Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Adopsi


__ADS_3

"Pip, aku mau pulang ke rumah ummiku aja, aku ingin bersama Qia, aku sangat merindukannya."


"Baiklah sayang!"


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi kerumah ummi Ririn dan menemani Qia sepanjang waktu, Nahla telah tau kondisinya yang sedikit sakit, bahwa memiliki keturunan mungkin akan sedikit sulit.


Apa, aku terima saja ya menerima tawaran ayah untuk mengadobsi Qia. Walau terlihat konyol


Bathin Rado.


🌹🌹🌹


Malam sudah tiba, Laras terlihat merebahkan kepalanya di dada bidang Faris. Ini sudah 5 bulan sejak Laras terkurung di ruangan itu.


"Mas Faris, kalau aku menerima tawaranmu untuk menjadi istrimu seutuhnya, Apa kau bisa memenuhi satu permintaanku?"


Laras tampak berbincang mesra dengan Faris. Terlihat mereka baru melakukan olahraga malam. masih ber**lanjang bulat, hanya di tutupi selimut tebal.


"Kalau aku mampu, aku akan memberikannya, katakan saja."


"Aku ingin kau menemukan bayiku dan membawanya padaku."


"A..apa? bagaimana aku bisa menemukannya?"


"Ini fotonya, sekarang usianya sudah 8 bulan, aku sangat merindukannya." Laras menampakkan wajah sedihnya.


"Baiklah, aku akan berusaha mencari tau di mana bayimu berada."


Faris pun mengecup dahi Laras mesra. akhirnya mereka pun tidur dengan berpelukan.


Matahari pagi menyinari dunia, pagi yang cerah.


"sSayank, makan dulu, ini sudah aku siapin nasi goreng."


"Makasih sayang, hari ini aku akan mulai mencari bayi mu, doakan aku ya."


Faris tampak bersemangat ingin mencari anak Laras yang hilang.


"Terimakasih sayang."


Setelah selesai makan, Faris pun berangkat. Sepanjang jalan dia mengatur rencana, bagaimana caranya dia bisa tau dimana bayi Laras berada, dia berfikir, bosnya pasti tau. Sesampainya di kantor, dia sengaja keruangan bosnya, dia akan mulai dari situ mengorek ngorek sesuatu.


"Selamat pagi pa? maaf mengganggu."

__ADS_1


"Ada apa faris? apa ada masalah?"


"Iya bos jihad, Aku ingin tau masalah pribadi Laras, sebelum aku menerimanya sebagai istriku beneran, sebenarnya dimana keluarganya? bukankah bos bilang, dia adalah pelakor dari ortu teman bos?dan mempunyai anak? trus bagaimana dengan bayinya, siapa yang merawat bayinya?"


"Iya memang benar begitu, kalau keluarganya, dia tidak punya keluarga, kalau masalah anaknya aku dengar sih sekarang diam sama kaka tirinya, kaka tirinya sekarang yang menghandle perusahaan konveksi ayahnya, dia anak tunggal, tapi mengapa kau bertanya tentang itu?"


"Tidak bos, aku hanya takut kalau tiba tiba anak itu muncul padahal aku hanya ingin Laras tidak dengan anaknya." Faris mencoba berpolitik agar bisa mengetahui di mana anak Laras berada.


"Ooh, tidak mungkin, kakanya sangat kaya, tidak mungkin akan memberikan pada Laras, apalagi Laras pernah menelantarkan bayi itu, ketika dia masih berusia 5 hari"


"Ooh, terimakasih bos, saya permisi"


🌹🌹🌹


Hari ini Ayana dan juga Rado beserta, Kenan mengajukan surat adopsi ke dinas sosial. Setelah melengkapi berkas dalam proses yang sangat panjang, akhirnya semuanya selesai. Mereka pun kembali pulang ke rumah ummi Ririn dan menelpon Ummi Nana.


{Mi, hari ini kami akan pindah ke rumah ummi},


{Baiklah nak,u mmi tunggu ya}


{Kami bawa kejutan untuk ummi, tunggu ya!}


Setelah selesai, beres beres Rado dan Nahla pun pamit sama ummi Ririn, sementara Davian tidak di izinkan ummi Ririm ikut, karena dia akan merasa kesepian.


Mereka pun berangkat menuju rumah Rado. Sesampainya di halaman, ternyata ummi sudah duduk di kursi teras rumah.


melihat Nahla yang menggendong bayi, ummi pun menyongsong kehalaman.


"Sayaaang, anak siapa? sini ummi yang gendong!"


Deg....


Jatung Rado dan Nahla tak beraturan, apalagi Rado, dia sangat merasa berdosa karena akan membohongi umminya entah sampai kapan itu terjadi.


"Oh ini mi, Rado tadi bilang di kantor kalau dia mau adopsi anak." Pa Kenan tiba tiba datang, dia tau perasaan bersalah Rado makin dalam kalau dia menjawab pertanyaan ummi. Kalau Pa Kenan yang bilang, mungkin akan sedikit lega karena bukan keluar dari mulutnya sendiri.


Mereka pun masuk tanpa banyak bicara terutama Rado, dia benar benar merasa sakit ketika harus, membohongi umminya.


"Sini sama kakek." Pa kenan pun mengambil Qia dari pelukan ummi, dan menciuminya penuh sayang.


"Ih papa, kayak anak sendiri aja penuh perasaan banget ngeciuminnya." Ucap ummi


Nahla dan Rado pun saling pandang.

__ADS_1


"Mi kami ke atas dulu untuk membereskan pakaian kami." ucap Nahla pamit ke kamar mereka, sementara, Qia mereka biarkan sama papa dan umminya.


Tap tap tap


Mereka menaiki tangga dengan terburu buru. Sesampainya dikamar mereka masuk dan menutup pintu rapat.


"Pip" Nahla menyentuh pundak suaminya yang langsung tersandar di daun pintu. muka Rado terlihat masam cemberut dan kesel.


"Nahla, kita janji, selama kita di rumah ini, walau pun tidak ada ummi sekali pun, kita jangan membicarakan Qia, aku sangat takut kalau kalau kita kecolongan, dan ummi mengetahui semuanya."


"Baik pip, ini semua demi kebaikan kita semua, maaf mungkin aku banyak kekurangan, hingga kita harus adopsi dia."


"Tidak sayang, kamu jangan begitu." Rado pun memeluk tubuh mungil istrinya. Nahla pun terisak Rado juga meneteskan air mata, tapi mereka punya arti tangisan, yang berbeda. Kalau Rado menangis karena harus membuat kebohongan besar pada umminya sementara Nahla menangisi dirinya yang di vonis susah memiliki keturunan.


"Sekarang ayo kita mandi dulu, nanti kita turun untuk makan sore"


Mereka pun mandi bersama, tapi karena masalah yang mereka hadapi sehingga tampak gairah mereka berkurang, setelah mandi mereka turun.


"Mana Qia Mi?" Nahla mencari Qia untuk memandikannya.


"Udah mandi tuh masih di belakang sama bibi nak, ambilkan baju ganti dan juga popok ya." Nahla pun berlari mengambil keperluan bayi ke atas.


"Mi..maaf, kami belum bisa memberi ummi cucu, mudahan dengan adopsi bisa menghibur ummi." ucap Rado sendu


"Nggak papa nak, kata orang kalau adopsi bayi nanti rahim kita bisa terpancing lho, mudahan saja benar." ucap Ummi


"Benarkah Mi? mudahan saja ya Mi, aamiin."


"Ayo kita makan dulu, biar bibi yang bajuin Qia." ummi pun menuju dapur dan menyiapkan hidangan.


"Apa perlu baby sitter nak?"


Tanya Pa Kenan pada Nahla.


"Tidak usah pa! Nahla sanggup ko."


ya jelas saja sanggup, selama ini kan dia juga yang sering mandi in, 9 bulan sudah usia Qia, dia sudah sangat pintar. Bikin gemes juga.


"Baiklah, tapi kalau merasa capek biar ummi yang bantuin." ucap ummi lagi. Rado hanya memandang Papanya sambil menggertakkan sedikit grahamnya.


"Besok kita belanja keperluan Qia, ya nak?"Ummi sangat antusias dengan bayi mungil itu, seandainya dia tau, pasti sangat hancur hatinya.


"Iya Mi?" Nahla terpaksa, mengiyakan, ummi kan belum tau kalau sebenarnya Qia sudah, banyak pakaian.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2