Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
Bab 57.


__ADS_3

Pagi itu.


" Fir, ini pakaian gantimu. Cepatlah! bersihkan dirimu sebelum kakak iparku tersadar dan melihat suaminya dalam keadaan kacau seperti ini!" titah Leon pada kakak sepupunya.


Perbedaan usia antara Firas dan Leon yang hanya terpaut beberapa bulan saja membuat Leon lebih nyaman memanggil kakak sepupunya itu dengan nama saja tanpa embel embel kakak didepannya.


Firas beranjak dari duduknya dan meraih koper yang dibawakan oleh Leon.


"Kau benar Le, istriku tidak boleh melihat diriku yang dalam keadaan kacau. Dia pasti akan menertawakan ku nantinya."


Firas segera bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.


Hanya butuh waktu 15 menit lelaki itu sudah bersih dan rapih, tak ada lagi Firas yang kacau dengan baju kusutnya. Terlihat begitu segar dan kewibawaannya sebagai seorang presdir telah kembali nampak.


Saat bersamaan Diana dan Mahotra pun tiba.


"Fir, bagaimana keadaan menantu dan calon cucuku?" tanya Mahotra dengan wajah cemasnya.


"Seperti yang ayah lihat, Rea belum juga sadarkan diri." lelaki itu mendekati ranjang sang istri lalu mengelus keningnya.


"Om, tante, Fir. Aku pergi kekantor dulu," pamit Leon pada ketiga orang yang sedang berada di ruangan tersebut.


"Leon sebaiknya kau istirahat saja dulu!" Titah Firas pada Leon.


"Hanya sebentar Fir Aku ingin mengecek Hasil meeting kita kemarin sudah itu aku akan langsung kembali pulang ke rumah!"


"Baiklah, kalau begitu Pergilah tapi ingat Jaga kesehatanmu." Firas mengingatkan pada sepupunya.


"Siap Pak Presdir!"


"Hmm"


Setelah kepergian Leon Firas dan mahotra terlibat perbincangan seputar bisnis dan juga keadaan perusahaan yang saat ini dikelola sang adik.


Sang ayah menceritakan tentang perusahaan yang di London yang sedang dikelola oleh Daniel.


Semenjak perusahaan itu beralih ke tangan Daniel perusahaan itu kini berkembang pesat. Daniel menjalankannya dengan sangat baik.


"Putra keduaku sudah sangat berubah. Dia sudah begitu yakin dan serius dalam melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan," Puji mahotra kepada Putra keduanya itu


"Ya, Ayah aku percaya bahwa Daniel itu sebenarnya mampu hanya saja selama ini dia masih senang bermain-main."


"Ya, sepertinya saat ini pikirannya sudah mulai dewasa. Siapa tahu dia dapat jodohnya di sana," ucap Mahotra penuh harap.


"Apa kau sudah mengabari tentang kondisi istrimu kepada Daniel?" tanya lagi kepada Putra pertamanya.


"Apa dia perlu tahu ya keadaan istriku?"


"Setidaknya jika dia dikabari dia merasa dianggap sebagai seorang adik. Walaupun dulu mereka adalah sepasang kekasih Tapi kini wanita itu adalah kakak iparnya, jadi lebih baik kita mengabarinya."


"Biarkan saja ya aku rasa tidak perlu kecuali kalau sesuatu yang sangat darurat. Aku tidak mau dia cemas biar bagaimanapun Rea pernah jadi wanita istimewa dihatinya."


"Baiklah terserah kau saja Ayah Hanya memberi saran."

__ADS_1


Tak lama wanita yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu mengedipkan matanya.


Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang cukup asing baginya.


'"Dimana aku?" lirihnya.


Seketika semua orang yang berada di sana menengok ke arahnya.


"Sayang kau sudah sadar?" Ucap Firas dengan raut wajah bahagianya.


"Alhamdulillah akhirnya menantu kesayanganku sadar juga. Kami semua sangat mencemaskanmu sayang!"


Sejenak Rea mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Seingatnya sebelumnya ia berada di kamar mandi sedang merasakan mual lalu muntah Kenapa tiba-tiba gini ada di rumah sakit?


"Apa yang telah terjadi padaku?" Tanyanya bingung.


"Ibu menemukanmu pingsan di kamar mandi Sayang. Bagaimana bisa terjadi seperti itu. Apa kau sama sekali tidak meminum air putih setelah memuntahkan isi perutmu itu?"


"Aku sudah berusaha untuk minum Fir tapi perutku tidak mau dan kembali memuntahkan air itu!"


"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa kamu lapar?"


Wanita itu mengangguk lemah dan berkata.


"Aku mau makan cilok Fir," Rengeknya pada sang suami.


"Tidak aku tidak akan mengijinkan mu makan makanan seperti itu. Makanan apaan itu, carilah makanan yang lain aku akan aku belikan!"


"Tapi sayang cilok itu tidak baik untuk kesehatan bayi kita!"


"Istrimu itu ngidam belikan lah sana" mahotra menimpali.


"Ayah betul Fir Jangan pernah melarang keinginan ibu hamil karena itu akan berdampak pada bayimu yang nantinya menjadi ileran. Apa kamu mau punya anak ileran?"


"Ih amit-amit ya." Firas bergidik ngeri.


"Ya udah sana buru carikan di mana itu ada tukang cilok!"


"Baiklah akan aku carikan ciloknya bila perlu sama abangnya sekalian!"


"Pakai bumbu kacang ya Fir" seru Rea.


"Ya!" teriak Firas dari kejauhan.


"Sayang bagaimana kondisimu, sudah lebih baik" tanya Diana.


"Sudah Bu Hanya saja masih terasa lemas!"


"Ya begitulah jika kita sedang mengandung. Apalagi usia kandunganmu masih sangat muda kamu harus pintar-pintar menjaga diri dan kesehatanmu."


"Hele, bukankah Ibu dulu saat hamil pertama juga seperti itu!"


"Siapa bilang Ibu sangat kuat kok.!" Sanggahnya.

__ADS_1


"Hele, kuat kok sampai tidak terhitung lagi masuk rumah sakit!" Sindir mahotra.


"Ais!! Mahotra jangan buka kartuku di depan menantuku!"


Mahkota terkekeh.


Lelaki itu kembali mengenang masa mudanya. Masa di mana istrinya sedang hamil anak pertama. Dan istrinya itu begitu manja terhadapnya. Sampai-sampai dirinya tidak bisa pergi ke kantor hanya untuk menemani sang istri yang merengek-rengek setiap hari ini minta ditemani.


Mahkota menyunggingkan senyuman lalu menggelengkan kepalanya.


Kini lelaki itu menatap sang istri diusianya yang sudah hampir 50 tahun tapi sama istri masih tetap terlihat sangat cantik.


Lelaki itu merasa beruntung memiliki istri sepertinya. Selalu Sabar menghadapinya yang terkadang keras kepala. Kelembutannya itulah yang yang merubah hati Mahotra yang dulu terlalu dingin itu menjadi menghangat.


Dan mungkin sikap dinginnya itu menurun pada anak pertamanya yang selalu bersikap dingin terhadap orang asing.


Namun sikap dingin itu hanya berlaku di luar rumah dan untuk orang lain karena saat sudah berada di rumah dan lingkungan keluarganya sikapnya akan berubah menjadi hangat.


Mahotra membayangkan saat cucunya telah lahir ia akan menikmati hari tuanya Bersama sang cucu didalam rumah. Impian yang begitu sederhana bukan?


Setelah cucunya lahir nanti lelaki itu akan berhenti total dari dunia bisnis Ia hanya akan menghabiskan masa tuanya Bersama sang cucu memberikan kasih sayang terbaik untuk cucunya kelak.


Tak lama Firas datang membawa bungkusan cilok dengan berbagai rasa.


Lalu menyerahkan bungkusan itu kepada sang istri memintanya untuk memilih cilok yang mana yang akan dimakan.


"Banyak sekali Fir Aku kan sudah bilang mau bumbu kacang saja yang aku pengen, untuk apa cilok sebanyak ini?" keluh sang istri.


"Aku hanya mau membahagiakanmu. Siapa tahu Setelah melihatnya kamu akan berselera dengan rasa lain."


Tidak aku tidak menyukai yang lain aku hanya mau bumbu kacang. Makan saja itu untukmu. Kau yang membelinya kau harus bertanggung jawab menghabiskannya! Titah sang istri.


"Tidak aku tidak mau makan cilok. Makanan apa seperti ini!"


"Enak aja kamu menghina makanan kesukaanku. Coba dulu baru berkomentar kalau sudah coba kamu pasti bakal ketagihan deh!"


"Tidak mau ?, dilihat dari tampilannya saja sudah tidak enak apalagi mencobanya!"


"Cih Sombong sekali kamu.!" Cicit sang istri.


Wanita itu tidak mau makanan kesukaannya dihina oleh sang suami.


Ketua mertuanya itu hanya memperhatikan sang menantu yang sedang lahap memakan makanan kesukaannya.


"Sejak kapan kamu menyukai makanan seperti itu Rea?" tanya Diana.


"Sejak aku kuliah bu. Awalnya aku juga tidak suka tapi karena seringnya melihat teman-temanku makan makanan itu aku jadi tertarik untuk mencobanya dan ternyata enak juga!"


"Aku yakin jika kalian mencobanya Pasti kalian akan suka rasanya enak banget loh, Ini bukan sekedar cilok biasa lihat aja dalamnya ada ayamnya!"


Wanita itu terus memuji makanan kesukaannya di depan suami dan mertuanya itu.


Dan lagi lagi wanita itu memuntahkan isi perutnya itu. Membuat semua orang kembali khawatir.

__ADS_1


__ADS_2