Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Mansion R&N


__ADS_3

Mereka pun sampai kekediaman Ummi Ririn, dan di sambut oleh Ummi Ririn dengan hangat, karena Nahla sebelumnya sudah menelpon.


"Ayo Na! masuk, jangan sungkan sungkan selain kita adalah sahabat lama, kita juga adalah besan." Ucap Ririn pada Nana.


"Terimakasih, maaf aku merepotkan mu." Nana pun masuk dan duduk di sofa ddepan.


"Tidak kok Na, kita sahabat sejak dulu, jangan bicara seperti itu!" Ririn pun menyajikan air teh hangat dan cemilan ringan. Namun tiba-tiba muncul Daivan. Dan kebetulan mereka terlupakan untuk menyembunyikan Daivan selama Nana di Rumah Nahla.


"Siapa anak manis ini Rin?"


Deg.


Semua mata memandang Daivan yang baru keluar dari dapur.


"Ummi duduk dulu ya!" Ajak Nahla kemudian. Mengalihkan perhatian mertuanya.


Nahla pun mengambilkan air minum yang sudah di sediakan Ummi Ririn dan menyodorkannya pada mertuanya.


"Maaf Mi, ini adalah adik Laras tante Qia, yang juga ditelantarkan oleh Laras, kebetulan dia seusia aisya, makanya kami mengambilnya dan merawatnya." ucap Nahla.


"perempuan jala**g itu, keterlaluan, Aduh." Ummi memegang kepalanya yang terasa pusing tiba-tiba.


"Ummi, tenang jangan dipikirkan, ayo kita ke kamar dulu."Nahla pun membawa Ummi Nana ke kamarnya dan menyuruh mertuanya istirahat siang.


Sementara di Rumah sakit, Kenan tampak berjalan menuju bekas ruangan Nana.


Ceklek.

__ADS_1


Deg.


" Kok kosong?"


Tap


Tap


Tap


Kenan menuju ruangan suster yang jaga.


"Mbak ruangan jingga no 17 pindah kemana ya?"


"Maaf Pak, atas ibu Nana sudah pulang, baru tadi pak pulangnya."


Kenan pun segera,pulang ke rumahnya, dia mengira bahwa istrinya pulang ke rumah dan mungkin berpapasan di jalan raya. Batinnya.


Sesampainya di rumah dia langsung membuka pintu kamar,,namun tak menemukan istrinya.


"Bi, apa Rado pulang ke rumah?" Tatanya kenan sama Bibi yang sedang bereda di kamarnya.


"Maaf Tuan, Rado belum pulang ke rumah." Jawan,Bibi singkat.


"Baik lah" Kenan pun keluar.


Untung saja,

__ADS_1


Gumam Bibi.


Bini sudah di beri tau bahwa Rado membawa mamanya ke tempat Ririn, dan akan segera pindah ke Mansion Rado, Bibi pun disuruh bersiap-siap karena akan segera di jemput.


Bibi terlihat merapikan pakaiannya.


"Akhirnya begini keluarga yang sangat baik ini, aku rasa tak rela mereka akhirnya akan bercerai" Gumam Bibi.


Bibi memasukan semua barang-barangnya ke tas. Hari sudah malam, namun Kenan belum juga pulang, mungkin saja dia sedang mencari keberadaan istri dan anaknya, namun dia tidak berpikir untuk mendatangi rumah Ririn.


Sedang Ririn dan Nana tampak berbincang di ruang tamu dengan khusuknya.


"Apa keputusanmu itu sudah bulat Na? apa kamu tidak menyesal,dikemudian hari?" Ririn tampak memberi nasehat lada sahabatnya itu.


"Tidak Rin, aku sangat shok dan merasa kena tekanan batin, aku sangat kecewa, aku bagai orang bodoh selama ini, dengan sikap papah rado yang begitu mesra, hingga membutakan mataku untuk membuka hal yang mustahil terjadi di mataku." Tampak butiran bening pun jatuh, dari ujung mata Nana.


"Baiklah, kalau memungkinkan, baiknya kau pikir sekali lagi."


Nana hanya menggeleng karena mulai terisak.


akhirnya Ririn menyuruh Nana istirahat malam ini.karena besok mereka sudah pindah ke rumah baru Rado.


Ke esokan harinya tepat jam 11 siang,


Nana, Ririn, Nahla dan juga Rado berdiri di depan Mansion Rado yang begitu megah. Ummi Ririn pun terkesima melihat rumah mewah anak dan mantunya itu.


Hatinya begitu puas dan bahagia, melihat anaknya menjadi orang kaya dadakan.

__ADS_1


Begitu juga perasaan Nana. Dia berharap dia akan bisa mengubur masa lalunya disini.


__ADS_2