
Suara rintik hujan terdengar begitu merdu menyambut dua insan yang telah menjadi satu padu dalam cinta pagi itu.
Laudrea bangkit dari pembaringannya, berjalan menuju dinding kaca kamarnya yang berukuran jumbo.
Jari - jari lentiknya memainkan embun air hujan yang tertempel pada dinding kaca. Mengukir sebuah nama 'FirLea'
Wanita itu mengerutkan keningnya. Merasa heran pada jarinya yang tiba-tiba tertuntun untuk menulis nama itu.
"Pagi istriku Apa yang sedang kau lakukan di sana?" Firas berjalan mendekati sang istri.
"FirLea?"Tanyanya suaminya heran.
"Katakan, Kenapa kau menulis nama itu?"
"Aku tidak tahu Fir tiba-tiba saja jariku tertuntun untuk menulis nama itu! Tapi kalau menurutku itu cukup unik. Dan Aku pun merasa Tak asing dengan nama itu kenapa ya?"
Lea, seandainya kamu tahu. Seandainya saja kamu mengingat masa kecil kita. Aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Fir hanya bisa membatin dalam hati.
"Itu akan menjadi sebuah nama untuk anak kita kelak kamu setuju?"
"Emmm, boleh juga ide mu!"
"jadi kau sudah siap? kita akan mempunyai banyak anak nantinya."
Hanya berbicara tentang anak saja bagian bawah tubuh Fir telah mengeras.
Ia kembali mengecup bibir sang istri. Kecupan itu berubah menjadi *******. Semakin menyesap semakin dalam.
Res mendorong tubuh Firas dan mencari pasokan oksigen yang hilang beberapa detik oleh bungkaman mulut seorang Firas
"Fir....aku lelah, semalam kan udah berapa kali masa masih mau nambah lagi." Rea mengerucutkan bibirnya tak setuju yang justru membuat Fir semakin gemas dan terus ingin melahap habis bibir ranum sang istri.
Firas kembali ********** dengan begitu lembut. Sangat lembut. Bibirnya terus menolak tapi tidak dengan tubuhnya. Karna tubuhnya terus merespon setiap sentuhan yang tercipta dari tangan kekar sang suami.
"Aaah, lagi - lagi aku tidak bisa mengendalikan tubuhku, setiap sentuhan mu benar benar membuatku terbang melayang Fir" lirihnya, sesaat setelah melepas pagutan bibirnya.
"Bersiaplah sayang, aku akan benar - benar membawamu terbang ke langit tujuh." Firas kembali menelusuri setiap inci tubuh sang istri.
Hujan seakan mengiringi kemesraan mereka berdua. Sepasang suami istri yang sedang memadu kasih yang entah untuk yang ke berapa kalinya di pagi ini.
Wanita yang tadi sempat menolak akhirnya pasrah juga. Karna respon tubuhnya pun menuntut lebih. Dan akhirnya harus kembali berakhir di atas tempat tidur.
Kini tubuh mereka penuh dengan keringat. Dinginnya suhu AC ruangan dan hujan di luar sana tidak membuat sepasang insan yang sedang dimabuk cinta itu merasa dingin walau tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
Suara lenguhan dan ******* yang tercipta dari bibir keduanya seakan menjadi melodi dan alunan lagu yang begitu merdu di pagi itu, ditambah lagi suara gemercik hujan yang terjatuh dan memantul pada dinding kaca kamarnya hingga membuat alunan itu menjadi semakin indah.
Aktivitas pagi itu telah menjadi candu sepasang suami istri yang baru saja merasakan kebahagian setelah cukup lama menjalin pernikahan tanpa adanya cinta.
Kebahagiaan yang kini menyelimuti hati Rea dan Firas.
Setelah menyelesaikan olahraga paginya di atas ranjang, kini dua insan yang sedang dimabuk asmara itu telah membersihkan dirinya.
Sepasang suami istri itu sudah siap akan pergi bekerja. Rea mengenakan baju kaos berleher panjang hingga menutupi seluruh bagian lehernya hingga keatas dipadukan dengan setelan jas dengan rambutnya yang tergerai indah.
Berjalan keluar meninggalkan kamar yang hingga pagi hari ini telah menjadi saksi bisu percintaan diantara keduanya.
__ADS_1
Senyuman manis dan hangat terus terukir indah pada bibir seksi milik Firas Mahotra.
"Anak dan menantu kesayanganku terlihat bahagia sekali pagi ini," ucap Diana yang sedang mengoleskan selai kacang kesukaan Daniel.
Daniel menatap heran pada sepasang suami istri yang terlihat begitu bahagia. Ia pun terus menatap Rea yang terlihat semakin cantik saja menurutnya.
"Ada apa dengan kalian?"Tanya Daniel aneh.
Sementara sepasang suami istri itu hanya tersenyum dan saling memberi kode.
Kali ini Fir yang menyendok nasi dan menaruhnya pada piring milik istrinya.
"Dikit aja..." ucap Rea dengan begitu manja.
Namun Firas terus menyendokkan nasi goreng dalam jumlah banyak.
"Udah sayang, itu terlalu banyak!" protesnya lagi.
"Tidak apa, makanlah sesuai dengan tenagamu yang keluar pagi ini." ucapnya seraya mengerlingkan matanya.
Perkataan yang keluar dari mulut Firas membuat Rea
Deniel dan Leon sampai melongo dengan tingkah manja seorang Firas.
Seorang Firas Mahotra yang terkenal dengan keangkuhan dan sikap dinginnya tiba - tiba saja menjadi seseorang yang begitu manja di depan istrinya.
Mereka tidak salah lihat kan pikirnya. Lalu saling tatap dan saling mengedipkan bahunya.
"Entah apa yang merasukinya?" celetuk Leon sembari menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
Sementara Diana justru sangat bahagia mendapatkan kembali rengekan Firas yang begitu manja yang sudah lama hilang itu.
Air matanya menetes secara tiba - tiba menyaksikan kehangatan hubungan rumah tangga anak pertamanya itu. Harapannya dan doanya selama ini telah dikabulkan oleh Tuhan.
"Ibu, kenapa menangis?" Rea mendekati sang ibu mertua yang kini menangis tersedu - sedu.
"Ibu tidak apa-apa sayang. Ibu hanya terharu melihat kebahagiaan kalian. Teruslah bahagia sayang." Diana memeluk menantunya.
"Ibu bikin aku khawatir saja. Aku kira kenapa ibu menangis."
Menantu kesayangannya menantu satu-satunya.
Wanita yang dulu ia kenal sebagai kekasih Daniel. Sama sekali tidak menyangka jika akhirnya dia harus menikah dengan Firas anak pertamanya.
Yah takdir Tuhan memang begitu indah. Bersyukurlah selalu dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Semua rencana Tuhan adalah yang terbaik.
Sebaik apapun kita merencanakan sesuatu jika Tuhan tidak berkehendak maka itu tidak akan pernah terjadi.
Waktu bergulir begitu cepat, siang pun telah berganti malam.
Dan malam ini Rea akan menghadiri Reuni akbar yang diadakan oleh pihak sekolah dan para Alumni salah satu SMAN Unggulan di jakarta. Reuni tersebut digelar disalah satu hotel berbintang di kota itu.
"Apa kau yakin akan pergi sendiri ke acara Reuni SMU mu itu hem?" Firas bertanya sambil bergelayut manja pada pinggang sang istri yang kini sedang bersiap di depan cermin.
__ADS_1
"Tidak apa - apa, nanti di sana juga banyak teman."
"Baiklah, setelah selesai pertemuan dengan klien nanti aku akan langsung menyusul mu, nanti share lokasi saja!" titahnya kemudian.
"Oke, baiklah tapi bagaimana kau akan pergi jika pinggangku terus dipeluk seperti ini hm?" Rea mulai geram dengan tingkah suaminya yang terus saja menempel sejak ia mulai berdiri didepan cermin itu.
"Ya baiklah aku akan melepasmu, hati - hati di sana jangan sampai hal buruk terjadi." Firas mengecup sayang seluruh wajah sang istri.
"Ya suamiku, aku pergi ya," pamitnya pada sang suami.
Sesungguhnya ia sangat berharap bisa pergi bersama suaminya tapi ada suatu pekerjaan darurat yang mengharuskan seorang Firas mau tidak mau harus menangani terlebih dahulu.
"Itu Laudrea!" seru Lisa salah satu teman yang dulu cukup dekat namun mereka harus berpisah setelah lulus karna Lisa harus melanjutkan kuliahnya di Amerika.
"Lisa, kamu apa kabarnya? Akhirnya aku bisa bertemu denganmu setelah sekian lama." Kedua wanita itu saling memeluk melepas rindu.
"Kamu makin cantik dan seksi saja sih Rea," pujinya pada Rea.
"Ah kamu juga kok Lisa, apalagi dadamu besar sekali!" bisiknya Rea pada Lisa.
"Issh Rea apaan sih!" Lisa memukul lengan Rea.
"Aku ke toilet dulu bentar ya Rea, tunggu disini jangan kemana mana!" Lisa memberi peringatan pada Rea.
"Oke Lis."
Pelayan hotel datang memberi secangkir minuman pada Rea.
Tanpa curiga sedikitpun Rea yang sebenarnya telah lama manahan haus itupun langsung menenggak habis minumannya.
Tanpa dia tahu disudut sana seorang pria sedang tersenyum puas karna misinya berhasil.
Seorang pria itu mulai menghitung.
Satu.
Dua.
Dan
Tepat pada hitungannya yang ketiga.
Rea mulai merasakan hawa panas pada suhu badannya. Panas yang begitu luar biasa
"Kenapa tubuhku rasanya panas sekali padahal ini ruangan ber Ac!" Rea mengibas - ngibaskan tangannya ke arah muka.
Terus gelisah dan merasakan tubuhnya yang menuntut sesuatu.
Merasakan haus tapi bukan haus minuman. Rea terus mondar mandir berusaha menahan gejolak aneh dalam dirinya. Semakin ia menahannya semakin tersiksa saja.
"Laudrea, kau kenapa?" tanya Erlan yang memang sejak tadi mencari keberadaannya.
"Panas Er, tolong bantu aku!" Rea bergelayut manja pada Lengan Erlan.
Erlan menatap Rea penuh selidik.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini padamu Rea?"