
Erik berdiri di samping tubuh nilam yang terbaring di ranjang karna akan melakukan USG dan melihat perkembangan sang bayi di dalam perutnya.
Rasa haru dan bahagia seketika menyelimuti hati saat dokter menunjukan gambar sang bayi yang masih berada di rahim sang istri.
Lelaki itu mengelus lembut perut sang istri yang masih posisi terbaring.
NYES
Rasa sejuk seketika menyelimuti hati Nilam, saat sentuhan lembut dari tangan Erik itu mendarat diperutnya.
Wanita hamil itu memalingkan wajahnya ke arah lain saat merasakan bulir bening hampir saja mengalir dari sudut matanya.
Tapi lagi lagi Nilam merasakan sakit yang begitu menyayat hati membayangkan lelaki yang begitu ia cintai itu menyentuh wanita lain.
Sungguh hatinya kini benar benar sedang dilema dan bimbang dengan apa yang sebenarnya dirasakan pada laki laki yang kini telah menjadi suaminya itu.
Jujur ia akui lelaki itu sudah banyak berubah. Semenjak lelaki itu menyandang gelar status seorang suami, tak sekalipun lelaki itu keluar malam, lelaki itu selalu pulang kantor tepat waktu. Dan setelahnya akan menghabiskan waktunya di rumah dengan main Game dari ponselnya atau terkadang dari laptopnya.
"Nilam!" panggil Sera dari kejauhan.
"Sera?" sahut Nilam penuh tanya.
"Kamu udah nikah? habis periksa kandungan ya?" tanya Sera seraya menatap perut buncit Nilam.
"Ya, Ser. Kamu sendiri ngapain ada disini?"
"Oh, aku jengukin Laudrea yang baru saja melahirkan, anaknya cowok."
"Benarkah! Aku juga mau lihat donk Ser, dimana ruangannya?"
"Yok, aku juga mau ke sana, tadi beli minuman dulu di kantin." Sera menunjukan kantong plastik yang berada ditangannya.
Sera dan Nilam berjalan sambil menuju ruangan perawatan Rea sambil sesekali diiringi obrolan seputar masa lalu diantara mereka yang sempat renggang karna kelakuan Sera dan Rama saat dulu.
Sementara Erik mengekor dibelakang kedua wanita itu.
Ngomong ngomong soal Rama, membuat wanita yang bernama Sera itu jadi teringat tentangnya. Entah bagaimana kini kabar lelaki itu didalam sel tahanan atau sudah bebas dan pergi keluar negeri? Karna sejak saat itu mereka tidak pernah lagi berkomunikasi.
Tanpa terasa mereka telah berada didepan pintu ruangan Laudrea.
Saat pintu terbuka nampak semua keluarga Mahotra pun sedang berada didalam ruangan.
"Nilam! Kamu?" ucap Rea dengan antusias.
__ADS_1
"Rea, selamat ya udah jadi emak!" ucap Nilam seraya memeluk lalu mencium pipi kanan dan kiri Rea.
"Makasih Lam, kamu juga sebentar lagi sepertinya?" sahutnya seraya mengelus perut buncit Nilam.
"Ya Rea, HPL nya bulan depan, barusan saja melakukan kontrol ke dokter kandungan!" jelas Nilam.
"O'ya, cewek cowok?" tanyanya lagi.
"Kebetulan cewek Rea, jadi kita nanti bisa menjodohkannya?!" seloroh Nilam yang membuat semua orang yang berada didalam ruangan itu terkekeh.
"Zaman sekarang sudah jarang ada acara perjodohan dari orang tuanya. Namun terkadang kita sebagai seorang anak lepas kontrol oleh kebebasan!" ucap Sera penuh sesal.
"Kamu benar Ser," timpal Nilam seraya menghela napas berat.
"Tapi tidak dengan aku ya, hanya saja aku terkadang merasa tidak beruntung saja karna tidak memiliki orang tua hingga aku besar. Terkadang aku sangat merindukannya, tapi saat itu terjadi aku selalu pergi ke rumah mama Diana bersama Daniel ya walaupun akhirnya aku menikah dengan manusia salju itu!" Rea menunjuk arah sang suami yang sedang fokus pada layar laptopnya lalu setelahnya terkekeh.
"Tapi alhamdulillah sekarang bukan lagi manusia salju, malah sekarang suami terbaik untukku," ucapnya lagi dan berhasil membuat Firas menyimpulkan senyuman dibibirnya.
Mendengar perkataan Rea sontak saja Daniel dan Sera membeku seketika setelahnya saling tatap dengan raut wajah malu yang ditunjukan kepada semua orang lalu secara serempak mengucap kata maaf.
"Ups, maaf aku tidak bermaksud menyindir kalian! Hahaha!" ucap Rea seraya tertawa melihat ekspresi keduanya.
"Tidak apa Rea, aku juga merasa dulu aku begitu jahat sama kamu!" sesal Sera.
Setalah beberapa obrolan mengiringi pertemuan mereka, kini Nilam pamit pulang pada semua orang yang berada di sana.
"Erik!" panggil Rea pada Erik.
"Ya, Rea."
"Tolong, sayangi dia. Jangan sia - sia kan!" pintanya kemudian.
"Tenang saja Rea, aku tidak sebajingan yang dulu." Erik tersenyum pada Rea lalu menatap Nilam yang kini menundukkan wajahnya malu.
"Lam, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini! Tapi semua orang berhak mendapatkan kesempatan yang kedua, aku yakin Erikmu akan lebih baik!"
"Semoga saja Rea, terima kasih semua berkat nasihatmu hingga aku masih bisa bertahan sampai saat ini. Kamu memang teman terbaik Rea, terkadang aku merasa malu sendiri atas perbuatan aku dulu!" sesal Nilam.
"Tidak apa - apa, semua sudah jadi masa lalu." Rea tersenyum seraya mengusap lengan Nilam.
Tanpa mereka sadari ada seseorang perempuan yang mengenakan masker sedang mengintip dibalik pintu ruangan Laudrea.
"Aku sama sekali tidak menyadari jika ternyata kamu masih hidup Lea, pantas saja Samuel mati matian mengambil kembali perusahaan ayahmu!" gumamnya lirih.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya Nilam penuh curiga pada seorang perempuan yang sedang berdiri didepan pintu saat Nilam keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf, aku salah kamar!" wanita itu berlalu pergi.
Nilam mengernyitkan keningnya heran namun setelahnya iapun berlalu pergi dengan Erik mengekor dibelakangnya.
"Orang itu mencurigakan, kasih tahu temanmu! agar lebih waspada," Erik mengingatkan Nilam.
"Ya kamu benar, aku akan menelponnya nanti!" sahut Nilam.
"Kita kemana sudah ini?" tanya Erik.
"Mampir baby shop ada sesuatu yang mau aku beli!"
"Hmm," sahut Erik seraya mengangguk.
Ditempat lain.
"Tuan El, saya mendapat laporan dari anak buah saya tentang ini." ucap orang kepercayaan samuel seraya menunjukan sebuah Video.
"Baiklah, awasi saja terus jangan sampai dia berbuat lebih jauh lagi!"
"Baik Tuan El!"
"Kali ini aku tidak akan membiarkan dia berbuat sesuatu seperti saat Lea masih kecil. Sepertinya dia lupa jika aku sekarang sudah dewasa, bukan lagi seorang El kecil yang hanya akan diam saja saat melihat sepupu kesayangan menderita!" lirihnya dalam batin. Tangannya terkepal erat.
"Aku harua segera menemui Lea dan Firas untuk mengatakan semua yang berkaitan dengan masa lalu keluarga Om Sultan!" gumamnya kemudian seraya bangkit dari kursinya.
Saat bersamaan pintu ruangan terbuka dan muncul sosok wanita yang selama ini mengganggu pikirannya.
"Hai, apa kabar?" sapa wanita cantik yang kini berdiri diambang pintu.
"Aku, baik. Sejak kapan kau kembali? Dan kenapa tidak mengabari aku Lisa?" Samuel menarik tangan wanita itu dan membawanya ke sofa
"Baru saja El, dan langsung menemui kamu disini."
"You don't miss me?" tanya El kemudian.
"Kenapa pertanyaan mu seperti El, tentu saja aku sangat merindukanmu!" Lisa melayangkan protes pada El, yang menanyakan pertanyaan bodoh menurutnya. Karna wanita itu selalu saja merindukan kekasihnya itu.
Menjalani hubungan secara LDR tidak membuat wanita itu bisa berpaling sedikitpun dari lelaki pujaannya.
Setelahnya mereka saling memeluk melepas kerinduan yang selama ini terpendam karena terpisah jarak dan waktu.
__ADS_1