Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
52. Salah Masuk


__ADS_3

"Erik!!!! Teriakan Nilam menggema saat melihat sepasang manusia yang sedang melakukan olahraga ranjang di atas sofa yang tepat berada di depan pintu.


Sepasang manusia itu terkejut lantas mencari - cari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang sudah sama - sama polos itu.


"Siapa kau, kenapa bisa masuk ke apartemenku?" tanya lelaki itu dengan wajah marah bercampur malu.


"Kalian yang siapa? Ini apartemenku. Kenapa kalian berada disini? lagi mesum pula!" cercah Nilam


"Jaga bicaramu nona, ini apartemenku!" hardik lelaki itu.


Seketika Nilam terdiam dan mengedarkan pandangan keliling ruangan.


"Sudah kau amati dengan jelas?" sungut pria itu lagi pada nilam.


Nilam menganggukkan kepalanya lalu menunduk. Sungguh ia merasa sangat malu karna kecerobohannya itu.


Ternyata Nilam salah masuk apartemen. Apartemen itu bukanlah miliknya.


"Maafkan aku, tapi ini juga salah kalian! anu - anu tapi gak dikunci pintunya!" keluh Nilam yang lantas berbalik badan dan pergi meninggalkan sepasang kekasih itu dengan perasaan malu yang teramat sangat.


Sementara didalam sana sepasang kekasih itu sedang ribut dan saling menyalahkan karna lupa mengunci pintu.


Nilam terus mengutuk kebodohannya. Bisa bisanya ia salah masuk apartemen dan sialnya lagi ia harus melihat sepasang kekasih itu sedang asik bercinta.


Ia kembali mengingat Erik kekasihnya.


Perlahan tangan itu membuka pintu unit miliknya.


Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Kosong.


Hanya ada kekosongan, lagi lagi ia tidak mendapati lelaki yang ia cari.


Wanita malang itu mendesah kasar.


Cukup Nilam! tak ada lagi yang bisa kau harapkan dari lelaki brengsek yang bernama Erik itu. Apapun yang terjadi bukan semata - mata karna kesalahan dari lelaki itu.


Jika saja dulu kau bisa menjaga dirimu dan milikmu yang paling berharga itu, kejadian ini tidak akan pernah kau alami.


Setelah bermonolog dalam hati Nilam menarik nafas dalam dalam dan mencoba menenangkan hatinya.


Karna apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan, waktu tidak akan terhenti sampai disini walau kau memohon dan bersimpuh sekalipun.


Seberat apapun hidup ini, harus tetap dijalani kan?


"Ya aku harus bicara sama mama, aku tidak peduli hukuman apa yang nanti akan aku terima nantinya!"


Nilam nampak menelpon seseorang.


...****************...


"Fir, kau mau kemana?" tanya sang istri kala melihat suaminya telah rapih pagi itu.


"Ke kantor sayang, kau mau ikut atau mau di rumah?"

__ADS_1


"Emang boleh aku ikut?"


"Tentu saja sayang."


"Baiklah, aku akan ikut. Apa Leon sudah pergi?"


"Ya pagi pagi sekali!" tuturnya kemudian.


"Aku ganti baju dulu Fir," ucapnya seraya berjalan menuju kamarnya.


Setelah berganti pakaian sepasang suami istri itupun segera pergi.


Setibanya di kantor nampak Leon dan Daniel sedang dengan salah seorang yang akan bekerja menggantikan Daniel di perusahaan itu.


"Kak, dia Zico yang akan mengambil alih pekerjaanku. Semua CV dan data diri lengkap sudah aku cek dan semuanya asli." Daniel mengenalkan lelaki itu pada sang kaka.


Zico menatap kagum pada Rea bahkan nyaris tidak berkedip.


Cantik sekali wanita ini. gumamnya dalam hati.


Mendapati sang istri ditatap seperti itu membuat Firas seketika meradang dan menjadi cemburu.


"Jika kau berniat bekerja disini, bekerjalah dengan baik. Aku tidak mau kau melakukan kesalahan apapun." ucap Firas seolah sedang memberi peringatan pada lelaki yang saat ini masih menatap kagum pada istrinya


Lelaki itu tersadar dan dengan cepat menjawab ucapan Firas. "Baik Tuan, saya akan bekerja dengan baik disini," sahut lelaki itu seraya menundukkan pandangannya


Firas mendesah pelan.


Sikap posesif dalam dirinya mulai nampak. Ia tidak suka wanitanya dilirik oleh siapapun tanpa terkecuali.


"Leon kau urus saja!" titahnya pada Leon.


"Ya, Fir. Kau tenang saja urusan itu akan menjadi urusanku," Sahut Leon yang sudah sangat tahu dengan sikap sepupunya itu.


"Sayang, kamu mau makan sesuatu?" Ucap Firas seakan ingin menunjukan pada lelaki itu jika wanita yang dia tatap dengan tidak berkedip itu adalah miliknya.


"Tidak Fir, perutku masih penuh," jawab Rea seraya mendudukkan dirinya pada sofa yang berada di ruangan tersebut.


Firas menarik tangan sang istri dan membawanya keluar dari ruangan. Membiarkan Leon dan lelaki itu menyelesaikan pekerjaannya.


"Fir, Kita mau kemana?" tanya Rea bingung.


Firas hanya diam dan terus membawa istrinya menuju parkiran mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Rea lagi


"Kita ke suatu tempat, aku ingin membelikan mu sesuatu!" sahut Firas setelah selesai memasang sabuk pengaman sang istri lalu beralih ke sabuk pengaman miliknya.


"Oh ya, apa itu?" tanya sang istri antusias.


"Lihat saja nanti, aku yakin kamu pasti akan menyukainya."


Firas terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun setelah setengah perjalanan ia mengalami kemacetan yang begitu panjang dan membuat Firas kesal.


Firas yang merasa sudah tidak sabar lagi mencoba untuk turun dari mobilnya. Lalu menanyakan pada orang dari arah yang berlawanan.

__ADS_1


"Apa yang menyebabkan terjadi kemacetan seperti ini?"


"Seseorang memarkirkan mobilnya ditengah jalan tuan, sepertinya sedang berkelahi didalam mobil dengan sang istri tapi tidak ada yang berani melerai karna lelaki itu membawa senjata api!"


"Baiklah, terima kasih informasinya."


Firas kembali memasuki mobilnya. Dan berniat memutar balik arah kendaraannya. Namun saat melihat kebelakang yang juga sudah mulai macet iapun mengurungkan niatnya.


"Ada apa Fir?" tanya Rea memastikan.


"Ada orang bertengkar didalam mobilnya tapi menghentikan mobilnya ditengah jalan,"


"Apa tidak ada polisi lalu lintas yang berjaga dan mencoba menertibkannya."


"Sepertinya tidak ada sayang."


Akhirnya ia pun pasrah karana tidak ada yang bisa dilakukannya lagi.


Selang satu jam kemacetan berangsur berkurang. Firas melajukan kembali mobilnya.


jarak beberapa meter ia tidak sengaja melihat sosok wanita yang begitu ia kenal dan wanita itulah yang menjadi pelaku percobaan bunuh diri.


"Riana! Betulkah itu Riana?"


Firas menepikan mobilnya demi memastikan bahwa wanita itu adalah Riana.


"Fir, kamu mengenalnya?"


"Ya aku mengenalnya, wanita itu yang pernah aku tolong saat diluar negeri," tutur Firas pada sang istri.


Firas keluar dari mobilnya lalu menghampiri wanita tersebut.


"Riana! Apa yang terjadi?"


"Fir, lelaki itu..." Wanita itu tidak meneruskan kata katanya kala melihat Rea yang juga turun dari mobil Firas.


"Fir, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?" tanya sang istri yang tidak tega melihat keadaan wanita itu yang terlihat begitu kesakitan.


"Bukan seperti itu sayang, hanya saja..." Firas nampak berpikir sejenak.


"Tidak usah Fir, pergilah! Jangan pedulikan aku. Jangan sampai kau terkena masalah karna menolongku!" ucap wanita itu seraya menatap lekat pada Rea yang juga sedang menatapnya.


Apa wanita ini yang selalu Firas ceritakan dulu, jadi dia sudah menemukan gadis pujaannya. Beruntung sekali wanita ini telah dicintai dengan begitu besar oleh pria seperti Firas sedangkan aku, bahkan suamiku sendiri ingin membunuhku. Wanita itu tersenyum miris pada dirinya sendiri.


Firas nampak menimbang nimbang lalu akhirnya memutuskan untuk pergi saja.


"Maafkan aku Riana!"


"Ayo sayang kita pergi!" ajaknya pada sang istri.


"Tapi Fir, wanita itu?"


"Wanita itu sudah biasa seperti itu, dia bertengkar dengan suaminya biarkan saja! Aku tidak mau ikut campur dengan masalah rumah tangganya." Ucapan Firas terdengar begitu kesal.


Rea mengernyitkan alisnya, merasa penasaran tentang wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2