Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
53. Siapa Lelaki itu


__ADS_3

Saat ini Fir dan Rea telah sampai di sebuah Mall terbesar di kota itu.


"Pak, barang yang aku pesan minggu sudah selesai?" tanya Fir pada salah satu pemilik toko Perhiasan.


"Sudah, tuan. Tunggu sebentar akan saya ambilkan," sahut pemilik toko itu dengan antusias.


Tak lama kemudian pemilik toko tesebut menyodorkan sepaket perhiasan berlian asli.


Rea terperangah dan menganga melihat indah gemerlap cahaya berlian yang begitu mengalihkan dunia.


Sungguh begitu berkilau.


"Lea sayang, aku akui bahwa aku memang tidak seromantis sang romeo kepada julietnya, tapi aku harap kamu menyukai pemberianku ini," ucap Firas seraya menyodorkan sepaket lengkap perhiasan yang terbuat dari berlian asli.


Mata wanita itu sampai berkaca kaca dengan perlakuan manis sang suami.


"Fir, bagiku ini lebih dari sekedar romantis. berlian ini pasti harganya sangat mahal Fir," sahut wanita itu seraya meneteskan air mata harunya.


Sungguh tidak pernah menyangka jika pernikahan yang dulu terjadi hanya karena sebuah reputasi keluarga, kini menjadi sebuah pernikahan yang begitu indah karna ternyata lelaki yang ia nikahi dulu adalah cinta dimasa kecilnya.


"Hanya memberikan sepaket perhiasan untuk istriku tercinta tidak akan membuat perusahaan ku bangkrut sayang, bahkan kamu boleh membeli sebanyak yang kamu mau!" Firas mengusap air mata sang istri yang terus mengalir.


Sungguh perlakuan manis seorang Firas membuat wanita manapun merasa iri melihatnya.


"Sungguh beruntung wanita itu mendapatkan suami sepertinya," ujar salah satu pelayan toko tersebut.


"Ya kau benar, aku sampai meleleh melihatnya," timpal pegawai yang lainnya.


"Ya ampun, boleh tidak sih aku menghayal sedikit."


Dan masih banyak lagi bisik bisik tentang sepasang suami istri tersebut.


Firas Memasangkan perhiasan-perhiasan tersebut.


Pertama ia memasangkan kalungnya. Lalu sepasang antingnya. Kemudian gelangnya. Dan terakhir cincinnya.


Firas menyematkan cincin berlian tersebut pada jari manis sang istri dengan perasaan yang tidak bisa diartikan dengan kata kata.


Sesaat ia termenung, saat teringat pada hari pernikahannya dulu, dimana dirinya dulu begitu membenci wanita itu. Tanpa ia tahu jika ternyata wanita itu adalah gadis kecilnya yang selama ini dicarinya.


Firas kembali mengingat rentetan peristiwa yang pernah menimpa istrinya saat itu. Saat dirinya belum tahu siapa sesungguhnya istrinya saat itu.


Air matanya menggenang di pelupuk mata lelaki itu.


"Maafkan aku yang baru sempat menyematkan cincin Di Jari manismu ini." Ucap Firas dengan penuh penyesalan karna disaat pernikahannya dulu ia tak bersedia menyematkan cincin pernikahan itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Fir. Tidak tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik." sahut Rea seraya terus menatap cincin yang kini telah tersemat indah di jari manisnya.


Air matanya terus menetes. Sungguh ia merasa menjadi wanita yang paling bahagia saat ini.


Dirinya sama sekali tidak menyangka Jika hubungan pernikahannya akan sampai di tahap ini.


Pernikahan yang dulu terjadi anakannya hanya karena sebuah reputasi keluarga. Nyatanya kini menjadi sebuah pernikahan yang sangat harmonis.


Tuhan tidak pernah salah. Tuhan selalu punya rencana yang indah, untuk membuat hambanya bahagia.


Dulu nasibnya begitu menyedihkan. Saat mendapati kabar kekasihnya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya.


Lagi-lagi air mata itu mengalir di sudut matanya. Wanita itu tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan. Atas semua yang terjadi didalam pernikahannya Saat ini.


"Terima kasih sayang. Kamu adalah. Lelaki terbaik yang aku punya. Dan selamanya akan menjadi yang terbaik dalam hidupku. Terima kasih untuk semuanya." Wanita itu memeluk erat sang suami.


"Sama-sama sayang. Itu hanya sebagian kecil dari rasa sayangku terhadapmu." Lelaki itu kemudian memeluk pinggang istrinya posesif.


"Ayo kita keliling Mall," Ajaknya Kemudian pada sang istri.


"Pak terima kasih. Karena istriku sangat menyukainya," Ucapnya sebelum meninggalkan toko tersebut.


Firas memesan Perhiasan itu atas rekomendasi dari sang pemilik toko. Itulah sebabnya saat sang istri terlihat begitu Menyukainya. Iya mengucapkan. terima kasih Pada sang pemilik toko.


Hingga menjelang petang, Fir dan Rea baru saja kembali kerumahnya.


Memasuki rumah dengan beberapa paper bag pada tangannya.


Sementara ditempat lain.


Plakk


Terdengar suara tamparan yang begitu nyaring.


"Katakan! Siapa lelaki biadab itu?!" tanyanya lagi.


Entah sudah berapa kali sang ayah menanyakan hal yang sama terhadap putrinya yang semata wayangnya bernama Nilam.


Namun sepertinya Nilam begitu enggan menyebutkan nama lelaki yang telah membuatnya hamil.


Ayahnya sudah sangat geram dengan kebisuan Nilam, entah karna alasan apa sehingga dirinya tidak mau membuka mulut dan mengatakan tentang lelaki yang sudah menghamilinya itu.


"Katakan Nilam, jika kau masih bungkam jangan pernah menganggap diriku ayahmu!"


"Sabar pa, " bujuk sang istri.

__ADS_1


"Sabar yang bagaimana lagi ma, aku benar benar menyesal telah memberi kebebasan dan memberinya uang walau dia sudah bekerja!" ucap Noto dengan begitu geramnya.


"Urus anakmu itu, jangan sampai tidak mau mengatakan siapa ayah dari bayi didalam kandungannya itu!" Noto pergi meninggalkan anaj dan istrinya diruang tengah rumahnya.


Nilam terus menangis sesenggukan sembari memegang pipinya yang terlihat memar karna beberapa kali mendapat tamparan dari sang ayah.


"Nilam, lihat mama nak!" titahnya pada sang anak.


Wanita yang sedang hamil muda itu mendongakkan kepalanya menatap sang mama.


"Beritahu mama, siapa lelaki itu?"


"Percuma saja ma, dia sudah tidak ada disini," dengan nada terbata Nilam membuka suara.


"Ayahmu bisa mencarikannya nak, kau jangan lupakan siapa ayahmu itu!"


Wanita itu mengusap air mata yang mengalir di pipi anak perempuannya itu dengan penuh kelembutan.


"Sekarang katakan sama mama, sayang. Siapa laki laki itu?"


"Erik Darmawan ma, tapi lelaki itu sudah pergi entah kemana ma!" ucap Nilam ditengah isak tangisnya.


"Dimana selama ini lelaki itu tinggal?"


"Di apartemenku ma, kami menyicil sebuah apartemen dan dia yang menempatinya. Tapi setelah tahu aku sedang hamil dia pergi entah kemana ma."


Sang mama menghela nafas kasar. Seraya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.


Sama sekali tidak menyangka jika anak perempuannya telah berbuat sejauh itu terhadap seorang lelaki.


Wanita itu merasa gagal mendidik anaknya. Gagal memberikan yang terbaik untuk sang anak.


Ternyata terkadang omongan orang itu benar bahwa Uang bukanlah segalanya.


Entah apa yang akan ia katakan kepada suaminya. Jika suaminya mengetahui semua itu sudah pasti akan semakin murka pada sang anak.


"Ya sudah sekarang kamu masuklah ke kamarmu. Bersihkan dirimu. Dan segeralah istirahat," titah sang mama yang sebisa mungkin sedang menahan emosinya agar tidak meluap pada anak perempuan semata wayangnya itu.


Setelah kepergian Nilam, Meli terisak karena merasa telah gagal menjadi seorang ibu.


Dadanya terasa begitu sesak seperti ada bongkahan batu besar yang sedang menindihnya. Wanita itu terus memukul dadanya sendiri. Hatinya begitu hancur melihat kenyataan didepan mata yang dibuat oleh sang anak.


"Lihat! Semua karna kamu yang selalu memanjakannya Mel, jika saja kamu selalu mendengar perkataanku, semua ini tidak mungkin terjadi!" Tunjuk Noto.


Marah, kecewa kini berkecamuk didalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2