
Tak terasa waktu begitu cepat berjalan.
Ibu hamil itu sedang santai duduk di balkon dengan ditemani sang suami sambil bercanda ria.
Suara tawa khas wanita itu terdengar begitu bahagia dan penuh suka cita.
Sesekali Firas mencuri kecupan pada bibir sang istri.
"Sayang aku ke toilet dulu sebentar ya, jangan kemana - mana!" titahnya pada sang istri mewanti - wanti.
"Ya Fir." jawabnya seraya berjalan kearah pintu hendak masuk kembali kedalam kamar.
Tiba tiba saja Rea mendengar suara teriakan dari lantai bawah yang terus memanggil nama sang suami. Karna penasaran ia pun keluar kamar dengan tergesa gesa menuruni anak tangga. Hingga wanita hamil melupakan bahwa dirinya kini sedang hamil tua.
Saat telah sampai pada anak ke 4 dari lantai atas tiba tiba saja kakinya terpeleset suatu cairan yang dianak tangga tersebut.
"Aoowwww!" jerit wanita hamil itu sambil memegangi perutnya yang terasa sakit luar biasa itu. Tubuhnya terduduk pada anak tangga, sementara tangan yang lain digunakan untuk perpegangan pada agar tidak terpental sampai bawah sana.
"Sayang, kamu tidak apa apa?!" teriak Firas yang langsung berlari meraih tubuh sang istri agar tidak sampai tergelinding kebawah kebawah sana.
"Aku terpeleset Fir, perutku, sakit sekali perutku!" lagi lagi wanita itu merintih kesakitan.
"Tahanlah sayang kita ke rumah sakit sekarang!" ucapnya semakin panik.
"Sakit sekali Fir, rasanya aku gak tahan lagi!" suaranya semakin melemah saja dan membuat Firas semakin tidak karuan, karna nampak cairan bening mulai mengalir dari sela pahanya.
Dalam perjalanan yang memakan waktu hanya sekitar 15 menit Firas dengan segala kecemasan dan kepanikannya ia terus menyalahkan diri sendiri. karna berada di toilet terlalu lama.
Tiba di rumah sakit.
"Dokter selamatkan istriku, aku tidak mau istriku kenapa kenapa! Cepat selamatkan dia!" titahnya kepada sang dokter.
Lelaki itu terus berteriak pada dokter dan lebih memilih menyelamatkan istrinya saat dokter itu menyampaikan hanya bisa diselamatkan salah satunya.
"Kita berdoa sayang semoga semuanya selamat, dokter hanya perantara, tapi Tuhan yang memberinya kehidupan dan keselamatan untuk makhluknya.
Malam ini menantu keluarga Mahotra itu sedang berjuang antara hidup dan mati. Demi sang pewaris Mahotra selanjutnya yang sedang ditunggu kehadirannya ke dunia ini.
Rea terpaksa menjalani operasi sesar karna kejadian yang tiba tiba saja menimpanya.
Firas masih dengan kekhawatiran dan kecemasannya semakin memenuhi ruang hatinya.
__ADS_1
"Tuhan jika boleh aku meminta, selamatkan keduanya, namun jika memang harus memilih salah satu, maka selamatkan istriku, aku benar benar tidak sanggup jika harus kehilangannya!" Air mata lelaki terus bercucuran tanpa bisa dicegah.
Firas kembali mondar mandir didepan ruang operasi, hatinya benar benar sedang kacau memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada istri tercintanya.
" Lea-ku, kumohon bertahanlah sayang," gumamnya dalam hati.
Lelaki itu kini menyenderkan tubuhnya pada dinding dibelakang tubuhnya.
"CK! Kenapa dokter itu lama sekali sih?! Sedang apa didalam sana!" Firas berdecak sambil terus mengoceh.
"Fir, sabar! Dokter masih melakukan operasi pada anak dan istrimu, tenanglah!" ucap sang ibu menenangkan putranya itu.
"Ibu, kakak! Bagaimana keadaan Rea?" tanya Daniel yang baru saja tiba di rumah sakit bersama wanita yang tak lain adalah Sera. Kebetulan mereka sedang ada di indonesia.
"Kamu...!" ucap Firas saat melihat Sera.
Sera menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah pada semua orang yang ada di sana terutama ayah dan ibunya Daniel.
"Bukankah ini Sera?" tanya Diana penuh selidik.
"Ya bu, tapi dia bukan Sera yang dulu."
"Maksudmu?" tanya Diana bingung.
Sementara Leon tersenyum kecut.
"Tante, bagaimana keadaan Rea?" Sera memberanikan diri untuk bertanya.
"Masih ditangani dokter," jawabnya singkat.
Tak lama dokter keluar dari ruangan operasi.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Firas dengan raut wajah yang masih saja panik.
Dokter itu mengernyitkan alisnya heran, dan bertanya tanya, pasalnya dari sejak datang ke rumah sakit hanya istrinya lah yang selalu lelaki itu cemaskan, sedangkan pada anaknya lelaki itu tidak begitu peduli. Dokter itu jadi ragu untuk menjelaskan tentang kondisi istrinya.
"Anak anda berhasil diselamatkan Tuan," ucap dokter tersebut dengan sedikit ragu
"Saya tanya istri saya! Bagaimana keadaannya?!" Karna panik Firas tidak sadar telah membentak dokter tersebut.
"Fir, sabar!" Diana mendekati sang anak dan mengelus pundaknya pelan.
__ADS_1
"Istri anda belum sadarkan diri Tuan." dokter itu menyampaikan kondisi Rea dengan perasaan sedikit takut akan kemarahan seorang Firas.
"Kenapa dokter tidak menyelamatkan istri saya!" bentaknya lagi.
Tanpa menunggu penjelasan dari dokter, Firas langsung berlari kedalam demi melihat kondisi sang istri dan juga bayinya yang menurut dokter bisa diselamatkan.
"Sayang!" ucapnya disela isak tangisnya setelah melihat tubuh sang istri yang terlihat lemah.
"Mana bayiku sus?" tanyanya pada sang perawat.
"Ini Tuan," perawat itu menyerahkan bayi laki laki dengan berat sekitar 3.4kg dan tinggi 47 cm itu kepada Firas.
Firas meraih bayi mungil itu lalu menatap sang istri yang masih terbaring lemah.
"Lihat, sayang! jagoan kita membutuhkanmu, bangunlah! Kita akan merawatnya bersama - sama. Jadi jangan membuatku khawatir lagi, bangunlah Lea-ku sayang," Bisik Firas yang berdiri di samping sang istri, lalu mengusap lembut dahi sang istri menggunakan satu tangannya yang lain sementara tangan satunya menggendong bayi mungilnya.
Setelahnya lelaki itu mengumandangkan adzan pada telinga sang bayi dengan posisi berjongkok yang juga berdekatan dengan telinga sang istri.
Dan ternyata benar, suara merdu dari Adzan sang suami itu mengundang kesadaran seorang Laudrea.
Wanita yang baru saja melakukan operasi sesar itu kini mulai membuka matanya perlahan lalu menatap sang suami yang sedang khusuk mengumandangkan suara adzan pada bayi laki - lakinya itu.
Wanita itu tersenyum penuh rasa syukur, dengan pemberian rejeki yang berlimpah ruah itu.
Rejeki yang bertubi - tubi didalam hidupnya.
Mulai dari mertua yang luar biasa baik, suami yang begitu menyayanginya, dan kini ditambah lagi kehadiran sang buah hati.
Lengkap sudah kebahagian yang tuhan berikan untuknya.
Setelah selesai mengumandangkan adzan dan iqomat pada jagoan kecilnya Firas kembali menatap sang yang ternyata sudah membuka matanya.
"Alhamdulillah ya Allah, ternyata kamu sudah sadar sayang," ucapnya dengan raut kebahagiaan.
"Lihat jagoan kecil kita, dia tersenyum menyambut kesadaran mu sayang," lelaki itu mengecup lama kening sang istri dengan sayang.
"Terima kasih sayang! Kamu sudah berjuang untukku, I love you my wife," ucapnya lagi.
"Aku tidak berjuang sendirian Fir, aku tahu kamu juga pasti ikut berjuang dengan terus mendoakan aku, i love you more my husband.
Lelaki itu mendekap tubuh sang istri setelah menyerahkan kembali bayi mungilnya pada perawat untuk dipindahkan ke ruangan khusus bayi.
__ADS_1
Lelaki yang baru saja menjadi seorang ayah itu terus menghujani istrinya kecupan sayang di seluruh wajahnya hingga berakhir dibibir mungil sang istri.