
"Assalamualaikum, Ummi! Bibi!" Rado dan Nahla baru saja tiba dirumahnya, dia pun celingukan mencari orang-orang rumah yang terlihat sepi.
"Waalaikumussalam, Tuan muda sudah datang?" Bibi tiba-tiba nyembul dari pintu dapur.
"Ummi mana Bi? ko sepi?" Rado menyapu ruang tamu dengan matanya.
"Mungkin lagi istirahat tuan, tadi katanya lagi sakit kepala, makanya Tuan ayo segera nikah! punya banyak anak agar rumah ini tidak sepi!" bibi menggoda Rado.
"Iya Bi ini juga baru beli hantaran, iya kan sayang!" Rado merangkul bahu Nahla , sambil tersenyum manis bak arjuna.
"Eh mas apaan sih?" Nahla menghindar dan menjauh dari dekapan Rado, padahal dia sebenarnya pengen nempel terus, tapi belum di halalin siiih.
"Ah jangan pura-pura jual mahal dong, masa cowok ganteng kaya gini di cuekin?" Rado mengernyit-ngernyitkan kedua alisnya.
"Gombal." Nahla pun berjalan menyusul bibi yang menuju dapur.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba Pa Kenan muncul di pintu depan dengan muka kusut.
"Papa ko sudah pulang?" Rado memandang muka kusut papanya.
"Ummi mana Do?" Pa Kenan langsung menuju kamar.
"Di kamar pa." Rado pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
Sementara bibi sibuk menata meja makanan persiapan makan siang.
"Bi! apa sudah siap? waaaah enak ni!" Tiba-tiba Ummi datang dan duduk di samping hidangan yang aromanya aduhaaai nikmatnya ,sop jamur kesukaan Pa Kenan.
"Nahla, tolong panggilan Papa dan Rado, kita makan bareng!" Ummi pun sambil mencicipi sambel acan bikinan bibi.
"Iya mi."
Tap tap tap.
"Papa, tok tok tok, makan siang udah siap pa!" Nahla mengetuk pintu dengan pelan.
"Iya nak, duluan aja! nanti menyusul." Sahut pa Kenan dari dalam kamar.
Nahla pun berbalik dan menatap ke atas.
"Mas Rado! makan siang sudah siap!" Lama Nahla menunggu jawaban dari kamar atas, sampai beberapa kali di panggil pun tak ada jawaban.
"Ketok pintunya aja Non, mungkin tuan muda lagi ketiduran." Sahut bibi dari dapur.
Tap tap tap.
Terdengar Nahla menaiki tangga menuju kamar atas. Dia melihat ada dua kamar di sana, kira-kira yang manakah kamar Rado? Batinnya.
Nahla mengetuk asal asalan.
Tokk to.k
"Mas!" Nahla menempelkan telinganya di daun pintu coba mengintip kalau ada suara didalam.
__ADS_1
Bruk.
"Au." Tiba-tiba pintu terbuka dan Nahla tersungkur jatuh ke dada bidang Rado yang tidak mengenakan baju.
"Hey, kau?" Rado terkejut namun tangannya reflek merangkul pundak Nahla.
"Ah maaf." Nahla coba melepas dekapan Rado, namun rupanya Rado cari kesempatan.
"Kau lagi!" Rado pun melangkah maju Menarik tangan Nahla ke dekapannya dan satu tangan lainnya menutup pintu. setelah tertutup Rado menyandarkan Nahla di pintu, wajah merwka saling beradu pandang.
"Ma..mau apa kau?" Nahla gugup, Rado menatap dengan senyuman menggoda.
"Aku yang harus bertanya! mengapa kau berani masuk ke kandang singa? he he." Rado menundukkan wajahnya mendekati bibir Nahla, Nahla pun gemetar.
"Rado....ayo makan! Nahla." Tiba-tiba ummi dibawah memanggil hingga Nahla pun terselamatkan.
"I-iya Mi." Yak ada alasan Rado lagi untuk menahan Nahla dikamarnya. Setelah keluar kamar, Nahla pun menoleh dan memajukan bibir bawahnya, sambil tersenyum licik.
"Sasar gadis ini, awas kau!" Gerutu Rado kesal.
Akhirnya Rado pun ikut turun menuju dapur.
" Mi, banyak sekali sop jamurnya, emang mau makan siang se komplek? " bibi yang mendengar celotehan Rado pun tersenyum. Memang anak itu sering ngegemesin.
"Sudahlah do, makan saja, nggak perlu komentar." sahut Papa santai.
"Iya Do...ini kan sop kesukaan papa!" Sahut ummi lagi.
"Emang ummi senang ya masak masakan favorit papa? trus apa papa juga suka menyenanginUummi?" Rado melirik arah papanya coba mengintip reaksi papa.
"Nahla, tolong tambahin nasinya dong, masakan bibi memang top markutup, kalau begini terus, bisa-bisa aku nggak jadi nikah karena sudah ada bibi yang pinter masak." Mata Rado sengaja melirik ke muka Nahla yang terlihat malu malu.
"Kau ini, ada apa sih Do? ini ambil sendiri!" ummi pun meletakan tempat nasi dihadapan Rado.
"Ah ummi nggak asyik ah, Rado kan pengen di ambilin calon Rado, iya nggak?" Rado meminta persetujuan Nahla, Nahla hanya mengerutkan bibirnya.
"Mi, habis ini Rado ngantar Nahla, trus ada keperluan mendadak sama temen sebentar ya Mi?" Rado minta izin pada umminya. Seakan-akan di sana tidak ada papa.
"Iya, jangan pulang terlalu larut,Ummi sering kawatir!" Rado hanya mengangguk, karena mulutnya masih penuh.
🌹🌹🌹
"Zidan gimana? berhasil nggak? ni kan sudah semaleman?" Rado terlihat serius.
"Pagi tadi sudah aku cek, tapi belum ada tuh." Zidan pun terlihat kurang nyaman, takut juga kale kalau sampai dicurigai Rado.
Zidan pun mengaktifkan kartu yang biasa dipakai untuk menteror pa kenan.
Klok.
Pesan masuk
("Sudah aku transfer 1M, dan kamu tepati janjimu untuk menghapus foto itu, awas kalau kau ingkar!")
__ADS_1
" Rado, yes" Zidan pun langsung mematikan no tersebut.
"ada apa? apa ada kabar baik?" Rado penasaran.
"Ya, papamu sudah transfer, lihat ini!" Zidan menyerahkan HP pada Rado.
Et sekarang kan mematikan sim nggak harus HPnya mati juga kaleee.cuma kartu yang ei non aktifkan.
"Ayo!" Ajak Rado bergegas untuk transaksi ke bank.
🌹
"Sekarang mari kita cari perumahan, tak usah terlalu besar, yang penting kamu bisa tinggal sama adikmu dan juga ibumu."
Mereka pun beranjak dari bank menuju perumahan yang terdekat dari kampus. Karena sekarang Zidan bekerja sebagai tukang bersih bersih kontrakan orang, dekat kampus. Sambil menunggu tes CPNS.
Setelah mereka selesai dengan urusan rumah Zidan, Rado pun pergi menemui Laras.
"Rado, apa kau benar benar akan menikahiku?" Laras menempelkan kepalanya di pundak Rado.
"Iya, insyaa Allah." Laras memandang Rado.
"Kok insyaa Allah? yang serius dooong!" sahut Laras ketus.
"Kalau tuhan mengizinkan, ya kita nikah! kalau tuhan tidak mengizinkan gimana? oh ya, rumah ini, minggu depan sudah bisa ditempati, dan kamu bisa pindah kesini." Rado berusaha manis sama Laras, walau hatinya sangat sakit.
"Benarkah? kalau kamu serius, aku mau cari pekerjaan disini, supaya bisa dekat dengan rumah kita ini!"
"Oh, baguslah! jadi kamu nggak perlu terlalu cemas kalau meninggalkan adikmu bekerja." Rado pun berdiri dan pura pura melihat lihat sekeliling rumah, padahal sih dia gerah kalau harus dekat dekat dengan Laras.
"Rumah ini sudah aku lunasi, jadi kamu nggak perlu khawatir tentang angsuran bulanannya!ayo kita pulang!sebentar lagi magrib",Merwka pin pulang menuju kontrakan Laras.
Deg
("bukankah itu mobil papa? dia sekarang ada di depan gang laras,bagaimana ini?")
Batin Rado.
"Laras, lihat mobil didepan gangmu itu, bukankah itu sangat mengganggu jalan masuk?" Rado sengaja memelankan kendaraannya, agar Laras melihat dan mencari cara agar mereka tak saling bertemu. Bukan hanya Rado, Laras pun pasti tidak mau mereka saling bertemu.
"Mana...? Rado sebentar, balik lagi yu! aku harus belanja ke warung dulu!" Ajak Laras
selamat, selamat batin Rado.
"Oh ya mas, kamu duluan aja, aku biar jalan kaki aja pulang ke rumah!" Titah Laras.
"Apakah tidak papa? nggak enak ninggalin kamu disini." Rado pura pura khawatir.
" Udah nggak papa kok!"
"Baiklah, aku pulang, assalamualaikum" Rado pun berlalu pergi.
"Wa alaikumussalam"
__ADS_1
BERSAMBUNG....