
Tiba di rumah Nahla langsung mandi dan sholat zuhur. Dia masih ragu antar ingin bercerita masalah Pa Kenan atau tidak kepada ummi nya, takutnya kalau ummi nya bekal cerita ke ummi Nana kasian.
"Mi, aku mau antar kerudung dulu sama Nadya sore, apa ummi mau ikut?" Sejak kepergian Aisa, ummi Ririn sering ikut kemana pun Nahla pergi, mungkin merasa kesepian di rumah.
"Nggak nak, aku mau nyuci sprei dan tirai sore ini." Jawab beliau singkat.
Setelah selesai makan siang Nahla pun bersiap berangkat, dia ragu ragu antara mau memakai mobil atau tidak. Masih trauma kadang membayangi pikirannya.
"Mi, aku mau pakai mobil ya? sejak di belikan aku belum pernah memakainya." Tanya Nahla, kalau Ummi nya mengizinkan dia pakai, kalau tidak dia pakai motor saja.
"Iya, tapi hati hati jangan melamun dan pelan pelan saja ya." ummi menasehati anak semata wayangnya itu.
"Iya Mi."
Akhirnya dia pun berangkat. Dia menjalankan mobilnya sangat pelan, tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang berdiri di depan klinik kandungan, Nahla pun berhenti dari jarak yang lumayan jauh.
"Rado? ngapain dia di sana." Hati Nahla sedikit berbunga bunga melihat pujaan hatinya itu, sebenarnya dia sudah mulai menghilangkan kecurigaannya dulu, sebab Zidan meyakinkannya, bahwa hanya dialah pujaan hati Rado. Nahla memperhatikan Rado dari kejauhan, dia seakan terkesima oleh ketampanan pria itu.Namun....
"Laras sudah selesai?" Rado pun menggandeng tangan Laras masuk kedalam mobil. Kandungan Laras yang sudah membesar, 8bulan lebih, membuat dia sering kesulitan berjalan.
Deg.
Bagai disambar gledek disiang bolong. Nahla gemetar, wanita itu, ya wanita itulah yang dulu dilihatnya bersama Rado.
"Keterlaluan Zidan." gerutu Nahla
dia pun maju dengan pelan, dia harus rileks jangan sampai kejadian 4 bulan lalu terulang, bisik hatinya.
Namun ternyata Rado mengenali mobil yang sedang berpapasan dengan mobilnya. Dan Rado pun menoleh ke arah Nahla dan tersenyum.
'Untunglah dia mau memakai mobil itu'
Bisik hati Rado.
'Sialan, dia sengaja senyum picik ke arahku'
Gerutu Nahla saat melihat senyum Rado dari kejauhan.
Tak terasa, Nahla pun sudah sampai ke tempat Nadya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, eh Nahla, masuk nak!" ibunya Nadya menyambutnya dimuka pintu.
"Nahla, sudah datang? ayo ke kamarku aja, kamu kan pengen curhat?" sebelumnya mereka sudah chatan Nahla pengen curhatan sama sahabatnya itu.
"Iya Nad."
Mereka pun masuk.
"Mobil baru lagi ya?" Tanya Nadya.
"Iya, si Rado tuh ganti in mobilku yang rusak."
"Apa? jadi Rado ganti mobil mu dengan yang baru lagi, dia pasti sangat cinta sama kamu La!" Ucap Nadya.
"Entah." Nahla pun bercerita tentang asmaranya selama ini dengan Rado, kasus kecelakaannya pun tak luput dia ceritakan.
"Kalau aku sih percaya sama Zidan, Rado pasti sangat cinta sama kamu, mana mungkin dia mau beli in mobil mewah trus saat mobilnya rusak lho nggak mau pakai. Malah dibelikan yang baru."celoteh Nadya.
"Dia aja kale banyak duit, dia kan bos." jawab Nahla.
__ADS_1
"Nggak juga La, banyak tu bos bos kalau dia nggak serius nggak mungkin kasih yang harga Ratusan, paling dia beli in harga puluhan." Ah Nadya bisa aja bikin hati Nahla bingung.
"Oh iya, tadi juga aku ketemu dia di jalan, dia sama perempuan hamil, perempuan yang waktu itu ku lihat, usia kehamilannya mungkin sudah 9 bulan, kelihatan besar." Nahla tampak muram menceritakan pertemuannya dengan Rado tadi dijalan.
"Ah, masa? salah liat kale La, coba aku tanyain sama Zidan." Tiba-tiba Nadya nelpon Zidan
"Jangan, Zidan nggak mungkin beri tau, dia kan akrab banget sama Rado." Tapi Nadya sudah memencet no itu.
("Hello...Zidan aku mau nanya dong.")
("Tanya apa?")
("Masalah Rado, aku pengen tau, sebenarnya siapa sih yang sering dibawa Rado? dia sedang hamil.")
("Yang pengen tau kamu atau Nahla?")
("Ini Nahla ada di rumah, yadi dia ngeliat Rado berdua dengan wanita hamil itu. Nggak mungkin kan istrinya, nggak ada undangan juga! masa bos besar nikah nggak ada acara-an?")
("Bilang sama Nahla, kalau mau tau kesini, semuanya akan aku jawab")
Klik
" Yaaa, di mati-in, dia bilang kita harus kesana, dia akan ceritakan semuanya, ayo! aku juga penasaran!"
"Tapi bener nggak sih dia mau ceritakan ke kita?"
"Kita coba aja dulu!" Mereka pun berangkat pakai mobil Nahla. Setelah 20 menit kurang lebih mereka pun sampai.
"Nahla, Nadya ayo masuk!" Zidan yang lagi santai di teras rumah menyambut hangat kedatangan sahabat sahabatnya.
"Mama mana Zid?" Nahla juga akrab sama mama Zidan karena dulu sering ketemu di rumah lama mereka saat masih baikan sama Rado.
"Lagi di kebun belakang paling nanam sayuran walau tanahnya seupil hehe." Zidan pun mengambil Hpnya dan berdiri.
"Kemana?" Nahla dan Nadya pun bingung.
"Kan mau tau tentang wanita itu?" Walau masih tampak bingung mereka ikut saja ajakan Zidan.
Zidan pun nyetir mobil Nahla, sedang Nahla dan Nadya duduk dibelakang. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Dia berhenti untuk membeli Rujak beberapa bungkus.
"Buat apa Zid rujak sebanyak itu?" tanya Nadya bingung.
"Nanti juga bekal tau," Ucapnya.
Tak berapa lama, mobil berhenti disebuah rumah mungil di dalam komplek.
Tampak seorang Gadis kecil sedang duduk santai menikmati es kream.
"Hello Davian, Kakak mana?" Zidan turun dan menyapa gadis itu.
"Lagi di dalam berbaring, perut kaka terasa kram bekas periksa tadi." Ucapnya, dia pun kedalam memanggilkan kakaknya. Karena Zidan beberapa kali mengunjungi, sejak Rado menyuruhnya menikahi wanita itu. Namun Laras belum tau tentang Rahasia Rado yang sebenarnya. Dia takut akan mengganggu pertumbuhan janin Laras.
"Eh Mas Zidan? masuk, masuk mbak!"
Deg
Nahla kaget, dia ini kan wanita yang tadi Nahla liat bersama Rado. Bathinnya.
"Kami lagi lewat sini, makanya kami mampir, bagaimana kabarnya? kata Rado tadi ke klinik ada apa?" Zidan pura-pura so tau, padahal itu cuma cerita dari Nahla.
"Iya ini mendadak Kram, jadi periksa, tapi nggak papa ko?" Jawab Laras.
__ADS_1
"Kenalin ini Nahla, yang ini Nadya." Zidan memperkenalkan teman temannya pada Laras.
"Laras." Laras pun mengulurkan tangannya.
"Suaminya mana mbak? ko sama Rado periksa ke kliniknya." Tanya Nadya tanpa dosa dasar ni ya si mulut Nadya suka keceplosan.
"Hus." Zidan mendelik ke arah Nadya.
"Oh ya kami mau pamit. Kalau ada apa apa telpon aja aku ya. Sama aja sama Rado. Mungkin saja mendadak sakit, Rado nggak ngangkat telpon insyaa Allah aku bisa bantu." Zidan sengaja menyela perkataan Nadya, supaya Laras tak perlu jawab pertanyaan Nadya.
"Terimakasih mas, iya nanti aku kabari, kalau aku minta bantuan." Mereka pun bersalaman dan pamit pulang.
di perjalanan, Nadya mulai ngoceh.
"Zid, emang kenapa kalau aku tanya itu, kalau dia hamil pasti punya suami, kenapa harus merepotkan Rado, apa dia keluarga Rado? ini juga gara-garanya hubungan Nahla dan Rado retak." Et keceplosan lagi deh.
"Ho? jadi gara-gara wanita itu Nahla sering uring-uringan sama Rado? bahkan sampai amnesia? amnesianya beneren nggak sih?" Zidan jadi penasaran dan curiga.
" Yeee, tau ah." Nahla cuma menjawab singkat.
"Aku antar Nadya pulang dulu, baru ku antar Nahla." Zidan nggak mau cerita sama Nadya masalah Laras. Takutnya ember tu cewe.
"Lo kamu pulang pakai apa?" Laras tanpak keberatan pengen pulang sendiri.
"Gampang, jalan kaki juga sampai, hehe."
Tak terasa mereka pun sampai di rumah Nadya.
"Daaah."
Mobil Nahla meluncur ke rumah Zidan
"Lho katanya mau ngantar aku?" Tanya Nahla bingung.
"Aku mau cerita, tapi ingat jangan cerita ke siapa pun, wanita tadi selingkuhan papa Rado."
Deg
Nahla hanya mampu membulatkan mulutnya dan menahan nafas tak percaya.
"Rado bersusah payah mendekati wanita itu agar tidak meneruskan hubungannya dengan papanya, sampai akhirnya wanita itu percaya, sampai ide gila pun pernah dia utarakan." Zidan melirik spion ingin tau rekasi Nahla, dia berhenti bercerita. Hening.
"Ide gila, seperti apa? apa dia ingin membunuh wanita itu?" Nahla sedikit was-was, kalau sampai Rado berbuat nekat.
"Apa tampang Rado yang ganteng itu bisa melakukannya? apalagi cewe tadi lagi hamil tua."
"Trus Rado mau ngelakuin apa?" Nahla sangat penasaran, sampai dia memajukan duduknya ke sisi kursi agar sedikit maju mendekati Zidan.
"Rado berencana menikahi wanita itu setelah melahirkan." Zidan sengaja diam lagi,untuk melihat reaksi Nahla.
"Benar-benar play boy, sudah ku duga mereka ada sesuatu."
Tak terasa mereka sudah sampai rumah Zidan.
"Tapi itu hanya rencana, ternyata anak tiri nggak boleh nikahin mama tiri, itu dalam hukum islam." Tambah Zidan lagi sambil turun dari mobil.
"Ha? benarkah?" Nahla tampak antusias.
"Terimakasih ya tumpangannya! mau mampir dulu?"
"Nggak, aku langsung pulang aja."
__ADS_1
Nahla pun tersenyum-senyuman penuh misteri, apakah dia ingin kembali pada Rado?
BERSAMBUNG...