
"Paman mau kemana?" tanya Alex yang baru saja tiba.
"Mencarimu, Luna terus terbatuk. Apa kau sudah dapat obatnya?"
"Ini paman, minumkan segera pada bibi," titah Alex.
"Kau yakin ini obat batuk, kau tidak berniat membunuh istriku kan?" tanya Sultan penuh selidik.
"Mana mungkin paman, jika aku berniat demikian pasti sudah sejak dulu aku melakukannya."
"Baiklah aku percaya denganmu!"
Malam harinya semua penjaga tertidur dengan lelap tak seperti biasanya.
"Paman, kita harus keluar dari sini, mumpung semua penjaga tertidur!" bisik Alex di dekat telinga Sultan yang juga mendapat anggukkan antusias dari lelaki paruh baya tersebut.
lelaki paruh baya itu mengangkat tubuh sang istri yang terlihat lemah, lalu mengikuti jejak Alex.
"Alex apa kita tidak akan ketahuan oleh para penjaga kejam dan bengis itu?" tanyanya dengan penuh khawatir.
"Tidak paman, aku telah mencampur minuman mereka dengan obat tidur dosis tinggi, mereka akan terbangun besok pagi setelah kita berhasil keluar dari tempat terpencil ini!" sahutnya dengan penuh keyakinan.
"Kita akan pergi menggunakan apa dari sini?"
Namun saat bersamaan, Riana dan suaminya itu muncul.
"Mau kemana kalian, jangan coba coba untuk kabur dari sini ya!" ucapnya dengan tatapan tajam.
"Alex!" teriaknya pada Alex
Beruntung dirinya belum muncul bersamaan kedatangan mereka, jika tidak maka sudah dipastikan dirinya akan habis dihajar oleh pasangan kejam itu.
"Iya nyonya," sahutnya terkesiap
"Apa saja kerja kau kenapa tawanan akan kabur kau biarkan hah!"
__ADS_1
"Maaf nyonya, saya tidak sebab saya berjaga sendirian semua penjaga yang lain sedang tidur!" tutur Alex.
"Seret mereka berdua!" titahnya.
"Cukup Riana, apa mata hatimu benar benar sudah buta, aku pamanmu Riana! Tidak adakah dalam benakmu itu sedikit rasa iba hingga terus memperlakukan aku seperti ini!" cercahnya dengan amarah begitu membuncah.
"Rasa iba itu sudah hilang bersama kepergian ayahku paman, semuanya terjadi karna kau yang terlalu keras kepala, seandainya saja kau dulu mau menandatangani berkas yang ayahku bawa saat itu ayah tidak akan marah dan mengalami kecelakaan!"
"Itu semua karna kesalahannya sendiri, tidak ada hubungannya denganku Riana!"
"Jelas ada, semua gara gara kau yang menolak tanda tangan dan membuat ayahku marah dan darah tingginya naik, sehingga dirinya menjadi kecelakaan saat mengemudikan mobil!"
Sultan hanya menggeleng gelengkan kepalanya heran dengan tingkah sang keponakan yang selalu saja menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa kakak semata wayangnya itu. Padahal sudah jelas jelas itu karna kesalahannya sendiri.
Lelaki paruh baya nampak frustasi, jika saja ia tidak ingat dosa sudah lama sekali keponakannya itu bunuh. Jika saja ia tidak memikirkan kondisi sang istri yang saat ini lumpuh, dirinya sudah pasti memberontak diperlakukan seperti ini selama bertahun tahun. Namun dirinya selalu mengutamakan sang istri yang tidak mudah ia bawa pergi dengan kondisinya yang seperti sekarang ini. Terlebih ia tidak punya pegangan apapun jika ia harua membawa istrinya pergi dari tempat itu sejak dulu.
Sejenak ia termenung, mengingat tentang anak semata wayangnya yang sama sekali tidak ia ketahui keadaannya dan keberadaannya, ataukah masih atau sudah meninggalkannya untuk selamanya. Namun menurut firasat sang istri anak perempuan semata wayangnya itu masih hidup.
"Sayang aku punya ide!" seru suami dari Riana tiba tiba lalu berbisik didekat telinga sang istri.
Seketika seringai jahat terukir diantara keduanya. Keduanya langsung bergegas pergi meninggalkan lokasi dan akan segera menjalankan rencananya. Namun sebelum pergi mereka menarik dan mengurung Sultan dan Luna terlebih dahulu.
"Rencana apa lagi yang akan mereka lakukan?!" gumam Sultan frustasi.
"Maafkan aku paman, aku gagal membawa paman dan bibi keluar dari tempat ini!" sesal Alex.
"Mungkin sudah nasib kami harus hidup dalam tawanan keponakan sendiri hingga kami mati kelak!" lelaki patuh baya itu menatap sang istri yang semakin hari kondisinya semakin lemah.
"Aku akan cari cara paman, agar paman dan bibi bisa keluar dari tempat ini!"
"Tidak usah Lex, aku tidak mau kau terkena masalah gara gara kami."
"Tapi aku juga sudah bosan berada ditempat ini paman, sekarang tidak lagi yang harus aku takutkan atas ancaman Riana dan suaminya karna ibuku sudah meninggal. Jika kemarin mereka selalu mengancam tentang ibuku agar aku bertahan disini, tapi tidak untuk sekarang karna aku sidah tak mempunyai siapapun lagi yang harus aku lindungi!"
"Siapa yang memberitahukan jika ibumu sudah meninggal ?"
__ADS_1
"Tadi saat membeli obat, aku meminjam ponsel seseorang dan menelpon seseorang yang selama ini merawat ibu."
Sultan menghembuskan napas berat.
Sementara ditempat lain.
Lea yang sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit, tiba tiba saja dibekap dan diseret seorang laki laki yang mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
Sesaat Lea menoleh dan mengamati wajah orang tersebut, tapi setelahnya wanita itu jatuh pingsan karna efek dari obat bius.
Mereka dengan leluasa membawa wanita itu memasuki mobilnya dan menuju ke suatu tempat.
Memakan waktu perjalanan 4 jam lamanya barulah mereka sampai ditempat terpencil yang jauh dari jangkauan masyarakat, satu satunya Vila yang berada di atas bukit yang cukup terpencil.
"Eughhh" terdengar suara lenguhan dari mulut seorang wanita yang baru saja membuka matanya.
"Dimana aku?" mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan yang begitu asing dalam pandangannya.
"Ternyata kau sudah sadar!" suara bariton seorang laki laki dan wanita itu segera menoleh ke sumber suara.
"Siapa kau, kenapa kau membawaku kesini?" tanyanya seraya mengingat kejadian sebelumnya, ia ingat betul bukan lelaki itu yang tadi membekapnya dan membawanya kedalam mobil. Walaupun lelaki itu menggunakan masker tapi ia bisa mengenali dengan jelas.
"Aku hanya penjaga yang terpaksa berada disini!" sahut lelaki itu datar.
"Apa kau tahu siapa yang membawamu kesini dan apa tujuannya?" tanya lelaki itu lagi dan Lea hanya menggeleng.
"Minumlah air putih ini!" Alex menyodorkan segelas air putih pada Lea namun Lea hanya menatap air putih tersebut.
"Tidak usah takut ini air putih biasa, aku tidak akan menyakitimu, di ruangan lain juga ada sepasang suami istri yang telah bertahun tahun menjadi tawanan bosku tapi aku tidak pernah punya niat untuk menyakitinya." tutur Alex dan berhasil membuat Lea percaya lalu meraih gelas yang berisi air putih.
Sementara di sana di rumah sakit Firas sedang kalang kabut mencari keberadaan istrinya yang tiba tiba saja hilang.
Saking paniknya ia bahkan hampir lupa untuk mengecek rekaman CCTV rumah sakit.
Lelaki itu menelpon semua orang dengan perasaan yang begitu panik dan khawatir.
__ADS_1
"Fir, apa kau sudah mengecek CCTV rumah sakit ini?" tanya Samuel yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Astaga, saking paniknya sampai lupa dengan CCTV!" kedua lelaki itu bergegas menuju ruangan CCTV atas petunjuk petugas keamanan rumah sakit.