Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Harapan


__ADS_3

Terlihat Laras sedang duduk santai di rumah barunya, dia pun sedang menghubungi seseorang.


("Hello, Mas, kenapa tidak menghubungiku lagi? aku nelpon juga di rijek.")


("Maaf Laras, aku sedikit sibuk belakangan ini, aku sudah transfer uang belanja bulananmu, nanti aku akan berkunjung")


Klik


"Hufs, ya Allah, sampai kapan begini, Laras masih belum melepas Papa, mereka masih saling bertemu, apa aku harus benar benar menikahinya agar dia benar benar bisa meninggalkan Papa?"


Gumam batin Rado, benar benar dalam delima.


Lalu bagaimana dengan Nahla? aku sangat mencintainya ya Allah, apa aku harus melepaskan cintaku demi ummi?


Rado terus saja membatin tak karuan.


🌹🌹🌹


"Mas, aku nggak mau dimadu, aku nggak bisa ?Mas" Nahla begitu emosi saat mengetahui Rado memiliki wanita lain.


"Tapi aku juga bingung Nahla,aku harus bagaimana? aku sangat menyayangi ummi,kau taukan? aku janji tak ngapa ngapain dia, cuma nikah, itu saja." bujuk Rado


"Alaaaah, alesan, mana mungkin mas tahan nggak ngapangapain dia, dia cantik, seksi, nggak kayak aku ini!" Nahla begitu marah, padahal Nahla adalah wanita yang lemah lembut, ketika urusan hati dia begitu sensitif.


" Aku harus bagaimana lagi?" Rado pun bingung


"Kamu harus bisa memilih Mas, dia....atau aku?" Nahla pun beranjak pergi.


"Nahla tunggu, tunggu, jangan pergi...Nahla...Nahla...Nahla..."


"Tuan muda, bangun, bangun tuan, mimpi di tinggal Nahla ya tuan, histeris itu, makanya cepat di nikahin." bibi menggoyang goyang bahu Rado.


"Ah, bibi, iya, mimpi buruk Bi." Rado pun terlihat syok, bahkan mimpi itu rasanya benar benar nyata baginya.


"Apakah begini jadinya?" Rado mengusap mukanya kasar.


"Ooh, jadi apa tuan?" bibi pun nggak nyambung dengan kata kata Rado.


"Nggak Bibi, aku mau mandi dulu ah, oh iya, Ummi mana Bi?" Rado pun berjalan menuju tangga.


"Nyonya belum datang Tuan, sejak siang tadi keluar." bibi juga beranjak menuju kamarnya, mungkin dia akan sholat zuhur, setelah selesai mengerjakan tugas dapurnya.


🌹🌹🌹


"Mi, kami tadi ke daerah halayung, Rado memperlihatkan tanah kosong miliknya," Nahla berhenti bercerita, dan melirik ummi nya, apa tanggapan ummi.


"Ngapain ke sana?" Tanya ummi penasaran.


"Katanya sih, itu bekal di bikin rumah mungil." tambah Nahla.


"Jadi mereka bekal pindah?" Ummi pun menoleh serius pada Nahla.

__ADS_1


"Enggak sih Mi, katanya....itu rumah buat Nahla nanti!" Dengan suara datar, Nahla pun berdiri dan menuju kamarnya. Tiba- tiba


"Au, sakit Mi." Teriak Nahla kaget.


"Nahla ! benarkah? ya Allah, mimpi apa aku ya, bekal punya mantu ganteng, tajir, dermawan pula, belum apa apa, udah dibikinin rumah." Ririn terlihat histeris.


"Ih, Ummi lebay deh, Nahla yang bekal nikah, kenapa Ummi yang kege'eran." Nahla pun sampai di pintunya, dan menutup pintu kamar.


Benar juga siiih , Rado sangat ganteng.


Nahla senyum senyum sendiri dan menggeleng geleng kan kepalanya. Seakan ia ingin membuang bayangan Rado di kepala nya.


Nahla memain-mainkan HPnya, pengennya ia menelpon atau sekedar chat aja sama Rado.


tTreeeeet


tersambung, beberapa lama tak ada yang jawaban, Nahla pun tak mengulanginya lagi.


Sementara dikamar Rado.


"Lho Nahla?" Rado yang baru saja keluar kamar mandi habis BAB, ngecek HPnya. Dia pun tersenyum.


Treeet


Langsung tersambung


(" Hello sayang...ada apa? kangen ya, baru juga pisah sebentar.") Rado


Nahla pura pura tu. Dia kan gengsi kalau harus telpon duluan.


("Ooh, ya udah, aku mati-in ya?")


Rado sebenarnya hanya ingin menggoda Nahla, pengen ngetes benar nggak terpencet, karena akhir-akhir ini Nahla sudah terlihat jinak padanya, bahkan Rado sering memergoki Nahla diam diam memperhatikannya.


("Ya udah, mati in aj.") Nahla


("Ah, yang beneeer? aku takut kalau ku matikan teleponnya, jantungmu berhenti berdetak?")


Rado ada ada aja deh.hehe


Klik


"Eeeh di mati in." Gerutu Rado.


Nahla terlihat senyum senyum sendiri. Kayaknya mendengar suara rado saja sudah membuatnya puas.


("hello, Laras, apa kau ada di rumah?")


("Iya Mas, apa kau mau kesini? ")


(" Iya, ya sudah tunggu aku ya")

__ADS_1


Rado pun turun ke bawah saat selesai menelpon Laras. dia melihat Umminya duduk di ruang tamu.


" Mi, bolehkah anak menikahi mantan istri seorang ayah?" Rado menanyai umm yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Apaan sih do? emang papa punya istri?"ummi pun balik bertanya. Bikin Rado salah tingkah.


"Enggak Mi, cuma pengen tau aja, kayaknya ada tu temen Rado kayak gitu." Rado coba mencari alasan lain, agar ummi tidak curiga.


"Mana boleh do! bekas lobang ayah, masa mau dimasukin oleh anak? aneh, lagian dalam islam juga tidak boleh do!" Tekan ummi menjelaskan.


"Oh...begitu ya Mi" Rado pun jadi bingung bagaimana dia menjelaskan pada Laras nanti, nahwa dia tidak bisa menikahi laras.


padahal Rado ingin menikahi laras walau hanya akan mempermainkannya dengan berjanji tidak akan menggaulinya layaknya suami istri. Dia hanya menyelamatkan pernikahan papa dan juga umminya.


"Mi, aku berangkat dulu ya, ada sedikit urusan, assalamualaikum" Rado pun cium takzim punggung dan telapak tangan ummi lalu berpamitan.


"Emang mau kemana Do? apa ke rumah Nahla?" ummi mau tau aja deh rado kemana?hehe.


"Nggak Mi, mau ke rumah temen." Rado pun berlalu menuju garasi dan menaiki motornya, selama dengan Laras, Rado tidak pernah pergi menggunakan mobilnya, dia takut, kalau kalau ayahnya pernah menggunakan mobilnya, kalau motor ayah tidak pernah meminjam pada rado, jadi Rado aman.


#


"Laras." Rado pun memarkirkan kendaraannya.


"Kakak, kenapa kakak lama nggak mengunjungi kami? kaka Laras sering sakit akhir-akhir ini?" adik Laras berlari mendekati Rado dan mengambil tentengan yang ada ditangan Rado. Rado pun mengucek ngucek rambut gadis itu. Kayaknya adik Laras seumuran adik Nahla deh.


"Kaka sedikit sibuk di kantor, kamu sudah makan?" Rado sebenarnya kasian dengan gadis kecil ini, mulai umur 7 tahun dia ditinggal pergi ibunya, dan ayahnya pun menikah dan meninggalkannya bersama kakaknya, hidup yang berat.


"Mas." Laras menyambut Rado didepan pintu,terlihat mukanya sangat pucat.


"Kamu sakit? apa sudah makan?" Rado tampak sungguh sungguh menanyakan itu, walau jika dia ingat perlakuan bejatnya bersama papanya, dia sangat muak.


"Entahlah Mas, akhir akhir ini aku sering pusing dan mual." nah lho,Laras terlihat sangat loyo.


"Itu nila bakar dan sayur, makan dulu." Rado pun duduk di kursi yang ada didepan teras.


"Dek, kamu mau makan?" Tanya Laras pada adiknya. sang adik hanya menggeleng.


"Kala begitu main dulu sana sama temen temennya." Laras kayaknya pengen ngomongin sesuatu.


"Masuk Mas, aku pengen ngomong sesuatu." rado ragu ragu, kata ummi. Nggak boleh berduaan.


"Disini aja Ras, ibuku bilang kita nggak boleh berduaan." hanya itu alasan,agar bisa di hargai Laras.


"Ooooh....baiklah, maaf Mas, mungkin ini sangat memuakkan, namun juga ini tidak bisa aku simpan lama-lama.


________________________________________________________________________________________________


HAI HAI TERIMAKASIH SUDAH SAMPAI DI BAB INI.MOHON KRITIKANNYA,MOHON MAAF JIKA BANYAK KESALAHAN.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2