
Mentari menyinari pagi yang cerah, terlihat Rado merapikan pakaian dan memasukannya dalam Tas, sedang Laras masih asyik ngASI bayi mungilnya. Sesekali menciuminya.
"Nak, betapa malangnya nasibmu, lahir tanpa ayah, malah ditemani kakak, tapi tak apalah kakak juga nggak papa, kakak yang tampannya selangit gitu ya nak!" Laras melirik Rado yang asyik mengemasi pakaian dan perlengkapan lain. Rado pun mendengar celotehan Laras dan tersenyum.
"Oh iya, kita belum memberi nama pada anak itu? bagaimana kalau zila, atau Qia?" ucap Rado pada Laras.
"Davian, apa kau punya nama untuk dede bayi?" Laras menanyai adiknya, karena dia tau, Davian sangat perhatian sejak dia masih hamil, Davian slalu melayani keperluan Laras, dia sangat senang akan memiliki dede bayi, kalau Laras sakit kepala mual muntah saja Davian lah yg memsak dan mendadar telor, hanya itu yang dia bisa.
"Aku terserah kak Tio saja! Ucapnya.
"Oh ya, mulai sekarang nama kaka bukan Tio lagi ya! tapi Rado." Rado menatap ke arah Davian dan menyuruhnya untuk memanggil Rado.
"Ko berubah sih ka?" tanyanya dengan polosnya
"Iya, Tio itu nama tener kaka aja kalau lagi sama teman teman." Ungkapnya berbohong.
"Semua sudah beres, aku juga sudah menyelesaikan administrasi, sekarang ayo kita pulang." Rado menuju pintu dan tiba tiba berbalik. Dia lupa, kalau Laras masih lemes.
Tring tring
("Hello pipip")
Sudah lama sekali panggilan itu hilang, Rado terdiam sejenak, betapa indah dan merdunya suara itu, suara yang sangat dirindukan nya, mungkin ini saatnya, dia harus menjelaskan semuanya.
("Bisakah sekarang ke rumah sakit idaman?")
Karena Rumah Nahla dekat dengan rumah sakit. Apa Rado menyuruh membantunya?
("Ada apa?")
("Tak usah bertanya datang saja, nanti aku jelaskan")
Klik
Rado lun mematikan Hpnya
Tak berapa lama Nahla sudah sampai di halaman Rumah sakit.
"Hey, sayank" Tiba-tiba Rado merangkul pundak Nahla menggandengnya mesra, tak ada penolakan dari Nahla. Mungkin karena Nahla juga sangat merindukannya. 5 bulan lebih Nahla dan Rado hampir tak pernah bertemu lagi.
"Ada apa kau menyuruhku kesini?" Nahla menoleh kesamping, tepat jarak antara Wajah Nahla dan Rado hanya beberapa senti saja, Rado menatap Nahla penuh kemesraan, mereka terus berjalan menuju lift.
"Aku minta satu hal padamu, apa pun yang kau lihat apapun yang terjadi nanti tolong jangan bertanya, kau harus percaya padaku, hanya kau satu satunya." Rado mengelus-elus pundak Nahla dengan tangannya yang sedang merangkul Nahla.
"Emang ada apa?" Nahla malaj tampak penasaran.
"Sayang, percayalah, apa yang kau lihat waktu itu tidak benar, waktu didepan klinik, sekarang jangan tanyakan apa apa lagi." Pintu lift terbuka dan mereka menuju ruangan Laras.
__ADS_1
Kreeeek
"Mas!" panggil Laras, namun suaranya terhenti ketika melihat wanita yg pernah dia kenal teelihay muncul dari belakang Rado.
"Pipip?" Nahla pun tak kalah terkejutnya.
"Ayo masuk!" Rado merangkul pundak Nahla menuju ranjang tempat Laras duduk.
Saat itu perasaan Laras sudah tak karuan, hatinya hancur berkeping keping melihat Rado merangkul wanita lain.
"Bukankah kau yang waktu itu?" Ucap Laras pada Nahla.
"Apa kalian sudah kenal?" Rado pun menatap Nahla dan Laras bergantian.
"i...iya, waktu itu mas Zidan membawaku menemui mbak Laras." Nahla sedikit malu malu.
"Jadi kau menyelidiki ku?" Rado pun mengetuk kepala Nahla dengan telunjuknya.
Nahla pun hanya tersenyum.
"Ini tolong gendong malaikat kecilku, awas jangan sampai jatuh." Ucap Rado mengambil Bayi mungil itu dari pangkuan Laras.
"Ha!?" Nahla kaget melongo memandangi muka Rado yang tampannya aduhai itu.
"Tidak usah." Laras pun berdiri pengen merebut bayinya.
"Laras! hati-hati." Rado reflek menyangga tubuh Laras yang tiba-tiba hampir jatuh karena tak seimbang gara-gara merasa kesakitan.
"Nggak papa ko Mbak, biar aku yang bawa dede bayi." Nahla pun membenarkan posisi bayi yang ada di pangkuannya. Hati Nahla sebenarnya cemburu melihat adegan barusan, karena wajah Rado hampir menyentuh wajah Laras.😉
"Ayo!" Nahla pun berjalan mendahului mereka. Sedang Rado masih membantu Laras berjalan.
"Sebentar biar aku carikan kursi roda dulu. Rado pun keluar dan kembali dengan membawa Kursi Roda.
Mereka pun berjalan beriringan
Eh, apaan ini? masa aku menggendong bayinya, lihat! mereka begitu mesra berduaan.
Nahla yang dirundung cemburu terus bergumam, padahal Rado hanya mendorong kursi Roda, masa di bilang mesra🤣
"Sayaaaang, sini!" Rado yang menyadari Nahla sedang cemburu berhenti berjalan, dan melambai ke arah Nahla.
"Iya, ada apa?" Nahla yang tadi terus menggerutu pun kaget di panggil oleh suara yang tidak asing itu.
"Sini!" Rado melepaskan pegangannya pada kursi Roda dan mengambil Bayi mungil itu dari Nahla.
"Kenapa? nanti kamu nggak bisa mendorong kursi ini?" Ucap Nahla bingung.
__ADS_1
"Siapa bilang tidak bisa! Ayo, sekarang kamu yang dorong!" Rado menggandeng tubuh Nahla dan menyuruhnya mendorong kursi Roda. Waduuuh mesranya bagaikan SATU HATI 2 CINYA YA😍
"Oooh, baiklah." Mereka pun meneruskan perjalanan menuju mobil.
Sampai di parkiran, Laras berdiri dan membuka pintu depan, pengen duduk didepan gitu kale ya.
"Et, tunggu, Laras duduknya dibelakang saja, kasian bayinya kalau pengen *****." Ucap Rado cepat.
Nahla pun menggendong bayi mengambilnya dari pangkuan Rado, dan masuk mobil bersama Laras. Muka Laras terlihat cemberut karena di larang Rado duduk didepan.
Rado pun memegang lengan Laras membantunya masuk ke dalam mobil. Kasian kan baru lahiran. Sepanjang perjalanan tampak hening hanya sesekali Davian yang duduk di depan memanggil bayi kecil dengan sebutan baby Q(Qiu) .Tak terasa mereka pun sudah tiba di rumah Laras.
🌹🌹🌹
"Papa mau kemana, kok pakai kaos biasa?nggak ngantor ya? oh ya Rado juga kemana? sudah 2 hari ini belum pulang juga nggak nelpon Ummi, kalian akhir akhir ini aneh, ada apa sih?" Ummi mengajukan pertanyaan beruntun.
"Rado lagi sama temennya, sekalian dia juga ingin segera menyelesaikan proyek rumahnya buat ngelamar Nahla." Ucap Pa Kenan
"Apa? apakah Rado dan Nahla sudah baikan?" yah Pa Kenan nggak tau nih kalau Rado sedang nggak pernah ketemuan udah lama,sama Nahla. Ummi merasa di khianatin Rado udah baikan nggak bilang bilang, malah mau bikin lamaran.
"Apa? apa mereka bertengkar?" Malah Pa Kenan balik nanya🤣.
"Lho, papa ini bagaimana sih? katanya Rado lagi bikin proyek untuk melamar Nahla."
Ummi emang nggak tau kalau Rado udah bangun istana mungil buat Nahla.
Tapi kebetulan aja Papa udah tau, pas lagi nyari nyari Laras eh melihat bangunan yang sudah berdiri 80%, jadilah dia bertanya sama pekerjanya. Makanya dia tau.
"Oh itu kemaren Papa lewat tanah Rado, yang dahulu dia beli. Sekarang udah ada bangunannya, katanya itu punya Rado buat Ngelamar ceweknya, ya jelaslah ceweknya Nahla, setau Papa kan cuma Nahla ceweknya, udah ah papa mau keluar sebentar ada urusan di luar, assalamualaikum"
"Waalaikussalam"
Pa Kenan pun pergi menggunakan mobil sport punya Rado yang baru dibeli setelah kecelakaan dulu.pa Kenan menuju Rumah sakit untuk menemui Laras.
tok tok tok....
"Maaf bapa cari siapa?" Seseorang muncul dari balik pintu.
"Ooh, ini apa kamar Laras?" Pa Kenan jadi gugup, ebukan Laras atau Rado yang keluar, tapi orang lain.
"Maaf, kami tidak kenal atas nama itu, kami juga baru pindah jam 10 tadi ke kamar ini."
"Ooh, maaf kalau begitu mungkin orang yang saya cari sudah pulang." ucap pa Kenan.
Pa Kenan Menuju ruang perawat yang jaga, untuk bertanya .
🌹🌹🌹
__ADS_1
BERSAMBUNG....