Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Kelaparan


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, namun dua wanita itu terus saja berjalan menuju jalan raya.


"Davian, kamu tunggu dulu ya, kakak mau ngambil uang dulu. Mudahan sudah bisa di tarik." Ucap Laras pada adiknya.Laras pun masuk ke ruangan Atam, tak berapa lama Laras pun keluar dengan muka lesu.


"Bagaimana ka? apa kak Tio belum mengirimkan uang?" Davian harap-harap cemas.


"Belum Dek, ayo kita pulang!" Perasaan Laras tak menentu, apakah dia harus mengaktifkan kartu? dan menghubungi Pa Kenan? dia ragu ragu, tapi juga kondisinya yang sudah kehabisan uang.Sudah 7 hari Tio tak mengiriminya uang, uang bulan kemaren juga hanya cukup beli beras tanpa lauk.


"Apa Kaka kuat berjalan?" Davian menggandeng kakaknya.


"Sebenarnya aku sudah tidak kuat Dek, perut kaka terasa kram, aduuuh, apa kita harus menghubungi om Kenan?" Tanya Laras.


"Jangan kak! nanti kak Tio marah." Jawab adiknya polos. Saat itu Davian melihat Tio atau Rado sangat marah Pada Laras karena ketahuan masih berhubungan dengan Pa Kenan, Davian jadi trauma.


"Dek mata kaka berkunang kunang, kaka..."


Bruk


Laras pun terjatuh di pinggir jalan menuju arah pulang. Suasana sudah sepi.


"Tolong...siapa saja tolong kaka ku hik ...hik...hik." Davian menangis sambil menggoyang goyang tubuh kakaknya.


"Kenapa dek? rumahnya dimana?" Davian pun menunjuk kearah depan.


"Disana om, sedikit lagi." Orang itu pun membawa Davian dan Laras menaiki mobilnya.


"Emangnya kalian dari mana, kasian kakakmu juga lagi hamil besar." tanya orang itu.


"Kami baru dari ATM Om, mau ngambil uang buat beli lauk, tapi kak Tio belum mengirimi kami uang." Davian bercerita dengan polosnya. Dia hanya gadis berusia 12 tahun, tak pandai berbohong.


"Kasian, apa Tio itu suami kakakmu?" Tanya orang itu.


"Bukan! tapi bekal jadi suami kakak." Ucap Davian lagi.


"Itu Om belok kanan." Mereka pun sudah sampai rumah. Laras di gotong masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf Dek apa kamu ada keluarga?" tanya nya lagi.


"Tidak Om, hanya Kak Tio satu-satunya keluarga kami." Jawab Davian. Dia masih terisak melihat kondisi kakaknya.


"Baiklah, mari ku telpon yang namnya Tio." Davian pun menyerahkan no Hp Tio yang ada di Hp Laras.


("Hello, MasTio")


("Ya, ini dengan siapa?")


("Maaf, kami dari kediaman Laras, Laras kami temukan pingsan di jalanan, mohon Mas segera kesini.")


("Apa...pingsan? Baiklah aku akan,segera kesana.")


Klik


Rado pun segera mematikan Hpnya dan bergegas pergi.


"Rado, mau kemana? kamu masih sakit nak!"" ummi berteriak memanggil anaknya yang sudah jauh di teras.

__ADS_1


"Ada urusan Mi, maaf Rado nggak sempat pamitan sama ummi Ririn." Rado pun memanggil taksi grabe dan meluncur ketempat kediaman Laras.Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya Rado pun sampai.


"Assalamualaikum." dengan kaki yang masih sedikit pincang Rado pun mendekati Pintu. Melihat ada 2 Pria didalam rumah Laras Rado pun masuk dan kaget melihat tubuh Laras terbujur kaku di lantai.


"Laras! kenapa kakakmu Dek?" Tanya Rado pada Davian.


"Kamu Mas Tio ya? mengapa tega membiarkan wanita hamil berjalan sendirian, kasian dia." Icap laki laki itu.


"Maaf Mas, saya tidak tau kalau dia sakit, karena saya juga baru kecelakaan dan baru sadar dari koma." Ucapnya membela diri, dia malu sampai lupa mengirim uang pada Laras.


"Baiklah, karena mereka sudah ada yang urus, maka kami pamit." ucap mereka


"Baik Mas, terimakasih banyak tumpangannya."


terlihat laki-laki itu mengeluarkan uang 2lembar dan memberikan nya pada Davian, Davian pun ucapkan terimakasih, terlihat dia sangat senang.


"Kenapa kakakmu sampai pingsan? emangnya kalian mau kemana?" Tanya Rado penasaran.


"Sudah 5 hari ini kami mencek kiriman uang dari kak Tio, tapi masih nggak ada, sementara kami sudah tidak ada uang buat beli lauk, kami cuma makan pakai garam."


"Astagfirullah, ya Allah, maafkan kaka ya, kemaren kaka kecelakaan, ini baru pulang dari tempat kaka kecelakaan.


Betapa bodohnya aku, mengapa aku sampai lupa ,ad 3 orang makhluk hidup yang perlu aku beri makan. Gerutu Rado


"Sekarang kaka mau beli nasi dulu, jaga kaka ya, pintunya kunci aja." Rado pun berangkat dan membeli nasi di warung terdekat.


"Ini makan dulu! makan yang banyak, kenapa tidak menelpon kaka?" Tanya Rado pada Davian


"Kemaren kakak nggak aktif, trus sekarang kak Laras nggak punya uang beli pulsa."


"Maafkan kakak ya, kakak janji, kakak nggak akan tinggalin kalian lagi, kakak mau keluar sebentar, kalau kak laras bangun, kasih dia makan ya!"Rado pun pergi meninggalkan mereka.


"Mas, mau cari motor yang mungil mungil, karena juga yang makai mungil." ucapnya. Karyawan pun menunjukan motor seperti yang Rado inginkan. Setelah melunasi pembayaran, harus ditunggu beberapa saat untuk pengecekan dan juga lainnya.


"Bisa di antar sekarang Mas?" Tanya Rado.


"Iya, ini sudah selesai, mari saya antar kan."


Sesampainya di halaman terlihat Davian membuka pintu karena mendengar suara motor.


"Laras sudah bangun?" Davian mengangguk.


"Motor siapa kak?" Tanya Davian.


"Ya motor buat kamu dan kakak mu lah, agar keluar nggak pakai jalan kaki lagi." Sahutnya


"Horee...terimakasih kak."


"Beneren nih itu buat kami?" Tanya Laras lagi.


"Kalau bukan buat kalian, ngapain aku bawa kemari."


🌹🌹🌹


"Zidan maaf, aku menyuruhmu kesini, aku ingin mengetahui sesuatu tentang Rado."

__ADS_1


Deg


Perasaan Zidan sudah nggak enak nih.


"Kalau aku tau sesuatu, aku akan membantumu." jawabnya


"Aku mau cerita, saat kecelakaan itu, aku melihat Rado sedang berduaan dengan seorang cewe, siapa dia?" Tanya Nahla was-was


"Wanita? setahuku dia tidak pernah punya wanita lain selain kamu!" jawab Rado.


"Tapi aku melihat jelas, wanita itu menyandarkan bahunya di bahu Rado,kamu dan Rado sangat akrab, tidak mungkin kamu tidak mengetahuinya."


"Jadi waktu kecelakaan itu, kamu melihat Rado berdua dengan wanita?" Tanya Zidan penasaran.


"Iya, karena melihat dia lah kami akhirnya kecelakaan, dan menyebabkan adikku meninggal."


"Tapi bener deh, Rado tak pernah cerita kalau ada cewe lain, hanya kamu yang sering dia bangga-banggakan, dia pun sangat ingin menikahi mu, tapi kayanya kamu yang terus terusan belum siap. dan akhirnya kamu terus saja menghindarinya."


"Waktu kecelakaan itu aku sangat syok, hingga aku pun pura-pura amnesia."


"What...? kamu pura-pura?"


Nahla terlihat mengangguk.


"Ya Allah, tega benar kamu! kenapa tak kau tanyakan saja masalah wanita itu? aku yakin dia bukan siapa-siapa, selama 4 bulan ini adalah hari yang berat baginya, dia harus mengurus perusahaan saat papanya sakit juga selingku...han." Zidan terdiam, keceplosan


" Apa...? selingkuhan, selingkuhan siapa? hayo ngaku! jadi benarkan kalau Rado punya wanita lain?" Nahla tampak berapi-api.


"Bukan Rado...bukan!" Zidan panik. Bagaimana ini.


"Lalu siapa? bukankah kita sedang membicarakan Rado?" Mata Nahla mendelik.


"Iya, tapi bukan dia yang selingkuh" Zidan menekankan kata selingkuh, bahwa bukan Rado pelakunya.


"Ah, sudahlah, kalian sahabat dekat mana mau memberitahuku." Nahla pun berdiri mau pulang.


Zidan garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Bagaimna ini, apa aku harus jujur?


"Tunggu..." Zidan menarik tangan Nahla.


"Baiklah, tapi bisakah kau memegang janji?" Zidan mengarahkan tangannya pada Nahla untuk saling bertautan untuk berjanji. Nahla tampak ragu.


"Emang seserius apa? sampai harus berjanji segala!" Nahla masih terdengar jengkel.


"Kalau kau mau, kita berjanji dulu, kalau tidak mau, silahkan pulang." Ucap zidan lagi.


Akhirnya Nahla menjulurkan tangannya.


"Baiklah!"


"Siapkan mental mu." Zidan menghela nafas dalam.


"Yang selingkuh itu...Papa Rado."


Mata Nahla membelalak sempurna.

__ADS_1


"Apa?" Walau tidak terlalu nyaring, namun bisa di dengar oleh orang yang duduk di samping mereka.


BERSAMBUNG....


__ADS_2