Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
38. Rea adalah Lea


__ADS_3

"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"


Firas tidak sabar mendengar semuanya.


Samuel menarik napas dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


"Aku adalah Samuel RĂ­chard sepupu dari Lea gadis kecilmu."


Deg deg


Firas tau jika Samuel adalah sepupu dari Lea. Tapi mendengar nama Lea disebut membuat suasana hatinya menjadi tidak beraturan.


Jantung Firas berdegup dengan begitu kencang namun ia masih berusaha menyembunyikannya.


"Wanita yang sekarang menjadi istrimu adalah gadis dimasa kecilmu, gadis kecilmu, Leamu ."


"Apa maksudmu? jangan pernah bermain - main dengan Firas Mahotra!" Firas mencengkeram leher Samuel.


"Tenang Fir, dengarkan aku dulu."


"Lanjutkan!"


Firas sedang berusaha mengatur deru napasnya agar kembali normal.


Mengembalikan suasana hatinya yang kini sedang berantakan.


Menyatukan kembali pikirannya yang terberai.


"Tapi Lea yang sekarang bukan Lea yang dulu. Lea yang dulu sangat mencintaimu dan selalu menunggumu dengan segenap cinta. Cinta yang begitu besar dan penuh harapan padamu saat itu. Sampai suatu hari demi menyelamatkan miniatur pemberianmu yang begitu berharga baginya ia harus kehilangan ingatan masa lalunya saat itu."


"Apa maksudmu?"


Hatinya kembali bergejolak.


Samuel menceritakan semua peristiwa yang dialami Rea saat itu. Yang akhirnya membuat Rea harus kehilangan ingatan masa kecilnya dengan kata lain amnesia


Tapi miniatur yang ia miliki utuh tanpa lecet sedikitpun dalam genggamannya.


Firas mendengarkan untaian demi untaian kata yang terucap dari mulut Samuel. Air matanya tiba tiba terjatuh dan berhasil lolos dari sudut matanya.


Air mata ini sungguh tidak sopan kenapa kau nyelonong begitu saja tanpa pamit kepadaku!!. Batin Firas seraya mengusap kasar air mata yang mengalir dipipinya.


Sepintar apapun ia menyembunyikan kerapuhan yang selama ini ia tutupi. Pada akhirnya luruh juga pertahanan yang selama ini ia bangun untuk menutupi rasa sesaknya karna tidak menemukan gadis kecilnya.


Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu terus bergejolak didalam dadanya. Rasa rindu yang membuncah dalam hatinya kini tak lagi harus Ia tahan.


Firas begitu bahagia karna ternyata wanita yang menjadi istrinya saat ini adalah gadis dimasa kecilnya.

__ADS_1


Gadis yang begitu ia cintai dengan sepenuh hati dan jiwanya. Gadis yang membuatnya menutup diri dan hatinya untuk wanita manapun.


Kini ia telah bersama Lea gadis kecil yang selama ini ia cari. Tapi kondisinya berbeda.


Dan ia sedih kala mengingat gadis kecilnya telah melupakannya dan bahkan telah begitu mencintai Daniel yang sejatinya adalah adik dari Firas itu sendiri.


"Ini tidak adil, sungguh tidak adil buatku! Aku begitu mencintainya dan terus mencarinya. Tapi dia sama sekali tidak mengingatku bahkan sebelum dia menikah denganku dia sangat mencintai Daniel adik kandungku sendiri!"


"Semua ini bukan kemauannya Fir, jangan pernah salahkan Lea. Dia sama sekali tidak bersalah. Semua yang terjadi itu atas kehendak Tuhan dan bukan karna keinginannya. Rasa cinta yang begitu besar padamu membuatnya lebih memilih melindungi barang pemberianmu dari pada nyawanya sendiri!"


"Apa kau sudah memberitahu tentang semua ini padanya?"


"Tidak, aku belum memberitahunya. Aku tidak mau membuatnya kesakitan karna semua itu akan berpengaruh pada psikisnya. Dokter menyarankan agar tidak memaksakan untuk mengingatnya."


Firas menyeka air matanya yang terus saja mengalir di pipinya dengan tidak sopan menurutnya. Begitu kasar ia mengusapnya.


Mencengkeram kuat dadanya sendiri, sesekali ia pun memukul - mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


Firas tidak terima jika gadis kecilnya itu sama sekali tidak mengingatnya.


Musnah sudah harapannya untuk hidup bahagia dan saling mencintai sehidup semati. Karna pada kenyataannya wanita yang begitu dicintainya itu telah melupakan dirinya bahkan telah mencintai orang lain.


Firas tidak bisa menerima semua itu.


"Dan kamu harus tahu beratnya jadi Lea, saat baru saja telah kehilangan ingatan masa lalunya. Ia harus kembali menelan pil pahit karna harus kehilangan kedua orang tuanya dalam kurun waktu yang cukup dekat."


"Bayangkan saja seandainya kau ada di posisinya saat itu. Ia yang sedang berusaha mengingat kembali masa kecilnya yang hilang tapi saat yang sama juga ia harus melupakan kejadian buruk yang menimpa kedua orang tuanya. Saat itu ia sempat koma beberapa hari. Dan kau tau saat ia tersadar dari komanya itu? Lea yang tadinya begitu lemah tiba tiba saja menjadi gadis yang begitu tegar seperti gadis kecil yang kita kenal dulu. Tapi dalam kondisi yang berbeda karna dia telah melupakan kenangan masa lalunya bersamaan dengan dia melupakan kepergian kedua orang tuanya."


Samuel kini meneteskan air matanya.


Menceritakan kembali kejadian itu membuat El kembali merasakan sakit dihatinya.


Sakit bahkan sangat sakit kala melihat Lea yang baru saja sadar dari komanya itu terlihat begitu ceria seperti dulu tapi dengan keadaan yang berbeda.


Lea tak lagi mengingat masa kecilnya ia pun tak lagi bisa menangisi kepergian keduanya orang tuanya.


Alam bawah sadarnya memaksanya untuk menjadi gadis kecil yang begitu tegar.


"Apa ada seseorang yang dengan sengaja membuat kedua orang tua Lea meninggal?"


Firas mulai kembali berpikir dengan baik.


"Entahlah Fir, masih menjadi misteri yang sangat sulit aku pecahkan, terlalu rumit."


"Kita harus mencari tahu semua itu."


"Aku sedang berusaha memecahkan misteri itu!"

__ADS_1


Firas mengusap kembali air matanya dengan kasar.


Melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


Ia telah melupakan janji akan bertemu seseorang untuk membahas soal kerja sama.


"Maaf, aku harus segera pergi. Aku ada pertemuan siang ini!"


"Begitu pun denganku."


"Kalau begitu kita sambung lagi lain hari. Terima kasih El kau telah memberitahu semuanya padaku." Firas menepuk pundak Samuel dan pergi meninggalkan Resto tersebut.


"Sama - sama Fir."


Mereka berpisah.


Ada perasaan lega di hati Samuel karna telah mengatakan semuanya pada Firas. Kini ia tak lagi menyimpan beban pikiran itu sendirian. Ada Firas yang telah mengetahui tentang Lea yang melupakan ingatan masa kecilnya.


Satu masalahnya telah teratasi.


Kini ia bisa tenang melakukan penyelidikan tentang kematian kedua orang tua Rea yang masih menjadi misteri dalam otaknya.


Ia harus menemukan dalang dibalik peristiwa itu.


Firas telah sampai di depan pintu ruangannya. Namun ia mengurungkan niatnya memasuki ruangannya.


Ia berjalan menuju ruangan istrinya berada.


Membuka pintu lalu ditatapnya seorang wanita yang sedang fokus menatap layar laptop dihadapannya.


Sudah menjadi kebiasaan wanita jika sedang fokus pada satu benda maka tidak lagi peduli dengan sekitarnya.


Seperti saat ini ia pun sama sekali tak mengetahui jika ada orang memasuki ruangannya.


Firas terus berjalan mendekati Rea.


Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak keluar atau akan membuatnya malu dihadapan wanita yang begitu dicintainya itu.


Rea bangkit dari kursinya hendak mengambil tumpukan kertas yang berada di atas meja kerja Daniel yang saat itu kosong.


"Astaga, Fir!. Kau selaku saja mengejutkanku."


Firas terus menatap Rea dengan begitu lekat.


"Fir, are you okay?" tanya Rea khawatir.


Firas tidak bisa berkata - kata, lidahnya mendadak menjadi kelu. Lalu langsung memeluknya dengan begitu erat.

__ADS_1


Pundaknya bergetar hebat. Air matanya tak terbendung lagi dan terus mengalir membasahi punggung wanita yang berada dalam dekapannya.


__ADS_2