
Seorang wanita sedang berada di kantor polisi. Wanita itu menangis meratapi nasib sang lelaki pujaannya yang kini berada dibalik jeruji besi.
"Ram, siapa yang telah melakukan ini padamu?" tanyanya dengan pilu.
Rama hanya tersenyum kecut menanggapi wanita yang kini berada dihadapannya. Wanita yang begitu mencintainya, rela melakukan apapun demi cintanya yang begitu besar.
"Rama, katakan padaku! Siapa yang melakukan ini padamu?"
"Seperti halnya kamu Sera yang rela melakukan apapun demi cinta, begitu pun denganku. Aku akan melakukan apapun demi bisa mendapatkan Laudrea."
"Jadi semua yang terjadi padamu sekarang karna Laudrea?" tanyanya dengan penuh sesal.
Rama kembali tersenyum kecut.
"Sadarlah Rama, Laudrea itu sudah menikah kamu tidak mungkin lagi bisa mendapatkannya!"
"Aku akan mendapatkannya apapun caranya!" Rama berteriak dan terlihat begitu marah pada Sera.
"Bagaimana caranya! Kau saja mendekam disini hah!" Sera berucap dengan nada tinggi dan juga penuh amarah.
Wanita itu begitu kesal dengan pria keras kepala bernama Rama Wiratama itu yang tidak juga sadar akan harapannya yang tidak mungkin lagi bisa terwujud apalagi lawannya adalah keluarga Mahotra.
"Tunggu saja, setelah aku keluar dari sini aku akan kembali berjuang untuk mendapatkannya!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Ram, lihat aku!" kedua tangan Sera meraih wajah Rama. "Tidak adakah sedikit saja ruang di hatimu untukku?" Sera berucap penuh harap dan matanya mulai berkaca - kaca.
Sejenak Rama menatap wajah wanita yang selama ini begitu mencintainya. Diraihnya tangan yang kini berada diwajahnya. "Dua tahun Sera, dua tahun aku mencoba membuka hati untukmu berusaha menempatkan namamu dalam hatiku, tapi tak ada sedikitpun ruang yang berhasil terbuka untukmu, semuanya tertutup dengan nama Laudrea, wanita itu menutup seluruh ruang dalam hatiku. Sakit Ser! bahkan sangat sakit saat aku tidak bisa menerima semua ini, hatiku begitu sakit Ser!" Rama mulai menangis tersedu mengeluarkan air matanya yang sejak lama sudah mengering.
"Ram, aku tau aku juga merasakan yang kamu rasakan, aku begitu mencintaimu tapi kau sama sekali tak pernah bisa mencintaiku. Aku tahu Ram, itu rasanya sangat sakit, saaaaaaaaangat sakit!" Kini Sera pun menangis pilu akan nasib cintanya yang tidak juga terbalaskan.
Rama mendekap tubuh mungil Sera dengan begitu erat, rasa bersalahnya semakin besar pada wanita yang begitu mencintainya karna tak sedikitpun ia bisa membalasnya. "Maafkan aku Sera, maafkan aku!" tangisannya semakin pilu
"Katakan padaku Ram, apalagi yang harus aku lakukan agar kau bisa membalas cintaku sedikit saja Ram, katakan Hik hik!" Sera terus menangis seraya tangannya terus memukul punggung lelaki yang kini mendekapnya.
__ADS_1
Bukan dekapan penuh cinta yang Sera dapatkan melainkan dekapan penuh rasa sesal dan bersalah dari seorang Rama karna tidak bisa membalas cinta tulus dari dirinya.
"Maafkan aku Sera. Aku juga mengerti dengan apa yang kamu rasakan karna aku juga merasakannya Sera, kenapa Sera? Kenapa begitu sakit?"
Sera melepaskan dirinya dari dekapan Rama. Mengusap air mata pada wajah Rama.
"Baiklah Ram, jika memang sudah tidak ada ruang di hatimu untukku aku akan mencoba merelakan semuanya. Jaga dirimu baik baik, aku akan pergi! Tapi ingatlah selalu, jika kau tidak punya harapan lagi, datanglah padaku aku akan menerimamu Ram, kapanpun itu!"
"Terima kasih Sera. Tapi kau akan pergi kemana?" kini Rama yang mengusap air mata pada wajah cantik Sera.
"Entahlah Ram, mungkin ikut mama dan papa keluar negri."
Entah kenapa Rama merasa sedikit keberatan akan kepergian wanita yang mencintainya dengan segala ketulusan bahkan rela melakukan apapun hingga membuat resiko berbahaya dalam hidupnya sendiri.
Akhirnya Sera pun pamit undur diri dari hadapan Rama.
"Sera..." lirih Rama saat melihat wanita itu semakin menjauh darinya.
"Perasaan apa ini, aku tidak pernah mencintainya tapi kenapa aku tidak rela mendengar bibinya berkata rela dan pergi dari hidupku." Rama terus bergumam sendiri.
Dan kini pikirannya kembali mengingat perbuatannya pada wanita yang bernama Laudrea.
Tidak Ram, itu bukan cinta, Itu obsesi. Dirimu terlalu terobsesi pada seorang Laudrea. Cinta tidak seperti itu Ram, cinta akan membiarkan seseorang bahagia dan kita cukup bahagia melihat orang yang kita cintai itu bahagia.
Batinnya terus berperang.
Sementara Sera kini sedang berkemas barang - barang miliknya. Wanita itu sudah memutuskan akan meninggalkan indonesia, meninggalkan cintanya yang tidak pernah bisa digapai, merelakan semua yang harus direlakan.
Percayalah Sera, kau pasti bisa merelakan seseorang yang tidak akan pernah bisa menerimamu, menerima semua cinta tulus mu, cinta buta mu dan semua pengorbanan yang kau lakukan untuknya.
Percayalah kelak kau akan menemukan cinta yang sesungguhnya.
Meski rela tak semudah kata.
__ADS_1
Sera terus memberi semangat pada dirinya sendiri.
Begitu banyak kesalahan yang ia lakukan terhadap wanita yang bernama Laudrea. Menggagalkan pernikahannya merebut calon suaminya. Dan semua itu wanita itu lakukan hanya untuk membuktikan cintanya pada seorang pria yang sangat dicintainya. Cintanya yang buta telah menuntunnya ke jalan yang salah, jalan yang sesat.
"Maafkan aku Rea, Daniel. Aku tahu kesalahanku ini tidaklah mudah untuk dimaafkan. Tapi aku benar - benar menyesalinya. Selamat tinggal indonesia, selamat tinggal cintaku, Rama Wiratama, semoga kau segera sadar bahwa cintamu tidak akan pernah kau gapai."
Kini sera menyenderkan dirinya pada tepian kasurnya. Menatap galeri ponsel nya, lalu dengan kata 'MOVE ON' wanita itu mulai menghapus foto - fotonya bersama Rama. Dengan linangan air mata wanita itu memantapkan hatinya untuk melupakan dan merelakan cintanya pada prianya.
" London im coming!" serunya pada diri sendiri.
"Sera!" seru sang mama.
"Ya mam!"
"Sudah siap sayang?"
"Ya mam, aku sudah siap ni barang ku sudah semua ku kemas."
Sang mama mendekat, meyakinkan kembali keputusan sang anak. Karena keputusan yang mendadak biasanya hanya keputusan karna emosi.
Sang mama yang tahu persisi sejak dulu anaknya tidak pernah berniat sama sekali mengikuti jejaknya keluar negeri tapi kali ini tiba - tiba saja mendadak akan tinggal London bersamanya.
"Mumpung kita pergi mama tanya sekali lagi, kamu sudah siap meninggalkan indonesia?" sang mama membelai lembut rambut Sera.
"Aku benar benar sudah siap mam, sebenarnya aku sudah lama mau mengatakan ikut ke mama, tapi aku masih berulang - ulang berpikir. Tapi hati ini aku sudah sangat yakin dengan keputusanku," sahut Sera memantapkan hatinya.
"Baiklah sayang, mama sangat senang karna akhirnya kamu mau ikut mama ke London."
Ibu dan anak itu saling memeluk.
Sudah sejak lama sang mama mengajak anaknya itu untuk tinggal bersamanya. Tapi sang anak selau saja menolaknya dengan alasan tidak mau meninggalkan indonesia tapi yang sebenarnya adalah tidak mau meninggalkan cintanya, cinta yang tidak bisa digapai cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Namun kini seorang Sera sudah sadar bahwa cinta harusnya merelakan seseorang untuk bahagia dengan pilihannya.
__ADS_1