
"Nahla, pelan pelan saja ya! jangan ngebut kalau nyetir, apalagi kamu baru belajar, Aisa juga, ingetin kakaknya, Ummi nggak bisa ikut."
Ummi menyiapkan makanan untuk di antar ke tempat pamannya, karena pamannya lagi sakit. Ini kali pertama Nahla pergi sendiri, biasanya juga sama ummi nya. Perjalanan sekitar 40 menit ketempat pamannya, jadi ummi nggak perlu terlalu khawatir.
"Iya Mi, yu Aisa, Mi berangkat ya, assalamualaikum." Nahla pun cipika cipiki sama ummi.
"Ah, Nahla, kaya bekal pergi lama aja, jangan lama lama disana! takut kalau ponakan Bibimu si Rangga itu ngegombalin kamu lagi, hehe." Rangga ponakan bibinya yang naksir sama Nahla, bahkan sempat melamar tapi di tolak Nahla. Sedang paman adalah adik ummi nya.
Nahla pun berangkat bersama Aisa adiknya. perlahan tapi pasti dia pun .elaju dengan pelan, karena Nahla baru belajar. Sesampainya di jalan Tol.
"Awas kakaaaak....."
Ciiiiiieet.
BRUK.
Mobil itu terpental setelah menabrak truk berlawanan arah. Sempat terseret beberapa saat. Mobil pun mengeluarkan asap.
"Nona,....tolong...siapa saja, ayo kita bantu." orang orang yang ada di sana panik, mereka mengeluarkan linggis untuk memecah kaca.
"Ra...do..." Desah Nahla, dan akhirnya dia pun pingsan, sementara adiknya sudah duluan pingsan karnena terlalu banyak darah mengucur dari kepalanya.
Tap tap tap.
Nahla dan Aisa dibawa ke RS IDAMAN, rumah sakit paling dekat. Mereka pun langsung dibawa ke RUang ICU.
"Hello, ini pa Pipip? maaf, sekarang pemilik ponsel ini ada di RS idaman,tolong Bapa segera kesini!" Seseorang menelpon Rado, karena di HP Nahla bernama pipip. Jadilah panggilan pa Pipip hehe. Karna pipip lah paling banyak chat di HP Nahla.
"Apa? i-iya saya segera kesana." Rado yang saat ini sedang mengantar Laras periksa kandungannya di klinik pun segera pamitan.
"Laras, maaf, aku harus pergi sekarang, nanti kamu plang pakai gojek aja ya? atau grabe? aku harus pergi." Rado tanpa menunggu jawaban laras yang kebingungan, dia langsung berlari menuju parkiran.
#
"Nahla...Aisa....jangan tinggalin Ummi Nak, maaf ini gara gara ummi,kalau saja tadi ummi tak menyuruhmu ketempat paman, tentu ini tidak akan terjadi." Ummi Ririn menangis sesenggukan, walau tak histeris sih, sedang ummi Nana mengelus -elus pundak sahabatnya itu .
"Ummi, mana Nahla Mi?" Tiba-tiba Rado datang panik. Sebelumnya Rado menelpon ummi nya, karena Rado berada lebih jauh dari RS tersebut.
"Nak maafin Ummi." Ummi Ririn terus saja menangis menyalahkan dirinya.
"Lagi di operasi Nak, ada sobekan di kepalanya, harus di jahit." Ummi Nana alias ummi nya Rado pun ikut menjawab.
Rado mondar mandir menunggu siapa saja yang akan keluar lebih dulu.
"Sus, bagaimana Nahla sus?" Tiba-tiba ada perawat keluar, membawa berkas ditangannya.
__ADS_1
"Maaf Tuan..." suster itu pun terlihat menghela nafas dalam.
"Keluarga dari Aisa azzahra."
"Iya sus!"
"Ayo masuk." Mereka pun duduk di ruangan kecil, yang ada di samping ruang operasi.
"Maaf, kami sangat menyesal
kami tidak bisa menyelamatkannya."
Sontak saja semua keluarga yang ada di sana menangis, sedang ummi Ririn terlihat sesunggukan seakan nafasnya tersendat sendat sambil berzikir lailaahaillaallah beberapa kali sampai akhirnya dia pun pingsan.
"Ririn, Ririn." Ummi menggoyang goyangkan tubuh sahabatnya panik. Akhirnya di bawakan suster kasur kosong dan di gotong naik ke atasnya.
sementara Rado terlihat menunduk sambil memegangi kepalanya. Dia pun terlihat mengeluarkan air matanya. Kenangan bersama Aisa pun berkelebat, anak manis itu, yang suka menggodanya.
"Kakak, kapan menikah? Aisa pengen punya adik." Itulah kenangan yang sangat di ingatnya.
"Maaf keluarga Nahla?" semua sontak berdiri terutama Rado yang cepat berlari menghampiri dokter.
"Satu orang keluarga boleh masuk." Rado, ummi dan yang lainnya saling pandang, keluarga terdekat yaitu ummi Ririn, sedang dia sekarang pingsan.
"Saya dok, calon suaminya." Rado pun masuk mengiringi dokter. Nahla terlihat membuka matanya, namun terlihat kosong.
"Kamu......siapa?"
Door.
Rado menatap tajam wajah gadis kesayangannya itu, sebelumnya dokter sudah memberi tahukan bahwa ad kemungkinan Nahla mengalami gagal fungsi syaraf, jadi Rado sudah siap. Rado hanya melongo menatap mata Nahla.
"Ini Pipip sayang, hari ini kita akan menikah, kamu ingatkan?" Rado coba meyakinkan, bukankah kemaren dia sudah melamar? dia ngelamar pakai BPKB mobil, ngajak nikah hari ini jam 3 siang. Nahla pun ingin mengabarkan itu pada pamannya, sampai akhirnya dia kecelakaan saat menuju rumah paman.
"Menikah? aku belim punya tunangan, ataupun calon."
Nahla menarik tangannya dan berpaling menghindari tatapan Rado, tapi di sudut matanya mengeluarkan butiran hangat,kalau dia lupa ingatan? kenapa tiba tiba menangis?mencurigakan. Tapi kalau dia pura pura lupa.apa sebabnya?
"Aisa, mana Aisa? Ummi, mana Ummi?" Nah lho malah cari Aisa, ngapain? dia kan amnesia.
"Nahla...sayang, lihat Pipip!" Nahla tetap tak bergeming, dia membelakangi Rado.
"Baiklah, aku akan keluar, aku akan panggilkan ummi." Rado pun keluar, diam diam Nahla menatap punggung Rado, dan meneteskan air mata.
Tap tap tap.
__ADS_1
"Ummi..." Nahla tidak mampu membendung air matanya, saat ummi nya datang dan memeluknya.
"Nahla, sayang!" Ummi pun menangis sejadi jadinya. Kalau ummi menangis mungkin karena Aisa kini sudah tiada, sedang Nahla belum di beri tahu soal itu, lalu Nahla menangis histeris karena apa?
"Ummi, Aisa mana Mi?" Tiba-tiba Nahla menanyakan itu, ummi bingung harus jawab apa. Sementara kondisi Nahla pun sangat buruk, tapi Nahla belum menyadarinya.
"Tenang dulu Nak, adik baik-baik saja kok!" Nahla masih saja merengek minta bertemu.
Sementara diluar, Rado sedang sibuk mengurus kepulangan jenazah Aisa, karena hari ini juga sehabis sholat zuhur akan segera di semayamkan, tanpa menunggu ayahnya pulang, ayah Nahla kan seorag pelaut.hanya seorang nelayan, siiih. Makanya jarang pulang. Umminya sudah mengikhlaskan, kalau ayahnya tak bisa datang, karena sangat jauh.
"Mi, Nahla pengen Pipis." Nahla pun pengen turun dari ranjangnya
"Mi ! ada apa ini? kaki Nahla tidak bisa di gerakan Mi,kenapa Mi?" Ummi segera memeluk anaknya itu, tangisnya makin menjadi jadi. Nahla pun baru sadar, kalau kakinya bermasalah.
"Ummi......hua hua hua." Nahla menangis histeris seakan dia tidak bisa lagi membendung air matanya.
#
Pemakaman Aisa pun selesai, semua tamu yang datang pun sudah pulang satu persatu. Tinggal Ummi Nana, Ummi Ririn, Rado Pa Kenan dan juga Nahla yang sedang duduk do kursi roda.
"Sayang, ayo kita pulang!" Rado mendorong kursi nahla namjn tiba-tiba....
"Stop!" Nahla berteriak membentak Rado,Rado pun bingung ada apa?
"Sayang, ada apa? kau marah padaku?" Rado pun bingung dibuatnya.
"Ummi, tolong bawa Nahla pulang, Nahla nggak mau orang asing mendorong Nahla." Ucap Nahla.Sontak saja semua yang mendengar heran. Oh iya ceritanya kan Nahla sedang amnesi, tapi kok marah-marah, kaya di selingkuhin aja, haha.
"Nahla,...baiklah!" Ummi Ririn pun tak bisa berbuat apa apa. Mereka pun berjalan menuju mobil.
" Nahla di belkang aja Mi." Mungkin Nahla tidak ingin dekat dengan Rado, karena Rado yang nyetir.
sementara Pa Kenan Ummi Nana bersama sopir di mobil lain.
"Iya." Sahut ummi.
"Sayang, mobil kamu sedang dibawa kebengkel, akan di perbaiki, mungkin 2 atau 3 bulan baru bisa kembali kebentuk semula." ucap Rado.
"Mobil? mobil apa?" jawab Nahla. Lho apa Nahla juga lupa mobilnya?
Gumam Rado.
"Oh maaf, nggak papa, kemaren mobil kamu lecet keserempet, jadi harus di semprot supaya kenclong lagi." Ucap Rado singkat. Dia tidak ingin mengungkit kecelakaan itu yang telah merenggut nyawa adiknya.
"Emang Nahla punya mobil?" Terlihat ada kesal di mata Nahla. Entahlah, hanya Author dan tuhan yang tau hehe.
__ADS_1
BERSAMBUNG...