Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
51. Kembali pulang


__ADS_3

Pagi menjelang.


Rea kini sedang berkemas barang untuk pulang dari rumah sakit.


"Pagi sayang,"sapa Firas yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.


"Pagi juga."


"Sarapan pagi untukku mana?" tanyanya pada snag istri.


"Ini." Rea menunjuk makanan yang berada di atas meja kecil pada ruangan tersebut.


"Apa itu, aku gak mau yang itu. Aku maunya sarapan yang lain."


"Lah, bukannya kamu yang pesan sendiri makanan itu tadi di online," sahut Rea heran.


"Ya, tapi aku maunya sarapan yang lain dari kamu."


Firas bergelayut manja pada pinggang sang istri yang kini sedang berkemas barang barangnya karena hendak pulang ke rumah pagi ini.


"Fir, aku tidak bisa bergerak jika kamu menempel seperti ini," keluhnya pada sang suami yang terus memeluk tubuhnya dari belakang.


"Makanya kasih aku vitamin pagi dulu, setelah itu kamu bebas bergerak lagi istriku."


"Makan dulu baru boleh minum vitamin suamiku."


"Haish, bikan Vitamin yang di minum tapi vitamin yang dikecap di lidah."


"Emang ada ya, vitamin apa itu?"


"Vitamin B sayang."


"Vi..." belum selesai Rea bicara, Firas ******* bibirnya dengan begitu lembut. Semakin lama dan semakin terhanyut dalam setiap sesapan yang mereka ciptakan pagi itu, hingga akhirnya Rea kehabisan napas dan tersengal barulah Firas melepaskan tautan bibirnya pada sang istri.


"Itu mananya vitamin B sayang," ucap Firas seraya mengusap bibir sang istri menggunakan jarinya lembut.


"Ish, dasar omes!" ucap Rea seraya berlalu pergi menuju kamar mandi guna merapikan kembali lipstik di bibirnya yang pasti saat ini sudah tidak berbentuk lagi.


Firas menatap sang istri yang berjalan sambil terus mengomel lalu terkekeh karna merasa lucu saat bibir mungil sang istri terus bergerak seperti itu.


Saat bersamaan pintu ruangan terbuka dan nampak sosok sang ibu dan ayahnya yang datang untuk menjemputnya kembali ke kota.


"Pagi ayah, ibu," sapa Firas dengan hangat.


"Kau sudah lebih baik Fir?" tanya sang ayah.


"Sudah ayah, ayah sendiri apa kabar? bagaimana dengan perusahaan kita di London?"

__ADS_1


"Ayah sudah memutuskan agar Daniel saja yang mengelola perusahaan di sana, ayah sudah renta rasanya tak sanggup lagi jika terus bolak balik London - indonesia setiap bulan."


"Ayah sudah membicarakannya dengan Daniel, lalu apa dia bersedia?"


"Ya, dia sudah menyanggupinya."


"Kalo begitu aku akan menyuruh Leon untuk mencari pengganti Daniel di kantor. Aku tidak mau jika istriku yang harus menggantikannya. Pekerjaan Daniel cukup berat dan menguras otak."


"Atur saja bagaimana baiknya. Dan istrimu sebaiknya fokuslah dengan pernikahan kalian, aku sudah menginginkan seorang cucu," ucap Mahotra.


Mahotra langsung membayangkan saat ia menimang cucu kelak, ia akan menghabiskan sisa umurnya untuk bermain dengan sang cucu. Sungguh itulah impian terindahnya.


"Ayah tenang saja, setiap malam kita terus bekerja keras untuk mewujudkan keinginan ayah."


"Ibu, ayah," sapa Rea yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang, ibu bawakan sarapan kesukaanmu." Diana menunjukan sebuah kantor yang berisi bubur ayam bandung kepada menantu kesayangannya.


"Satu aja?" tanya Firas.


"Ya, hanya untukku!" Rea menjulurkan lidahnya hingga terlihat seperti Lea kecil yang sedang mengejeknya seperti dulu.


Hal itu membuat Firas merasa semakin gemas saja.


Jika saja sedang tidak ada kedua orang tuanya, Firas sudah kembali ******* bibir sang istri yang kini telah menjadi candu baginya.


Firas berjalan menghampiri sang istri lalu mengambil makanan miliknya yang sudah tersedia sejak tadi.


Setelah empat jam perjalanan kini mereka telah tiba di kota.


Di tempat lain.


Nilam yang juga baru saja tiba di rumahnya disambut hangat oleh kedua orang tuanya.


"Lam, kau sudah kembali. bagaimana liburannya di desanya Ranti?" tanya sang mama.


"Sangat menyenangkan ma. Mama masih di rumah ternyata, aku kira sudah berangkat lagi."


"Sepertinya mama akan menetap disini beberapa bulan Lam, capek bulak balik terus."


Seketika jantung Nilam seakan berhenti berdetak mendengar sang mama akan menetap disini.


Bagaimana dengan kehamilannya, ia tidak mungkin lagi bisa menutupi dari sang mama, rasa mual yang dialami tiap pagi pasti akan membuat mamanya curiga dan bertanya banyak hal.


Seketika Nilam membisu memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Hancur sudah hidupnya. Apa yang harus Nilam katakan padan sang mama, sementara lelaki yang bernama Erik itu menghilang entah kemana.


Dan benar saja, baru saja ia pergi ke dapur untuk mengambil air putih, perutnya kembali terasa mual saat mencium aroma masakan yang telah tersaji di atas meja makan yang tak jauh dari dapur.

__ADS_1


Huek huek huek.


Terdengar jelas suara Nilam yang sedang muntah di dalam kamar mandi.


Sang mama langsung menghampiri Nilam.


"Nilam, kamu kenapa sayang?" tanya sang mama panik.


Hening.


Hanya ada suara Nilam yang terus memuntahkan isi perutnya.


"Nilam, buka pintunya sayang, biarkan mama masuk!" seru sang mama yang semakin panik.


"Tidak apa ma, mungkin Nilam masuk angin atau kecapekan dalam perjalanan," sahut Nilam yang kini telah berada diambang pintu kamar mandi.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di kamar. Nanti kalo tetap seperti itu kita periksa ke dokter." sang mama mengusap lengan Nilam dengan lembut


"Ya ma, aku ke kamar dulu," pamit Nilam kemudian.


Sambil berjalan Nilam terus memikirkan. Reaksi kedua orang tuanya jika mengetahui anak semata wayangnya hamil diluar nikah, entah apa yang akan terjadi. Ditambah lagi Erik kini telah menghilang entah kemana.


Wanita itu masuk kedalam kamarnya, terduduk di atas kasurnya dan mengacak rambutnya frustasi.


Menyesal juga tidak ada guna, semua sudah terjadi. Kehamilannya tidak akan bisa disembunyikan selamanya dari kedua orang tuanya itu. Cepat atau lambat orang tuanya akan tahu bersamaan perubahan tubuh dari Nilam yang pasti sudah akan terlihat jelas dari perutnya yang semakin membuncit kelak.


Nilam menarik rambutnya sendiri dengan begitu kuat. Bagaimana caranya memberi tahu sang mama jika dirinya kini tengah hamil.


"Arrgghhh, Erik brengsek!" teriaknya seraya terus memukul bantal dengan begitu emosi.


"Aku harus mencari mu Erik, kau harus bertanggung jawab dengan bayi yang ada didalam kandunganku. Ini anakmu erik!" Nilam beranjak dari kasurnya, mengusap air matanya. Lalu menyambar tasnya dan kunci mobilnya.


Ia pergi diam diam tanpa sepengatahuan sang mama yang kini sedang berada di dalam kamarnya.


Nilam kembali mencoba mendatangi apartemen milik erik yang juga miliknya karna dirinyalah yang membayar cicilannya selama ini.


Melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh dan berharap untuk secepatnya tiba di apartemen.


30 menit perjalanan ia tempuh kini ia telah berada diparkiran unit miliknya.


"Pak Ben, apa Erik sudah kembali ke apartemen ini?" tanya Nilam pada satpam yang berjaga.


"Kalau tidak salah sudah kembali mbak tapi...."


"Oke pak, terimakasih aku keatas dulu." Nilam memotong perkataan pak satpam.


Dengan segera Nilam naik keatas.

__ADS_1


Membuka pintu apartemen dengan terburu buru.


"Erik!!!! Teriakan Nilam menggema saat melihat sepasang manusia yang sedang melakukan olahraga ranjang di atas sofa yang tepat berada di depan pintu.


__ADS_2