
Tim dokter kini telah berhasil melakukan pertolongan pada Fir, namun kondisi tubuhnya masih lemah dan belum sadarkan diri.
Saat ini Fir, sudah menempati ruang perawatan. Tubuh lelaki itu terbaring dengan lemah di atas ranjang rumah sakit.
Rea duduk pada kursi yang berada di samping ranjang sang suami, menggenggam tangannya erat.
"Ini semua salahku, jika aku tidak berlari ke danau, kau tidak akan menyusul-ku bahkan tanpa alas kaki. Aku nyesel Fir, maafkan aku. Jika boleh memilih, aku lebih memilih tidak bisa mengingat kenangan masa kecilku daripada harus melihatmu lemah dan tak berdaya seperti ini Fir, bangunlah Fir. Aku rindu sikap posesif mu.." Rea menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami yang sedang terbaring tanpa sadarkan diri.
"Seperti yang kau bilang padaku Lea, tidak ada yang perlu disalahkan, semua yang terjadi pasti ada hikmah dan sisi positifnya bukan?" El mencoba menghibur sepupunya itu.
Diana dan Daniel telah tiba di parkiran rumah sakit, mereka berjalan dengan terburu-buru menuju ruang rawat Firas dengan raut wajah panik.
Sementara Leon tidak bisa ikut karna harus menyelesaikan masalah di kantor yang baru saja terjadi.
"Rea, apa yang terjadi?" tanya Diana dan Daniel yang baru saja memasuki ruangan rawat Firas.
"Bu, siapa yang menelpon Ibu? maaf Rea gak sempat kasih kabar karna panik," ucap Rea pada sang mertua.
"Mbak Mira yang tadi menghubungiku," sahut Daniel dan Rea hanya mengangguk.
"Bagaimana keadaan kaka sekarang?"
"Racunnya dari ular itu sudah berhasil dikeluarkan oleh dokter, hanya saja tubuhnya masih lemah itu sebabnya belum juga sadarkan diri," sahut Rea sendu.
"Tenanglah sayang, Fir pasti akan baik-baik saja, percayalah suamimu itu adalah orang yang kuat."
Mertua rasa ibu kandung itu mencoba memberi ketenangan pada sang menantu lalu memeluknya dengan begitu erat.
"Rea, aku bawakan cemilan kesukaanmu nih." Daniel menyodorkan sebuah bungkusan pada Rea.
Sementara Rea mengernyitkan keningnya heran, sudah lama sekali ia tidak berinteraksi dengan Daniel, mantan kekasih yang kini menjadi adik ipar itu.
Rea menerima bungkusan dari Daniel lalu membukanya.
Dan isinya ternyata cilok dengan bumbu kacang.
"Kamu masih ingat cemilan favoritku ternyata," ucap Rea canggung.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku akan selalu ingat Rea, dan anggap saja itu tanda pertemanan kita."
"Siapa juga yang berteman denganmu, jangan mimpi!" Rea menjulurkan lidahnya pada Daniel.
"Ya udah sini balikin ciloknya, gak mau berteman tapi cilok aku diambil!"
"Udah jangan pada ribut kasian Fir."
Namun dalam hati Diana sebenarnya merasa bahagia karena hubungan Daniel dan Rea tidak lagi seperti biasanya yang hanya acuh dan seakan menjadi musuh setelah peristiwa yang terjadi dihari pernikahannya.
"Fir, bangunlah rasanya aku ingin sekali menyuapi mu cilok ini, pasti kamu gak bakal suka kan hahaha!"
Tiba-tiba Rea teringat saat ia membeli cilok dan menyuapkannya pada Fir, dan dengan muka terpaksa ia menelannya hanya karna tidak mau mengecewakan sang istri.
Padahal pria itu sama sekali tidak menyukai cilok.
El datang kembali bersama Lisa.
"Rea, bagaimana keadaan suamimu?" tanya Lisa yang baru saja muncul diambang pintu.
"Seperti yang kamu lihat Lis, suamiku masih belum sadarkan diri." Rea kembali sendu.
"Ya Lis."
"Rea hari ini aku mau kembali ke Eropa, daddy sudah telpon aku terus, aku pamit ya, jaga dirimu baik baik, dan jangan lupa sampaikan salamku saat suami kamu sudah sadar, terimakasih udah ajak aku liburan di danau yang indah itu." kini mereka saling berpelukan.
"Terima kasih ya udah mau nemani aku liburan, walaupun akhirnya kurang berkesan karana kejadian ini."
"Is okay Rea, santai aja, aku pinjam sepupumu sebentar aja ya Rea," ucap Lisa dengan raut wajah wajah sedikit malu-malu.
"Ya, Lis. Lama juga gak apa, dia kan kekasihmu, kalo dia nakal digetok aja Lis!" mereka terkekeh.
Sebelum Lisa pergi, Rea mengenalkan ibu mertuanya pada Lisa.
Lisa menyapa dengan sopan. Setelahnya ia berpamitan.
"Lea, aku tinggal dulu sebentar ya!" Ucap El.
__ADS_1
"Ya, El. Hati-hati dijalan!" Rea mengingatkan.
Tidak lupa El pun pamit pada Diana, mertua dari sepupunya.
"Hati-hati Nak El!" Diana menatap El dan Lisa.
"Ya tante."
Mereka berdua pun berlalu meninggalkan rumah sakit.
Setelah kepergian El dan Lisa kini Rea kembali menatap sang suami.
Aku ingin sekali mengulang kembali kenangan masa kecil Fir, kita yang selalu bahagia. Kau sama sekali tidak menyangka jika kita adalah dua anak kecil yang saling mencintai dan berjanji untuk terus bersama . Dulu saat Daniel pergi meninggalkanku dihari pernikahan kami, aku pikir Tuhan sangat tidak adil padaku, ternyata inilah yang tuhan rencanakan. Pertemuan kita dalam kondisi dan situasi yang berbeda telah berhasil menyatukan kita. Rea berbicara dalam hati.
Tangannya terus mengelus lengan sang suami yang masih enggan untuk membuka matanya.
"Bangunlah pangeran ku, aku menunggu janjimu yang akan menjadikan aku Ratu dalam rumah tangga kita. Aku sudah tidak sabar memberitahumu jika aku sudah mengingat semua kenangan masa kecil kita." Rea terus berbisik pada telinga suaminya, berusaha terus mengajaknya bicara seperti saran dokter untuk membantunya cepat sadar dan kembali.
Sementara di kantor.
Leon sedang sibuk dengan beberapa masalah yang tiba tiba saja terjadi, puluhan investor dengan nilai yang cukup besar tiba tiba saja mengundurkan diri karna menganggap FiRas yang tidak lagi fokus pada perusahaannya itu.
Mereka merasa kecewa saat Firas tidak menghadiri meeting yang sangat penting bagi mereka.
Kini Leon sedang berusaha meyakinkan para investor tersebut dengan memberi tahu jika Firas Mahotra sedang dirawat di rumah sakit karana sedang mengalami musibah.
Pada akhirnya ada sebagian investor yang mengurungkan niatnya untuk menarik sahamnya dan menunggu kembalinya Firas dari rumah sakit.
Leon menarik napas lega, karna akhirnya usahanya meyakinkan kliennya itu berhasil.
Ia segera beranjak dari duduknya. Dan berniat menyusul Daniel dan Tante Diana nya itu ke rumah sakit tempat Firas dirawat saat ini.
"Akhirnya, satu maslah terselesaikan, ada hikmahnya juga Firas masuk rumah sakit, aku jadi punya alasan kan dengan klien, jika tidak ada kejadian itu entahlah apa yang akan aku jelaskan pada mereka."
"Astaga kenapa aku malah seolah olah bersyukur dengan keadaan Fir saat ini." gumamnya lagi.
Leon menghubungi Daniel dan menanyakan kondisi Fir saat ini.
__ADS_1
Hatinya kini menjadi sedikit tak tenang kala mendengar penuturan Daniel yang mengatakan Fir belum juga sadarkan diri meski racun dalam tubuhnya sudah berhasil dikeluarkan oleh dokter.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit.