
Rea kembali berjalan memasuki setiap sudut ruangan yang sepertinya tak asing, karna memang tak ada satupun Furniture yang diganti oleh Samuel.
Semenjak Mbak Mira kehabisan dana untuk biaya rumah sang anak yang menderita kanker ganas itu Mbak Mira harus kehilangan rumahnya. Itu sebabnya El menyuruh Keluarga Mbak Mira menempati rumah kosong mendiang orang tua Rea yang tak lain adalah Tante dari Samuel itu sendiri.
Rea menatap sebuah foto keluarga saat dirinya kecil. Menatap kedua orang tuanya yang tersenyum penuh kebahagiaan itu.
"Ma, pa kalian pasti sudah bahagia di sana," ucapnya seraya mengusap lembut poto dihadapannya.
Dan setelahnya ia bingung sendiri, kenapa bisa di rumah yang kini ditempati Mba Mira.
Tiba tiba Mbak Mira datang dan menghampiri Rea dan mengatakan jika rumah ini adalah rumah masa kecil Rea.
Mendengar semua itu membuat Rea semakin dilanda penasaran, ternyata begitu banyak hal yang terlewatkan dari ingatan masa kecilnya.
Rea menatap nanar foto yang masih berada dihadapannya, mencoba menelisik siapa tahu ada sedikit ingatan yang bisa ia ingat.
Semakin mencoba untuk mengingat sakit di kepalanya semakin terasa, tapi ia tidak ingin menyerah. Terus dan terus berusaha.
Aku harus kembali ke danau. Ya itu harus , aku harus ke sana.
Tiba-tiba saja Rea berlari keluar dari rumah.
Semua orang yang berada di sana terkejut melihat Rea tiba tiba berlari menuju arah Danau.
"Rea!" seru Fir, seraya berusaha mengejarnya
"Rea, kembalilah. Kau mau kemana?"
Namun tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Rea, wanita itu terus berlari dengan begitu cepat.
Kini ia telah berada ditepi danau dengan napas yang memburu.
Duduk tenang dengan menatap ketenangan dan kejernihan air danau yang ada dihadapannya.
"Kamu kenapa berlari seperti itu, hm?" Tanya Firas yang kini sudah berada dibelakang tubuh Rea dan mendekapnya dari belakang dengan posisi terduduk.
"Aku hanya ingin mengingat kembali masa kecilku, tapi kenapa semua itu begitu sulit Fir, aku rindu mama dan papa, aku ingin mengingat saat mereka memanjakan-ku. Tapi otak di kepalaku ini sama sekali tak bisa mengingatnya!" Rea terus memukul kepalanya sendiri seraya terisak.
__ADS_1
Firas meraih tangan sang istri, mendekapnya semakin dalam. "Jangan terlalu dipaksakan, dan jangan pernah menyiksa dirimu sendiri hanya karna kau tidak bisa mengingat semua kenangan masa kecilmu." Firas berkata dengan begitu lembut.
"Aku tersiksa Fir, aku merindukan masa itu aku ingin mengenangnya, aku ingin mengingat apa saja yang mama dan aku dilakukan di rumah itu, aku mau mengingatnya Fir, tapi kenapa kepala ini begitu keras dan tidak mau membantuku mengingatnya." dengan nada pilu Rea terus menyalahkan kepalanya.
"Hsstt, tidak. Kau tidak bisa menyalahkan kepalamu ini, jangan keras kepala dan memaksakan diri untuk mengingat semuanya." hanya itu yang bisa Fir katakan pada sang istri, ia tahu betul kini sang istri sedang berada pada titik lelahnya. Dan ia tidak mau sang istri semakin merasa tertekan.
Sementara El yang hanya melihatnya dari kejauhan merasa semakin bersalah. Karena dirinyalah Lea kecil terjatuh dan mengalami koma hingga kehilangan ingatan masa kecilnya.
"Maafkan aku Lea, jika saja dulu aku tidak mengambil miniature kesayanganmu semua itu tidak akan pernah terjadi. Semua yang terjadi sepenuhnya karena aku. Aku nyesel Lea, aku sangat menyesal!" El terus bergumam seraya terduduk lemah di atas rerumputan hijau dan kedua tangannya ia gunakan untuk memegang kepalanya.
Tapi ia juga tak bisa berbuat apapun. Pernah dulu ia mencoba membantu Lea mengingat masa kecilnya yang hilang, tapi itu semakin membuat Lea merasa kesakitan pada kepalanya yang berujung Lea kembali terbaring di rumah sakit untuk yang kesekian kali. Sejak saat itulah ia berjanji tidak akan lagi mengungkit masa kecilnya bersama Lea. Hingga kini setelah Lea menjadi seorang istri dari seseorang yang sejatinya adalah kekasih dimasa kecilnya.
Satu satunya yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa bersalahnya pada Lea adalah dengan mengambil alih kekuasaan perusahaan milik ayahnya Rea, yang sudah sejak lama dikuasai oleh adik dari ayahnya Rea. Satu satunya perusahaan yang harusnya menjadi milik Laudrea. Tapi saat itu paman dari Rea mengambil dengan alasan Rea masih dibawah umur belum mengerti apapun.
Namun hingga Rea dewasa justru mereka semakin ingin menguasainya. Dan perlahan perusahaan itu dibuat menjadi bangkrut.
Dan saat itulah El juga telah beranjak dewasa berusaha mengambil perusahaan itu untuk dikembalikan kepada Rea yang tak lain adalah sepupunya.
Perlahan El mendekat.
"Salahkan aku Lea, aku yang sudah menyebabkan kamu kehilangan ingatan masa kecilmu, andai dulu aku tidak meminjam barang berharga milikmu, kamu tidak akan terjatuh dan mengalami koma karan benturan di kepalamu. Semua ini salahku, karna keisenganku!" sesal El seraya terus terisak.
"Katakan padaku El, benda apa itu? Tolong El ceritakan semuanya itu," pinta Rea pada El.
Lalu El pun menceritakan benda yang membuat Rea lebih memilih melindunginya daripada nyawanya sendiri. Sementara Firas hanya tertunduk.
"Maksudmu ini El?" Rea mengeluarkan benda itu dari dalam tasnya.
"Hmm, Lea, maafkan aku!" ucap El.
"Aku Laudrea El, bukan Lea."
"Tapi dulu kamu maunya dipanggil Lea, kamu selalu memperkenalkan dirimu sebagai Lea."
"Benarkah?"
Lihat aja inisial di benda kesayanganmu itu.
__ADS_1
Dan saat bersamaan ponsel Firas berdering.
Seketika semua menjadi hening.
"Fir cepatlah kembali ada masalah besar di kantor!" Ucap Leon dari seberang telpon.
"Masalah apa sehingga kau dan Daniel tidak bisa mengatasinya?"
"Fir, awas ular!!" teriak Rea tiba-tiba.
Dengan cepat Firas menghindar.
Namun ular itu sudah mematuk kakinya yang tidak mengenakan alas apapun karna tadi terburu buru saat mengejar sang istri.
Firas masih berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik.
Sementara Rea terus memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. Rea terus berusaha menahan diri. Dan sedikit demi sedikit bayangan itu semakin nyata, dirinya yang dulu sedang bermain dengan Fir dipinggir danau itu semakin jelas. Namun tiba tiba saat itu ular datang dan mematuk kaki Lea kecil.
"Aku ingat! Aku ingat semuanya Fir, El" ucapnya dengan antusias.
Namun kebahagiaan itu kembali meredup saat ia mendapati tubuh sang suami mulai melemah dan berusaha menahan tubuhnya untuk tidak bergerak.
"Rea bantu aku tubuh Fir semakin melemah karna gigitan ular tadi, kau lepaskan semua benda yang dikenakan Fir, aku akan menghubungi ambulans!" Leon mengeluarkan ponselnya sambil terus menekan bekas gigitan ular tersebut pada kaki Firas.
"Fir, bertahanlah Fir, aku akan menyelamatkanmu seperti kamu menyelamatkanku dulu, Fir bertahanlah! Aku mohon Fir demi aku, hiks hiks!" Rea terlihat begitu panik.
Ambulans datang.
Mereka segera melarikan Firas ke rumah sakit terdekat demi mendapatkan pertolongan pertamanya.
Dalam perjalanan Rea terus menangis.
Antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Ia begitu senang karna ingatan masa kecilnya kini kembali ia ingat.
Namun ia juga sedih kenapa harus ada korban dulu baru ia mengingatnya.
__ADS_1
Kini nyawa sang suami sedang dalam bahaya, karna gigitan ular saat di danau tadi.
Rea terus menangis selama perjalananya menuju ke rumah sakit.