
Malam itu hujan begitu lebat mengguyur semesta.
Seorang wanita yang sedang hamil muda terduduk lemah di tepi kasurnya sembari memegangi perutnya.
Entah untuk yang keberapa kalinya wanita itu memuntahkan isi perutnya.
Diliriknya jam dinding berukuran besar di atas pintu.
"Sudah hampir jam 11 malam, kenapa Fir belum juga pulang, handphone nya juga tidak bisa dihubungi. Semoga kamu baik baik saja Fir," gumamnya dengan penuh kekhawatiran.
Lagi lagi rasa mual diperutnya kembali terasa. Rea berlari lagi kearah kamar mandi. Untuk memuntahkan kembali isi perutnya yang hanya tersisa cairan kuning yang begitu terasa pahit di tenggorokan.
Rasanya wanita itu tidak sanggup lagi berdiri dan beranjak dari mandi karena tubuhnya yang terasa begitu lemas.
Tok tok tok...
Samar - samar terdengar bunyi ketukan pintu kamarnya. Namun tubuhnya yang sudah begitu lemah tak mampu lagi untuk berdiri.
"Rea, sayang! Kamu sudah tidur nak?" teriak sang mama mertua dari luar kamarnya.
Hening
Tak ada jawaban apapun dari dalam sana.
Diana yang sejak tadi merasa khawatir karna menantunya bahkan tidak keluar makan malam bersama.
"Lea!!" panggilnya lagi.
Lagi - lagi tidak ada jawaban dari sang menantu.
Diana mencoba meraih knop pintu ternyata tidak dikunci. Lalu membukanya pelan.
Setelah pintu terbuka Diana mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan kamar itu.
Tidak ada sang menantu lalu ia berjalan ke kamar mandi.
"Astaga, Rea!!!" Diana berteriak hingga terdengar terdengar ke lantai bawah karna pintu kamar itu terbuka lebar.
"Rea sayang, kamu kenapa nak?" ucap Diana cemas.
Sementara Firas dan Leon yang baru saja tiba dan memasuki ruang tamu langsung berlari menaiki anak tangga, tak lagi melalu Lift saking paniknya.
"Ibu, istriku kenapa?" dengan raut wajah yang begitu panik.
__ADS_1
"Ibu tidak tau Fir, baru saja ibu masuk karna dari sejak makan malam Rea tidak keluar kamar dan tidak makan sepertinya," ucap Diana seraya melihat makanan yang dibawakan oleh mbak Ratna itu masih utuh di atas meja.
Firas meraih istrinya, menggendongnya dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Sayang, bertahanlah sayang, kita akan ke rumah sakit."
"Leon siapkan mobil," titahnya pada sepupunya itu.
"Baik Fir," sahutnya lalu bergegas menuju garasi dan mengeluarkan mobil yang baru saja berhasil ia parkir.
Dalam perjalanan Diana terus menangis merasa khawatir pàda menantunya itu.
"Rea, sayang bertahanlah nak."
Tak berapa lama mereka tiba di rumah sakit dan Rea langsung mendapatkan pertolongan pertama diruang ICU.
Jangan ditanya bagaimana raut wajah Firas saat ini, batu saja pulang bekerja dari luar kota, namun saat tiba di rumahnya justru mendapatkan istrinya sudah tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi.
Wajah lelah yang bercampur khawatir itu terlihat begitu menyedihkan.
Firas terduduk lemah di kursi tunggu menanti kabar dari dokter yang sedang melakukan penanganan pada sang istri tercinta.
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar pandangannya kosong menerawang jauh memikirkan kemungkin kemungkinan dari kondisi sang istri.
"Fir, tenanglah. Istrimu akan baik baik saja percayalah." sang ibu menenangkan.
"Tidak perlu disesali Fir, berdo'alah Rea dan kandungannya akan baik baik saja!" sang ibu memberi semangat.
"Mudah mudahan bu, sebab kalo sampai terjadi apa - apa, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Tak lama dokter keluar dari ruang ICU.
"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?"
"Istri anda mengalami dehidrasi yang sangat berlebihan akibat terus memuntahkan isi perutnya tapi tidak diselingi meminum air putih sehingga cairan didalam tubuhnya terkuras habis. Tapi kami sudah melakukan penanganan hanya saja istri belum sadarkan diri."
"Baik dok, Apa saya bisa menemui istri saya?"
"Silahkan pak, sebentar lagi perawat akan memindahkannya keruang perawatan," ujar dokter itu lagi.
"Sayang, aku udah datang. Bangunlah sayang! Buka matamu. Aku janji tidak akan pulang malam - malam lagi dan membiarkanmu sendirian menghadapi masa sulitmu mengandung anak kita." lelaki itu terus menangis dan mengusap kepala sang istri dengan sayang.
"Maafkan suamimu ini sayang, hukumlah suamimu yang telah tega membiarkanmu sendirian sayang, asal kamu bangun. Aku tidak bisa melihatmu lemah seperti ini Lea ku." mengecup lama tangan sang istri.
__ADS_1
Sungguh lelaki itu tidak sanggup menyaksikan istrinya terbaring lemah di rumah sakit seperti saat ini. Perasaannya begitu hancur melihat semua itu.
"Maaf pak, kami akan segera memindahkan istri bapak keruang perawatan," ujar salah satu perawat.
Firas beranjak lalu ikut mendorong sang istri keruang perawatan.
Hingga pagi menjelang.
"Fir, ini sudah pagi, apa tidak lebih baik kau pulang dulu nak, ganti pakaianmu dan bersihkan dirimu." sang ibu mencoba mengingatkan.
Seorang ibu mana yang tega melihat anaknya begitu kacau pakaian kusut dan rambut yang acak acakan karna sejak sepulangnya dari luar kota sama sekaki belum mengganti pakaian apalagi membersihkan dirinya.
"Aku tidak akan kemana - mana sebelum istriku sadarkan diri bu." Firas terus memegang tangan sang istri.
"Tante, biar aku saja yang pulang untuk membawakan pakaian ganti buat kakak, nanti aku mampir sekalian pergi kekantor," ucap Leon yang juga tak kalah kacau penampilannya dari Firas karna sama - sama baru saja tiba dari luar kota.
"Aku ikut Le, aku juga mau berganti pakaian."
"Baiklah tante, Ayok!"
Tante dan keponakannya itupun segera pergi meninggalkan rumah sakit.
"Leon sebaiknya kau istirahat saja dulu tidak usah pergi kekantor dulu, aku mau jika kau juga ikut sakit karna kurang istirahat," titah Diana kepada keponakannya itu.
"Hanya sebentar saja tante, aku hanya mau mengecek hasil meeting kemarin diluar kota, sudah itu aku akan pulang dan istirahat," sahutnya.
"Baiklah jika seperti itu, terserah kamu saja."
Sesampainya di rumah disambut oleh Mahotra yang baru saja pulang dari luar kota juga untuk urusan bisnisnya.
"Bagaimana keadaan menantu kita?" tanyanya pada Diana.
"Sudah ditangani dokter yah, hanya saja belum sadarkan diri akibat dehidrasi yang berlebih."
"Ceroboh sekali menantuku, apa didalam kamarnya tidak disediakan air putih oleh Ratna."
"Ratna!" serunya kemudian.
"Ya tuan," jawab Ratna tergopoh
"Air putih dikamar menantuku jangan sampai kosong jangan kejadian seperti ini terulang lagi, aku tidak mau menantu dan calon cucuku mengalami dehidrasi karna kelalaian mu yang tidak mengecek air putih di kamarnya!" Mahotra mengingatkan para ART nya untuk terus mengecek air minum dikamar menantunya yang sedang hamill muda itu
"Baik tuan, saya akan selalu mengecek air putih di kamar Non Rea dan Tuan muda Firas," sahutnya patuh.
__ADS_1
"Mandilah Diana sebentar lag aku juga mau ke rumah sakit, melihat kondisi menantu dan calon cucuku yang didalam perutnya."
Wanita berusia hampir 50 tahun itu tapi masih terlihat begitu cantik itu pun meninggalkan ruang tengah dan segera membersihkan dirinya.