Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Dugem


__ADS_3

Terlihat Nahla berjalan menaiki anak tangga dengan begitu pelan. Seperti ada sesuatu yang menahannya melangkah lebih cepat.


"Sayang, ada apa?" ucap Rado khawatir.


"Nggak papa" Ucapnya, dia takut ummi mendengar, kalau dia ceritakan yang sebenarnya.


"Kita jadikan ke tempat Laras?" Tanya Rado lagi.


Cklek.


Mereka pun sampai dikamar, setelah makan malam bersama.


"Pip, kayaknya aku nggak bisa ikut nih, sakiiit" wajah Nahla meringis.


"Sakit kenapa? coba ku lihat." Rado sangat serius mendekati Nahla dan menyuruhnya duduk di kursi.


"Ish, kau ini? jangan jangan!" Ucap Nahla kaget.


"Katanya sakit, kenapa tak mau dilihat?" Rado jadi bingung.


"Kalau dilihat nanti malah di tambahin." Ucap Nahla lagi.


"Aneh kau ini, masa orang sakit mau di tambahin, aku suami yang baik, bukan suami kejam, ayo duduk!" Rado mendudukan istrinya di kursi.


"Pip, emang pipip pengen tau apa yang sakit?" Nahla memandangi wajah tampan suaminya yang terlihat bingung.


"Iya, sini!" Rado menyingkap Rok Nahla, karna di kiranya yang sakit itu kaki๐Ÿ˜†


"Nggak lucu." Nahla langsung berdiri dan menjauh, dia pun duduk di meja Rias. Merias dengan polesan tipis.


"Hey, katanya sakit, kenapa nggak mau ku lihat." Rado protes, dasar Oon๐Ÿ™‚


"Hufh, gimana menjelasin sih pip, sini!" Nahla melingkarkan tangannya di leher Rado, dia sedikit ber-jingkit dan berbisik di telinga Rado.


"Apa? kau ini." Rado pun memeluk tubuh mungil istrinya, dan membawanya berbaring.


"Mau ngapain?!" Nahla kaget.


"Pengen liat yang sakit." Rado pun menyingkap Rok sang istri jail.


"Au, tidak! jangan!" Nahla boro-boro menutupi kaki lajangnya yang sudah terbuka. Rado sengaja menggodanya malah terus menyingkap rok istrinya. Mereka pun bergulat bagai anak kecil yang rebutan permen๐Ÿ˜†


"Pip tunggu,aduuuuh!" Nahla berteriak. Rado terdiam kaget.


"Ada apa yank?" Dia terlihat was was.


Nahla berjalan ke lemari baju.


"Ini, Uang yang tadi ku hitung 46 juta." Nahla menyerahkan amplop yang berisi uang pada Rado.


"Simpan saja, anggap itu aku bayar hutang baju yang kemaren." ucap Rado sambil mengambil sajadah siap siap untuk sholat magrib.


"Ha! benarkah? pipipkan mau bayar hutang sama klien?" ucap Nahla lagi.


"Kliennya itu, ya kamu! mana mungkin aku punya hutang sama orang, malah orang yang punya hutang sama aku." Ucap Rado santai.

__ADS_1


"Jadi Pipip bohong ya? menjebakku ke hotel itu kan?" Nahla mendekat Rado dengan muka serius.


"Iya, emang kenapa? masa mengajak istri sendiri ke hotel nggak boleh!"


"Curang ya eeeeeeeh." Nahla pun menggelitik pinggang Rado kembali. Namun apalah daya tubuh mungil Nahla. Dia kalah di pangkuan Radi, dan di seretnya keranjang.


Heemmmm


adegan pun terulang, Mandi lagi deh๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Mereka pun sampai dikediaman Laras, terdengar suara bayi menangis, pasti bayi Laras.


"Assalamualaikum." Rado mengucap salam,namun tak ada sahutan.


"Bibi?" Terlihat bibi sedang menggendong dan memegang dodot bayi sambil berjoget joget menenangkan bayi.


"Ooh tuan, Bibi tidak mendengar ada orang datang, ini non cilik nangis terus dari tadi." Bibi terus menggoyang goyang bayi yang ada di pangkuannya.


"Mbak Laras mana Bi?" Nahla penasaran kenapa tidak terlihat ada Laras di rumah itu.


"Entah non, dari sore tadi dia pamit keluar, sampai ini belum kembali." jawab bibi.


"Sini Bi? biar Nahla coba." Nahla pun mengambil bayi itu dari pelukan bibi dan menggendongnya, tetap saja tidak mau diam, di beri susu, kadang mau kadang nangis lagi. Mereka bergantian menggendong bayi jam pun sudah menunjukkan jam 12 malam, namun laras masih belum datang. Akhirnya malaikat kecil itu tertidur juga di pelukan Nahla.


namun ketika diletakan di kasur bayi itu kembali menangis. Hingga akhirnya Nahla pun bersandar di sofa sambil menggendong bayi mungil itu.


"Sayang, sini biar pipip gendong." Rado mengangkat tangannya ingin mengambil Bayi.


"Tok tok tok" Suara pintu diketuk dari luar.Rado kaget dan melirik jam dinding, sudah jam 3 pagj


siapa?


bathinnya


CKLEK


"Laras?" Rado sangat mengenali wajah wanita itu, dia sedang di papah oleh dua orang pria, seperti security.


"Maaf tuan, wanita ini mabok berat dan tidak bisa berjalan, kami terpaksa melihat identitasnya, dan mengantar kesini." setelah membawa masuk Laras, security itu pun pulang.


"Keterlaluan." Rado membiarkan Laras di baringkan di lantai, sedang Nahla tampak masih terlelap dengan bayi yang juga terlihat nyaman di pangkuannya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Huek huek" Nahla kaget dan terbangun ketika menyadari bahwa ada suara bayi sangat keras terdengar di telinganya,dia langsung berdiri, namun tiba tiba dia merasa ada seseorang yang langsung mencengkram dan bersentuhan dengannya.


"Awas!" Ternyata Rado sudah berada di hadapannya dan sedang memegangi bayi mungil yang sedang menangis.


"Ya Allah, aku lupa" Nahla lupa, bahwa tadi malam dia tidur dengan bayi itu semalaman. Ketika bangun dia hampir saja membuat bayi itu jatuh.


"Sana kamu sholat dulu, kita akan segera pulang." ucap Rado.


Nahla segera ke kamar mandi.

__ADS_1


"Laras...Laras, bangun! ini bayimu mimi in dulu." Rado menggoyang goyang tubuh Laras, namun tidak bergeming. Sementara Bibi sedang menjamur cucian bayi di belakang.


Rado mengambil air dan memercikan ke muka Laras.


"Apa, basah, basah," Laras segera duduk, merasakan basah seluruh mukanya.


"Ini ,mimi in dulu, dia nangis dari tadi". Rado menyodorkan bayi mungil itu.


plak


Laras menepis tangan Rado.


"Ogah, sana pakai dodot saja, aku ngantuk." Laras berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu.


"Kenapa?" Tiba tiba Nahla datang, dia sudah selesai sholat subuh.


"Wanita itu, dia tidak mau menyusui, bagaimana ini?"


Tiba tiba bibi datang membawakan dodot, karna mendengar suara tangis bayi.


Nahla kembali menggendong dan memberikan dodot itu, ajaib bayi itu mau diam.


"Kasian dia." ucap Nahla, dia pun mencium jidad Bayi itu beberapa kali.


"Pip, kita namai siapa dia? masa kita terus memanggilnya dia?" Tanya Nahla.


"Kakak, mana kak Laras, kenapa kak Nahla yang gendong?" Tiba tiba Davian datang dari kamar Belakang, karna dia tidur sama bibi.


"Tuh dikamar cepat bangunin." ucap Rado lagi. Davian segera menuju kamar dan mengetok ngetok kamar, namun tak ada sahutan.


"Kita namai Qia saja ya?"ucap Nahla.Nama yang unik.


"Terserahmu lah, sekarang kita bagaimana?" Ucap Rado lagi


"Bagaimana kalau kita bawa saja, aku takut dia bekal di sia siain oleh Laras." Muka Nahla tampak memalas.


"Apa maksudmu? trus kalau ummi tanya bagaimana?" Rado terlihat bingung


"Kita bawa ke rumah kami saja. Bibi juga di bawa, biar mereka diam di sana." ucap Nahla memberi solusi.


"Laras, cepat keluar, kalau kau tidak keluar, kami akan membawa bayimu dan tidak akan memberikannya lagi." Teriak Rado.


"Bawa saja, aku tidak perduli!" jawabnya dari dalam kamar


"Jangaaaan, aku sayang dede." Rengek Davian.


Nahla dan Rado malah tambah bingung, bayi ini saja membuat bingung di tambah Davian.


"Hufs, ini gara gara papa." Rado terlihat menghempaskan Nafasnya kasar.


"Pip, sudahlah, tidak papa ko Davian ikut juga, di sini kalau Laras masih keluyuran malam malam Davian juga kasian." Nahla membujuk Suaminya agar membawa serta Davian.


"Baiklah, ayo! kemasi bajumu, Bibi juga."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2