Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
44. Lagi lagi Cherin


__ADS_3

"Siram bajingan itu sampai dia membuka matanya!!" Firas begitu marah pada pria yang kini masih dalam kondisi tak sadar akibat mabuk parah.


Byurrrr


Suara tumpahan air yang cukup banyak itu mengenai tubuh lelaki yang sedang terbaring lemah di atas lantai disebuah ruangan kumuh.


Tumpahan air itu menyadarkan Rama hingga akhirnya ia perlahan membuka matanya. Menatap segala arah sebelum akhirnya ia bangun terduduk lalu menggeleng - gelengkan kepalanya.


Belum sepenuhnya sadar dimana kini dia berada.


Bugh


Satu bogeman dari tangan Firas melayang mengenai wajahnya lelaki yang masih terduduk lemah.


Lelaki itu mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang baru saja memukulnya dengan sangat kuat.


"Kenapa kau tidak bunuh saja aku!" tersenyum smrik


saat mendapati wajah yang sangat ia benci.


"Tidak semudah itu kau akan mati bajingan!"


Bugh


Firas kembali memukul wajahnya.


"Kenapa? Kau tidak terima, aku menyentuh istrimu? Karna dia itu penyelamat reputasi keluarga Mahotra? Atau kau sudah mulai mencintainya? Hahaha!"


"Sepertinya otakmu mulai tidak waras!"


"Ya, aku tidak waras sejak kau menikahi wanita pujaan-ku kau telah merebutnya dariku!" ucapnya dengan nada yang penuh dengan kemarahan.


"Kembalikan wanitaku, kembalikan Laudrea padaku! Sampai kapanpun kau tidak akan bisa tenang selama aku masih bernyawa. Hahahaha!!!!" Rama kembali tertawa persisi seperti ODGJ.


"Sepertinya kejiwaannya bermasalah Fir karena begitu terobsesi pada istrimu!"


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh gadis kecilku. Hanya aku yang berhak menyentuhnya, suaminya!!" Firas menekankan kata suami dalam kemarahannya.


Leon tak lagi terkejut mendengar penuturan Firas karena Tante Diana sudah menceritakan semuanya pada Leon dan juga Daniel tentang Rea yang ternyata adalah gadis kecil yang selama ini Firas cari.


"Bawa bajingan ini ke kantor polisi! Biarkan dia membusuk dipenjara!"


"Kau yakin Fir, dia bisa saja menyewa pengacara!"


"Tidak mungkin dia bebas, dia adalah salah satu sindikat pengedaran obat - obatan terlarang tapi dia juga pecandu berat. Serahkan saja dia ke kantor polisi!" titahnya kemudian.


"Baiklah!"


Dan benar saja, kini tubuh Rama mulai menggigil karna mengalami sakau.


Akhirnya Leon pun menyerahkan Rama pada pihak kepolisian setempat. Dengan kasus percobaan pemerkosaan terhadap istri Firas Mahotra.


Firas kembali ke hotel. Ditatapnya wajah sang istri yang sedang tertidur dengan lelapnya.


Entah apa jadinya Jika ia datang terlambat sedikit saja. Mungkin saja seorang Rama berhasil melecehkannya. Rahangnya kembali mengeras. Mengingat saat ia memasuki kamar hotel seorang lelaki sudah berada di atas tubuh istrinya.


Lalu ia teringat Erlan. Lelaki yang menghubunginya dan memberitahu keadaan istrinya.


Ia kembali mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Kemudian mulai menghubungi nomor panggilan masuk yang digunakan oleh Erlan saat itu.


"Datang ke kantorku besok ada hal penting yang harus aku bicarakan kepadamu." Mintanya pada Erlan melalui panggilan telepon.


"Maaf aku sudah kembali ke Garut!" Sahut Erlan dari seberang sana.

__ADS_1


"Jika begitu Kami akan pergi ke Garut untuk menemui mu."


"Baiklah aku akan menunggumu di sini!"


Panggilan pun terputus.


Firas menyusul sang istri mengarungi mimpi.


Pagi pun menyapa. Seorang wanita yang baru saja membuka matanya, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Kosong.


Tak ada siapapun yang ia lihat saat membuka matanya.


Wanita itu mulai mengingat-ingat kejadian yang telah menimpanya semalam.


Lalu ia mengingat betapa buasnya dirinya semalam terhadap suaminya.


Mengingat semua itu membuatnya Malu sendiri. Wajahnya sudah memerah semerah tomat.


Lalu ia mencari-cari sosok Firas sang suami.


"Ke mana dia. Kenapa dia meninggalkanku sendirian? Ah Rama Aku harus segera menemuinya akan aku buat perhitungan dengannya!" Ucapnya dengan penuh amarah.


"Setelah Apa yang dilakukan kepadamu semalam, kau masih berani untuk menemuinya hm?" Suara Bariton yang begitu Rea kenali.


''Fir Kau dari mana saja?" Tanyanya dengan nada manja.


"Aku mencarikan sarapan untukmu. Tidak tidak Sebenarnya aku mencari obat untukmu!"


"Obat?" tanyanya heran.


"Iya ini obat untuk menetralkan pengaruh obat-obatan semalam yang telah kamu teguk dengan tidak sengaja!"


"Maafkan aku apa kamu semalam kewalahan menghadapi ku?" Tanyanya dengan wajah bersemu merah karna merasa sangat malu saat mengingat betapa agresifnya dirinya pada sang suami.


"Hiss dasar mesum!"


"Apa menurutmu aku yang mesum. Coba diingat-ingat lagi peristiwa semalam!"


Rea pun tersenyum malu-malu.


"Nah sekarang kamu bisa menilai siapa yang lebih mesum hem?"


"Ah itu semua di luar kendaliku bukan keinginanku!" Ucapnya dengan bibir yang mengerucut.


"Jangan pernah memanyunkan Bibirmu di depan orang lain!"


"His Kenapa lagi?" Kesalnya.


"Hanya kaum lelaki yang tahu!"


Tapi lagi-lagi bibir itu kembali mengerucut.


"Sudah kubilang jangan seperti itu!"


"Lalu aku harus bagaimana."


"Kamu bisa tersenyum kamu bisa tertawa kamu bisa bicara tapi jangan membuat Bibirmu mengerucut seperti itu mengerti Laudrea Andara?"


"Oke baiklah Ayo kita makan aku sudah sangat lapar," Ajaknya pada sang suami.


"Tentu saja kau kelaparan tenaga mu kan habis semalaman, Hahaha!"

__ADS_1


"Hish menyebalkan!"


Firas terus menggoda sang istri. Menurutnya Sang istri terlihat begitu menggemaskan saat sedang merasa kesal.


Mereka pun berjalan menuju lobby hotel. Hendak menikmati breakfast yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.


"Wah ada bubur ayam bandung." Ucap Rea dengan antusias.


"Apa kau begitu menyukainya."


"Yah aku sangat menyukai bubur sejak kecil


"Kau curang kau bisa mengingat Makanan kesukaanmu tapi kau tidak bisa mengingatku!" Ucap Firas yang lama-lama mengecilkan suaranya karena merasa keceplosan.


"Hei aku mendengarmu. Apa maksudmu, kau bilang aku tidak mengingatmu?" Tanya Rea penasaran.


"Ah tidak aku hanya bercanda saja Ayo kita makan." Ajaknya kemudian.


Di dalam hati Firas terus merutuki kebodohannya sendiri. Lalu ia mulai berpikir bagaimana caranya untuk membuat Rea kembali mengingat masa kecilnya.


Yah walaupun sekarang ini istrinya sudah mengatakan bahwa dia Mencintainya.Tapi tetap saja dia merasa itu tidak adil.


Namun Ia juga mengingat pesan Samuel sepupu dari Lea.


Ting


Tiba-tiba saja muncul sebuah ide di dalam otak Firas.


"Bagaimana jika aku membawanya ke desa masa kecilnya?" Tentu saja hanya terucap dalam hati.


Setelah banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya Firas akhirnya mulai menikmati sarapan paginya.


Rea mengernyitkan alisnya heran. Tentang apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh sang suami pagi ini.


"Fir Apa kau sedang memikirkan sesuatu. Katakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"


"Ah tidak aku hanya ingin membawamu berlibur ke suatu desa apa kamu bersedia.


"Desa suatu tempat yang sangat indah nan asri, aku pernah lihat sebuah di internet."


"Jadi kau bersedia"


"Tentu saja. Kita akan pergi ke mana?"


"Dulu saat aku kecil ada sebuah desa dan danau yang indah sekali. Aku ingin ke sana melihatnya entah danau itu masih ada atau bahkan sudah menjadi rata dengan tanah."


"Baiklah Kapan kita akan pergi. Aku sudah tidak sabar!"


Seorang Laudrea begitu antusias saat mendengar kata desa. Seolah Ia pernah mendengar nama itu tapi ia sendiri pun lupa.


"Saat weekend tiba kita akan pergi ke sana bersama Samuel juga Leon. Kau tidak keberatan kan?"


"Tentu saja tidak, pergi rame - rame lebih seru menurutku."


Disudut sana seorang wanita sedang menatap dengan marah karna ternyata rencananya telah gagal.


"Baiklah jika rencanaku bersama Rama telah gagal maka aku yang akan melanjutkannya. Kini target utamaku adalah Firas." gumamnya.


Lalu ia berjalan menghampiri sepasang suami istri yang sedang asik menikmati sarapan paginya.


"Hai, kalian ada di sini juga?" Cherin pura pura bertanya.


Lagi lagi Cherin, kesal Rea dalam hati.

__ADS_1


Sementara Firas mulai berpikir maksud dan kedatangan di hotel ini. Mungkin kah sekedar kebetulan atau unsur kesengajaan.


Pikiran Firas kini berkelana ria.


__ADS_2