Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku

Menikahi Kakak Dari Calon Suamiku
37. Bertemu Samuel.


__ADS_3

Di kantor tiga anak manusia berbeda ruangan masih sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


Tanpa hadirnya Daniel membuat Rea leluasa bergerak didalam ruangannya. Namun kesulitan juga ia alami saat tidak ada tempat untuk bertanya mengenai berkas yang sudah ia selesaikan.


Mau tak mau ia harus kembali mengeceknya sendri sebelum berkas itu sampai ke tangan pimpinan tertinggi perusahaan tersebut yang sejatinya adalah suaminya sendiri.


Walaupun begitu Rea tidak mau seenaknya saja dalam bekerja. Jiwa profesionalisme yang sudah tertanam dalam diri Rea membuat semua pekerjaannya selesai tepat waktu.


Kruk kruk kruk.


Bunyi didalam perutnya menyadarkannya dari kesibukan.


Ditatapnya jam yang menempel didinding ruangannya yang ternyata sudah menunjukan jam 11.57 AM. Waktu makan siang telah tiba.


"Pantas saja cacing didalam perutku sudah mulai demo ternyata sudah waktunya makan siang."


Wanita itu membereskan berkas yang berserakan di atas meja dan menumpuknya sesuai dengan urutannya.


CEKLEK


Pintu ruangan terbuka dan nampak seorang pria dengan senyum jenakanya menghampirinya.


"Erlan!" Rea terkejut.


"Bagaimana kau bisa ada disini?" tanyanya kemudian.


"Mudah bagiku Rea." Erlan menarik tangan Rea dan membawanya keluar dari dalam ruangannya. "Ayo kita pergi makan siang," ajaknya pada Rea.


Rea melepaskan tangan Erlan seraya berkata, "Aku pamit suamiku dulu." tangannya meraih gagang pintu ruangan sang suami.


"Fir, aku akan pergi makan siang kembalikan ponselku. Bukankah kau bilang saat di kantor kau akan memberikannya padaku." Rea mengerucutkan bibirnya membuat Firas menjadi gemas dan ingin melahapnya.


Entah kenapa ia menjadi sangat suka dengan bibir mungil sang istri itu apalagi saat bibir mungil itu terus berbicara menjadi daya tarik tersendiri bagi Firas.


Kejadian beberapa jam yang lalu.


Firas berniat hendak mengantarkan ponsel milik istrinya. Namun saat ia telah berada didepan pintu ruangan istrinya sebuah pesan atas nama Erlan tiba tiba muncul pada layar ponsel sang istri.


Erlan mengirimi pesan yang mengajaknya makan siang bersama di Restoran tempat biasanya.


Firas yang merasa kesal pada Erlan yang terus mendekati sang istri pun mengurungkan niatnya untuk masuk keruangan sang istri yang hendak memberikan ponselnya.


Dengan cepat Firas memblokir kontak Erlan agar tak bisa lagi menghubunginya.


Tersenyum puas.


Firas kembali ke ruangannya sendiri dan kembali memasukan ponsel sang istri kedalam saku jasnya.


"Aku akan menemanimu makan siang!' Firas beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Meraih tangan sang istri lalu membawanya keluar dari ruangannya.


Ceklek


Didepan pintu Erlan kembali tersenyum pada kedua orang yang keluar secara bersamaan.


"Siapa yang memberimu ijin masuk ke perusahaanku?" tanya Firas dengan nada sinis.


"Santai aja bro! Tak usah sinis begitu. Aku hanya mengajaknya makan karna ada sesuatu yang mau bicarakan. Jika saja kontakku tidak diblokir mungkin aku bisa membicarakan melalui telpon saja. Tapi sayangnya kontak aku diblokir," ucap Erlan dengan memasang wajah sedih.


Rea melotot tak terima pada Firas.


"Kembalikan ponselku!"


"Tidak!"


"Kenapa kau selalu mengotak atik ponselku!" geram Rea.


"Karna kau istriku, dan aku tidak mau ada lelaki lain yang menelpon istriku. Sudah cepatlah kita pergi makan perutku sudah demo minta di isi!" Firas menarik tangan sang istri lalu berjalan menuju Restoran yang berada disebelah kantornya


Erlan mengekor dibelakang dengan santainya.


Menyaksikan sepasang suami istri yang selalu saja bertingkah konyol menurutnya.


"Kenapa kau terus saja mengikuti kami?" tanya Firas dengan ketus.


"Karna aku juga mau makan lapar. Sama seperti perutmu, perutku pun minta di isi!"


Sesampainya di Resto Firas menarik kursi untuk Rea. Hal manis yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari seorang Firas.


Setelahnya menarik kursi untuknya sendiri.


Lagi - lagi ia merasa kesal karna Erlan terus membuntutinya. Dan kini malah menarik kursi dan duduk bergabung di meja yang sama.


"Apa tidak ada meja lain di sana!" Firas menatap tajam pada Erlan.


Namun yang ditatapnya hanya cuek seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


"Makan sendirian tidak enak lah. Enakan seperti ini rame - rame benarkan, Rea?"


Rea hanya tersenyum menyaksikan perdebatan dua lelaki dihadapannya itu.


Lelaki yang sama sama keras kepala dan mau menang sendiri.


Ya begitulah jadinya jika mereka disatukan, tidak akan ada yang mau mengalah.


Akhirnya Firas pasrah untuk yang kedua kalinya. Menghadapi seorang Erlan membuatnya sangat kesal.


Mereka mulai memesan makanan dengan seleranya masing - masing.

__ADS_1


Hening


Tidak ada obrolan apapun yang mengiringi makan siang ketiga orang yang berada di meja yang sama.


Sampai akhirnya Rea melihat seseorang yang sangat ia rindukan.


"El!' serunya saat melihat El yang sedang berjalan dipintu masuk.


"Lea!" saking bahagianya bertemu kembali membuat El melupakan jika Rea saat ini sedang bersama Firas.


Terakhir bertemu dengan Firas adalah Samuel dengan tampilan culunnya dan menggunakan kacamata tebal dengan rambut dibelah tengah dan kancing kemeja hingga kebatas leher.


Firas mengerutkan keningnya sambil mengingat - ingat sosok El yang pernah ia temui. Saat peristiwa penculikan Rea.


Banyak yang ingin Firas tanyakan, namun ia memilih menundanya karna perutnya sudah menuntut minta diisi makanan.


"Aku menelpon beberapa kali tapi kau tak menjawabnya."


Rea kembali melirik Firas dengan kesal.


Lagi - lagi semua karnanya.


Tanyakan saja sama dia. Dia menyabotase ponselku dari sejak pagi. Rea mengerucutkan bibirnya.


"Apa dia sudah mulai posesif padamu?" Samuel menaik turunkan alisnya menggoda Rea.


"Ah aku melupakan sesuatu El. Kenalkan ini Erlan temanku semasa kuliah."


"Emm Fir, ini sepupuku Samuel kalian belum kenalan kan?"


"Hmmm." Firas hanya berdehem.


Aku sudah bertemu dengannya tapi dalan keadaan culun sangat berbeda dengan yang sekarang. Aku jadi mengingat seseorang dimasa kecil tapi aku akan menanyakannya nanti saja. Sekarang bukan waktu yang tepat.


Dalam batin Firas terus bergejolak ia kembali mengingat gadis kecilnya dan akan segera menanyakannya padanya tentang keberadaannya saat ini.


Apa ini sudah saatnya aku memberitahukan pada Firas jika wanita yang kini menjadi istrinya adalah Lea gadis kecilnya. Mereka disatukan dalam kondisi dan situasi yang telah berbeda. Ya aku rasa aku harus menceritakannya.


Samuel berniat untuk mengajak Firas bicara setelah usai makan siang tapi tidak didepan Rea.


Samuel tidak mau mengganggu ingatan Rea dan membuatnya kesakitan dan bisa berakibat fatal pada kondisi psikisnya seperti penjelasan dokter saat itu.


Acara makan siang penuh drama itu pun akhirnya selesai. Rea kembali ke kantor. Erlan pun pamit pergi dan kini tinggal hanya ada Firas dan Samuel.


Kecanggungan tercipta diantara mereka.


Firas yang merasa Samuel punya hutang penjelasan dengan tampilannya yang menjadi culun saat itu.


Firas menatap lekat pada Samuel.

__ADS_1


"Katakan padaku siapa kau sebenarnya?"


__ADS_2