Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
Bab 64.


__ADS_3

"Rea, apa kamu sudah mengingat tentang anak dari adik lelaki ayahmu?" tanya El yang saat ini sudah berada didalam ruangan Rea.


"Ya El, aku sudah mengingat semua hanya saja aku pikir mereka sudah tidak lagi ngurusin masalah itu. Lalu darimana mereka tahu jika aku adalah Lea?" sahut Rea sama El.


"Sepertinya mereka melakukan penyelidikan dan akhirnya sekarang mereka tahu siapa kamu!" jelas El seraya menatap Lea dan Firas.


"Memangnya siapa mereka?" tanya Firas.


"Mereka itu anak dari adik ayahnya Lea, sejak kematian kedua orang tua Lea mereka selalu mencoba melenyapkan istrimu dengan berbagai cara agar bisa menguasai perusahaan ACF."


"Bukankah itu perusahaan milik Riana?" tanya Firas bingung.


El membulatkan matanya tak percaya.


"Jadi kau mengenal Riana?"


"Ya aku mengenalnya saat di luar negri, wanita itu pernah ku tolong dari kejaran suaminya yang dulu hendak melenyapkannya menggunakan senjata api miliknya. Tapi suaminya itu menyebarkan hoak jika aku telah menculik istrinya, dan yang lebih parahnya lagi Riana tak sedikitpun membantu memberikan penjelasan pada semua orang yang ada di lokasi kejadian jika aku bukanlah seperti yang dituduhkan oleh suaminya itu!" jelas Firas panjang lebar.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanta El penuh selidik.


"Mereka memerasku dan meminta ganti rugi dengan cara aku harus membantu finansial perusahaannya yang saat itu sedang diambang kebangkrutan."


"Mereka memang sangat licik dengan segala tipu dayanya!" Sahut El.


"Kita pernah bertemu, saat terjadi kemacetan yang ternyata itu adalah Riana! Dan suaminya yang menghentikan mobilnya ditengah jalan saat itu!" sahut Firas seraya menatap El.


"Benarkah itu El, apa dia Riana yang sama?" tanyanya kemudian.


"Ya." Firas dan El menjawab serempak.


"Ternyata begitu banyak memori yang hilang dari ingatanku?" keluh wanita itu .


"Maaf Lea, aku tidak bermaksud untuk menambah beban pikiranmu, aku hanya tidak mau terjadi apa apa padamu."


"Tidak apa El, terima kasih selama ini sudah begitu banyak membantuku. Terutama memperjuangkan perusahaan ayah dari tangan keluarga om Darwin yang tamak itu!"


"Hanya itu yang bisa aku bantu Lea, kalo begitu aku permisi dulu, aku harus menemui seseorang. Bye baby Firlee, uncle pergi dulu ya!" ucapnya seraya mengelus pipi sang bayi yang masih terlelap digendongan ayahnya.


"Bye juga uncle El, terima kasih ya udah jenguk baby Firlee ," ucap Fir seraya menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


Setelah kepergian El, Rea menghembuskan napas berat.


"Terkadang aku merasa kedua orang tuaku masih hidup Fir, mereka seperti berada di sekitarku."


"Mungkin karana kamu terlalu merindukannya sayang," Firas menghibur sang istri.


"Mungkinlah, andai papa dan mama meninggal bukan karna kecelakaan pesawat dan Jenazahnya bisa dimakamkan dengan layak, aku bisa mendatangi makamnya saat sedang rindu. Tapi tidak bisa," tuturnya dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca.


"Apa pesawat itu hilang dan tidak bisa ditemukan?"


"Sepertinya begitu Fir, saat itu aku masih kecil belum begitu paham apapun!" jelasnya lagi.


"Kita doakan saja, papa dan mama ditempatkan disisi Allah." Firas merangkul pundak sang istri.


Ditempat lain,


Disalah satu rumah kecil yang berada ditengah perbukitan ada sepasang suami istri paruh baya. Yang telah hidup bertahun tahun sebagai tawanan.


Seorang wanita paruh baya sedang menahan rasa sesak di dadanya karena batuk kering melanda.


"Mas, sampai kapan kita akan berada ditempat ini?" tanya sang istri dengan keputusasaan.


"Rasanya tidak mungkin mas, kita saja tidak tahu sekarang ini sedang berada dimana, Aku sangat merindukan anak kita mas!"


"Hei, kalian cepat kemari!" titah salah satu penjaga.


"Aku saja, istriku sedang sakit!" sahut lelaki paruh baya tersebut.


"Kalian disini adalah tawanan bis kami jadi apapun keadaannya kalian harus tetap menurut, kalo kita suruh!'


"Kenapa tidak kalian bunuh saja kami sekalian!!" geram luna disela sesak di dada yang semkin menyiksa.


"Banyak bicara dasar perempuan tua sakit sakitan!" ucap salah satu penjaga seraya hampir melayangkan pukulan.


"Sudah, sudah mereka biar jadi urusanku saja! Kau pergilah sana urusan lain saja!" ucap Alex yang merupakan penjaga yang selama ini memperlakukan sepasang suami istri paruh baya itu secara manusiawi.


"Bibi apa kau sedang sakit?" tanyanya pada Luna.


"Istriku mengalami batuk kering dan membuat dadanya menjadi sesak Lex.

__ADS_1


"Tunggulah paman , aku akan carikan obat sebentar!"


"Terima kasih Lex, aku tidak tahu lagi jika tidak ada kamu disini, karna hanya kamulah yang selama memperlakukan kami layaknya manusia!"


"Paman tidak perlu berterima kasih, kalian sudah seperti orang tuaku sendiri. Kelak jika ada kesempatan untuk kita pergi dari tempat ini, aku pasti akan membawa kalian bersamaku," tutur Alex seraya berlalu pergi.


Setelah kepergian Alex Luna terus saja diserang batuk yang tiada hentinya.


"Luna minumlah air hangat ini!"


"Percuma mas, biar saja aku mati!" ucapnya disela napasnya yang tersengal.


"Jangan bicara seperti itu Lun, aku yakin kita akan bisa keluar dari tempat ini."


"Sampai kapan mas, bahkan dari dulu mas selalu bilang kita akan segera keluar dari tempat ini, tapi sampai sekarang kita masih saja disini!" ucap Luna Frustasi.


"Maafkan aku Luna, aku memang suami tidak berguna dan bisa melakukan apapun, aku hanya bisa membuat hidupmu menderita!"


"Bukan begitu, kamu terlaku percaya mas, padahal dulu aku sering memperingatkan kamu tentang siapa adikmu itu tapi selalu adikmu. Dia terlalu serakah dan tamak!"


Lelaki paruh baya itu terdiam dengan penuh penyesalan. Jika saja dulu ia tahu kalau ternyata adiknya adalah musuh terbesarnya dirinya tidak akan mempercayakan semua urusan perusahaan miliknya terhadap adik lelakinya itu.


Jika saja dirinya mendengarkan perkataan istrinya, dirinya tidak akan menjadi seorang tawanan seperti ini sekarang ini.


Namun kini nasi sudah menjadi bubur, semua yang terjadi tidak akan bisa lagi diperbaiki.


Adik yang selalu ia banggakan dulu, selalu ia bela dihadapan sang istri namun nyatanya ia salah, karna yang ia bela mati matian adalah seorang penjilat yang hanya menginginkan hartanya. Meskipun itu adalah adik kandungnya. Adik yang telah tega menjadikan dirinya dan juga istrinya sebagai seorang tawanan.


Entah sampai kapan dirinya dan sang akan terbebas jerat sang adik.


Sudah hampir 14 tahun dirinya hidup dalam penjara sang adik, dan selama itu pula ia tidak pernah tahu tentang kabar anak perempuan satu satunya yang kini entah dimana!


Lelaki itu bangkit dan berjalan menjauh dari sang istri.


"Mau kemana mas?" tanya sang istri.


"Cari cara agar bisa keluar dari penjara ini!"


"Tapi bagaimana mas, penjaga ada dimana - mana!"

__ADS_1


Namun lelaki itu terus berjalan dan menghalau ucapan sang istri. Sementara Luna terus terbatuk dan napasnya di dadanya terasa semakin sesak.


__ADS_2