tetap saja ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya masing - masing.


Semua karyawannya itu bersorak gembira di dalam hatinya. Mereka pun bertanya-tanya dalam hati Tentang perubahan yang tiba-tiba terjadi pada pemimpin perusahaan tempat mereka bekerja. Tidak biasanya mereka pulang secepat ini tanpa ada lembur di hari itu.


"Oh senangnya aku, akhirnya aku bisa jalan - jalan dengan Kekasihku." ucap salah satu staf wanita.


"Kau benar sudah lama sekali kita tidak menikmati waktu sore seperti ini," timpal salah seorang staff pria.


"Kira-kira apa ya yang membuat bos kita Berubah seperti sekarang ini?"


"Sudah yuk jangan bergosip kamu mau apa disuruh lembur?"


"Enggak lah aku kan mau jalan-jalan sama Kekasihku."


Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dalam benak mereka semua.


Mereka meninggalkan kantor dengan suasana hati yang begitu ceria.


Firas berjalan memasuki ruangan Laudrea.


Sebelum memasuki ruangannya ia berusaha mengatur detak jantungnya yang kini tidak beraturan menurutnya.


"Ayo Fir kendalikan dirimu. Jangan sampai kamu terlihat seperti pria bodoh di depan gadis kecilmu itu." Firas terus berkata dalam hati.


Lalu ia pun membuka pintu ruangan sang istri. Nampak sang istri masih sibuk dengan pekerjaannya. Tumpukan berkas yang masih begitu menggunung di atas mejanya.


Firas berdehem menetralkan kondisi hatinya.


"Hai, istriku Ini sudah waktunya untuk pulang." Ucapan Firas mengejutkan Rea.


"Ah ini masih sore baru jam segini."


"Memangnya kenapa? Bahkan semua karyawan di sini juga sudah pulang ke rumahnya masing-masing."


"Hah Benarkah? ini baru jam 03.00 sore loh," ucapnya heran.


"Iya aku menyuruh mereka untuk pulang. Aku tahu mereka selama ini butuh waktu untuk keluarganya masing-masing atau bahkan mungkin ada yang ingin pergi dengan kekasihnya."


"Heh, Sejak kapan kau peduli dengan para pekerja mu. Bukankah bagimu waktu adalah uang?" tanya Rea heran.


"Itu kan dulu sayang mulai hari ini keluarga adalah segalanya."


"What! apa aku tidak salah dengar?" Rea masih belum mengerti tentang perubahan Firas yang secara tiba-tiba.


Bahkan sejak kejadian tadi siang Iya terus memikirkannya. Iya terus teringat tentang suaminya yang menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Sudah jangan banyak bicara rapikan berkasmu kita akan segera pulang. Atau kau ingin lembur sendirian di kantor ini?"


"Tentu saja tidak, aku akan segera membereskan semuanya tunggu sebentar!"


Rea pun beranjak mengemasi berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya. Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada suaminya kenapa dia jadi begitu hangat padanya bahkan menyuruh seluruh karyawannya untuk pulang cepat hari ini.

__ADS_1


Firas terus menatap istrinya. Saat ini hatinya sedang berbunga-bunga. Dia merasa sangat bahagia karena telah menemukan gadis kecilnya.


Seperti Inikah Rasanya bahagia. Ia sangat berterima kasih pada Tuhan. Karena telah diberi kesempatan untuk bertemu seseorang yang paling sangat dia cintai. Seseorang di masa kecilnya, gadis kecilnya. Leanya.


Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam hatinya. Hangat, ya hatinya kembali menghangat.


Gunung es yang selama ini bersemayam dalam hatinya telah mencair. Ia kembali menjadi FIras kecil yang penuh kehangatan dalam hatinya.


Seandainya saja gadis kecilnya itu tidak hilang ingatan dia akan sangat lebih bahagia.


Ditatapnya sang istri yang sedang mengemasi barang-barang yang ada di atas mejanya. Setiap gerakannya tidak luput dari pandangan Firas.


Jangan lupakan senyuman di bibirnya yang terus Terukir. Sehingga membuat ketampanannya begitu terlihat sempurna.


Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan percaya Jika Firas yang dulu begitu dingin dan kaku sekarang telah menjadi manusia yang hangat, manusia yang sesungguhnya.


Ups bukan kah Dari dulu Firas itu manusia ya. Ya dia memang manusia tapi semacam manusia salju karena sikap dinginnya yang selalu mendominasi. Namun sekarang tidak ada lagi sikap dingin pada dirinya.


Urat wajahnya yang selama ini tegang dan kaku kini sudah melembut. Bersama hadirnya gadis kecilnya yang bernama Lea.


Lea adalah segalanya. Lea adalah hidupnya. Lea adalah jiwanya. Dunianya seketika hancur saat ia tidak mendapatkan gadis kecilnya beberapa tahun lalu.


"Sudah selesai istriku?"


"Sudah Fir."


"Baiklah Ayo kita pulang." Firas menggenggam tangan sang istri.


Mereka berjalan menuju mobilnya.


"Cih kamu bersikap begitu manis pada Rea hanya untuk menutupi sesuatu yang belum diketahui olehnya." Gerutu Leon di dalam mobil.


"Jangan terlalu terbuai dengan sikap manisnya Rea. Jika kamu tidak mau merasa sangat sakit nantinya." Gerutunya lagi.


"Aku tidak melihat Leon di mana dia?" Tanya Rea.


"Dia pulang duluan tadi katanya ada urusan. Entahlah urusan apa. Kenapa apa kau merindukannya?" Tanyanya dengan posesif.


"Bukan begitu, hanya saja terasa aneh biasanya kan kita bertiga."


"Sudah jangan banyak bicara pakai sabuk pengaman mu."


"Baiklah."


Kenapa hari ini dia terlalu banyak bicara ya Tidak seperti biasanya. Ada apa dengannya.


Melihat perubahan sikap Firas membuat Rea terus bertanya-tanya heran.


Sikapnya tiba-tiba menjadi aneh menurutnya.


Padahal dia sudah terbiasa dengan sikap dingin suaminya itu.


Rea menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan suaminya yang secara tiba-tiba.


Ya Tuhan Semoga ini bukan pertanda buruk dalam pernikahanku.

__ADS_1


Dering ponselnya menyadarkannya dari lamunan.


"Halo Erlan ada apa? Aku sedang perjalanan pulang?"


"Yah padahal aku mau menjemputmu."


"Tidak perlu Erlan, aku sudah bersama suamiku."


"Bagaimana mengenai reuni itu apakah kau akan datang?"


"Ah ya aku hampir saja lupa. Terima kasih sudah mengingatkanku."


"Sama-sama Rea, kamu akan datang kan?"


"Ya akan aku usahakan."


"Oke, see you tomorrow bye."


"Bye."


Tut tut tut.


Panggilan terputus.


Jangan lupakan tatapan Firas ya begitu tajam.


"Kenapa pria itu sering sekali menelpon mu. Ada hubungan apa kau dengannya?" Firas bertanya dengan begitu marah.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Dia menelpon ku hanya menanyakan apakah aku akan datang di reuni besok. Lagian kau juga mendengarnya, kenapa kau begitu marah?"


Rea menundukkan wajahnya.


"Maaf aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya tidak mau ada pria lain yang menelpon mu. Maafkan Aku."


Firas menepikan mobilnya. Diraihnya dagu sang istri yang sedang menunduk sedih. Ia menyesal telah memarahinya.


"Maafkan aku, aku janji tidak akan melakukannya lagi."


Cup


Firas mengecup bibir sang istri yang sedang terlihat manyun.


Kecupan itu semakin lama semakin menuntut, apalagi mendapat balasan dari sang istri membuat Firas semakin terpancing. Ia terus ********** hingga saling merasakan geleyar aneh pada tubuh sepasang suami istri tersebut. Mereka berhenti saat merasa sudah kehabisan napas.


"Apa tamu bulanan mu sudah pergi?"


Rea hanya mengangguk malu.


Berbeda dengan Firas yang begitu antusias.


Ia melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya dengan kecepatan penuh. Beruntung hari itu jalanan agak lengang.


"Pelan - pelan Fir!" tegur Rea.


"Aku sudah tidak sabar Rea, lihat bahkan junior sudah terbangun." Firas menunjuk bagian intimnya yang telah mengeras.

__ADS_1


"Dasar mesum!" seru Rea seraya tersenyum malu - malu hingga wajahnya memerah.


__ADS_2