Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
41. Menjadi istri Seutuhnya


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang paling panjang untuk sepasang pengantin yang baru saja melakukan malam pertama setelah beberapa bulan pernikahannya.


Setelah beberapa kali mereka melakukan aktivitas ranjang panasnya kini keduanya merasakan lelah yang teramat sangat.


sepasang suami istri itu tertidur dengan lelapnya. Saling memeluk seakan tidak ingin terpisahkan lagi.


Kini Laudrea telah menjadi istri seutuhnya dari lelaki yang bernama Firas Mahotra.


Pernikahan yang terjadi karna sebuah reputasi keluarga kini telah menyatukan cinta yang sebenarnya telah ada diantara keduanya. Begitu banyak drama yang harus dilalui pada hubungannya. Namun akhirnya semua telah berhasil mereka lalui.


...****************...


Pagi pun menyapa. Matahari mulai menampakkan sinarnya.


Rea membuka matanya perlahan, Tangannya meraba-raba kasur didepannya.


Kosong.


Tak ada apapun yang bisa ia temukan di sisinya.


Ia pun mulai berpikir apa semalam yang terjadi itu hanya mimpi.


Kemudian ia meraba tubuhnya sendiri yang masih terbalut selimut.


Tak memakai sehelai benangpun tubuhnya hanya terbalut oleh selimut.


"Bukan mimpi," gumamnya.


"Lalu ke mana dia?"


Iya bangkit lalu mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Dilihatnya jam pada layar ponselnya.


Betapa terkejutnya saat ia melihat jam yang sudah menunjukkan pada angka 11 siang.


Dengan cepat ia bergegas dari pembaringannya.


"Aw sakit!" Keluhnya kemudian.


Rea merasakan sakit yang luar biasa pada bagian intimnya.


"Kenapa Rasanya sakit sekali sih?"


Rea membaringkan kembali tubuhnya. Ia tidak akan sanggup berjalan walau hanya sekedar pergi ke kamar mandi.


Saat sedang merintih kesakitan tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


"Fir!" panggilnya.


Firas mendekat pada sang istri.


"Kamu mau ke kamar mandi?" Tanyanya dengan lembut.


"Iya tapi aku tidak bisa berjalan!" Keluhnya manja pada sang suami.


"Aku akan membantumu, Tunggu aku akan siapkan dulu air hangatnya."


Firas berjalan ke kamar mandi, dan akan menyiapkan air hangat untuk istrinya membersihkan diri.


Setelah air hangat itu siap Firas kembali ke kamar. Menghampiri sang istri, menggendong tubuh polos sang istri memasuki kamar mandi.


Tidak hanya itu tapi ia juga membantu istrinya membersihkan tubuhnya. Menggosok punggungnya, rambutnya, dan seluruh inci tubuhnya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.

__ADS_1


"Terima kasih." bisiknya di telinga sang istri.


"Terima kasih untuk apa Fir?" Rea bertanya sambil terus meringis kesakitan. Karna bagian organ intimnya yang masih terasa sangat perih.


"Terima kasih kamu telah menjaganya untukku. Sehingga aku menjadi pria pertama yang menyentuhmu"


Kini hembusan nafas dari mulut Firas terasa menyapu wajah Rea. Hingga membuat tubuhnya kembali terasa meremang.


"Apakah menginginkannya lagi?" Tanya Firas seolah dia mengerti apa yang dirasakan Rea saat ini.


"Tidak Fir, ini saja masih terasa sangat sangat sakit." Sahut Rea dengan sedikit malu - malu.


"Percayalah untuk kali ini tidak akan sesakit semalam hm?"


Firas kembali mencumbu mesra seluruh tubuh sang istri.


"Hentikan Fir, aku belum siap melakukannya lagi."


Firas hanya tersenyum lalu menghentikan aktivitasnya.


"Baiklah kali ini aku mengalah untukmu!"


"Tapi tidak untuk besok dan seterusnya."


"Apa kau mengerti istriku?"


Sang istri hanya menanggapinya dengan senyuman tipis di bibirnya.


Kini Firas membantu Rea berdiri dari bathUb.


"Bisa jalan? Jika tidak aku akan menggendongmu lagi!"


"Baiklah kalau begitu aku akan memapah mu saja."


Rea pun berjalan memasuki kamarnya dengan di papah sang suami.


Berdiri di depan cermin.


"Aaaaaaaaaaa," Rea berteriak karna kaget saat melihat lehernya penuh dengan jejak merah nyaris tak berjarak.


"Kenapa kamu berteriak seperti itu?"


"Kamu masih bertanya kenapa aku teriak? Lihat Leherku Bahkan tak ada celah sedikitpun. Bagaimana aku pergi bekerja kalau seperti ini?"


"Memangnya siapa yang mengizinkan mu pergi bekerja hem?"


"Apa kau tidak melihat jam sekarang ini sudah jam 11.00 siang."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku yang sudah menumpuk itu?"


"Tenang saja Daniel sudah kembali. Dia yang akan mengerjakan semuanya."


"Apakah itu berarti Ibu juga sudah kembali?"


"Ibu sedang menunggu menantu kesayangannya untuk turun."


Jelas aja menjadi menantu kesayangan la wong menantunya cuman satu. Entah bagaimana nanti ketika Daniel sudah menikah. Apakah ia masih akan tetap menjadi menantu kesayangan. Batinnya.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi menantu kesayangan ibu." Ucap Firas seolah tahu dengan apa yang ada di pikiran sang istri saat ini.


"Kenapa kamu selalu bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranku sih?" Tentu saja Rea hanya bertanya di dalam hati. Tidak mungkin ia mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya sekarang ini.

__ADS_1


Wanita itu turun dari kasurnya dengan begitu antusias. Namun Setibanya di depan pintu mukanya kembali murung.


"Ada apa lagi?" tanya Firas heran.


"Lihat Leherku aku tidak mungkin turun dengan keadaan seperti ini!" keluhnya pada sang suami.


"Emangnya kenapa dengan lehermu itu hal wajar yang pasti terjadi pada sepasang suami istri!" tegas Firas.


"Aku tidak mau turun dalam keadaan seperti ini!" kesal Rea.


Wanita itu kembali naik keatas kasurnya lalu membaringkan kembali tubuhnya dan menutupnya rapat dengan selimut.


"Baiklah kalau begitu aku akan membawakan sarapan mu kesini!"


Ya sarapan sekaligus makan siang.


Firas pun akhirnya keluar dari kamarnya menuju meja makan tanpa sang istri.


"Mana menantuku Fir?" tanya Diana pada sang anak.


"Menantu kesayanganmu itu tidak berani menampakan dirinya bu!"


"Apa karena bekas siksaanmu semalaman?" kali ini sang ayah yang angkat bicara.


"Apa maksudmu Fir Kenapa kau menyiksanya?"


"Kau itu kayak nggak pernah muda saja. Ibu nggak ingat waktu kita masih Jadi Pengantin baru?"


Hahaha


Kedua lelaki yang berada di hadapan Diana itu tertawa bersama dengan begitu kompak.


Seketika hati Diana merasa begitu bahagia karna kini Firas yang dulu penuh kehangatan telah kembali.


"Apa menantu kesayanganku itu telah berhasil mencairkan bongkahan es batu yang ada dalam hatimu itu?"


Firas tersenyum lalu perlahan dia menceritakan semua tentang Rea yang ternyata adalah gadis kecilnya. Ia pun menceritakan tentang ingatan masa kecil istrinya yang telah hilang.


"Jadi maksudmu Rea itu mengalami Amnesia?"


"Ya, dan dokter menyarankan agar kita tidak memaksakan untuk Rea mengingat semuanya karna itu akan berpengaruh pada psikisnya!"


Tiba-tiba saja Diana bangkit dari duduknya pergi ke dapur lalu datang kembali dengan membawa nampan di tangannya.


Lalu menyendok nasi serta lauk pauk lengkap dan meraih secangkir air putih dan menaruhnya di atas nampan tersebut.


Ia kemudian berjalan menuju lift.


"Ibu! apa yang ibu lakukan?"


"Diam, aku akan menemui menantuku!"


"Tapi Bu Dia akan sangat malu jika ibu masuk ke dalam kamarnya!" Berusaha mencegah sang ibu untuk naik ke kamarnya.


"Kenapa harus malu aku juga kan Pernah muda. Sudah sana biarkan ini menjadi urusanku saja!"


"Tapi ingat Bu, Jangan katakan apapun tentang masa lalunya!"


"Iya Ibu tahu itu, kau tenang saja!"


Diana terus berjalan hingga akhirnya menghilang di balik dinding. Kedua lelaki beda generasi itu hanya menggelengkan kepalanya akan tingkah Diana.

__ADS_1


__ADS_2