Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Cemburu Buta


__ADS_3

Sampai di rumah kecil Laras, Laras pun segera masuk dan duduk di sofa. Sedang Nahla baru turun dari mobil dibantu Rado, karna Nahla sedang menggendong bayi jadi perlu berhati hati kalau menuruni mobil.apalagi Nahla baru kali ini menggendong bayi membawanya kesana kemari.


"Sini sayang! biar pipip yang gendong!" Rado pun mengambil bayi mungil dari pangkuan Nahla. Mereka berjalan beriringan dan masuk kedalam rumah, Rado pun menyerahkan bayi mungil itu pada Laras.


"Letakin aja di kamar" Ucap Laras ketus.


"Lho ko di kamar, mungkin dia pengen N*nen" Ucap Rado kikuk karena harus menyebut itu.


"Pakai susu formula saja, aku lagi cape, juga masih sakit." Ucapnya lagi, karena merasa cemburu pada Nahla dan Rado yang saling sayang sayangan.


Rado pun terpaksa menyerahkan bayi mungil itu di pangkuan Nahla.


"Tolong jaga sebentar, aku mau nurunin barang barang dulu " Rado pun keluar menuju mobil. Nahla hanya bengong melihat tingkah Laras, dia pun terpaksa menerima bayi mungil itu di pangkuannya selesai beres beres Rado pin kembali mengambil bayi dari pangkuan Laras.


"Nggak usah pip, biar aku aja, aku taruh di kamar dulu, setelah itu biar aku bantu rapi in barang barang mbak Laras." Nahla pun kek kamar dan meletakan bayi itu di ranjang dan menutupinya dengan kelambu bayi.


"Au.." Nahla terkejut karena tangannya ada yang meraih cepat dan menggenggamnya.


"ssst" Ternyata Rado yang tiba tiba masuk kamar untuk mengantar Tas baju Laras sengaja diam dia masuk tanpa sepengetahuan Nahla.


"Sayang, aku cape, beberapa hari ini ngurusin Laras juga bayinya, aku ingin punya bayi sendiri yank." Rado menatap mata Nahla dalam.


"Ah, pip, nanti Laras liat gimana?"


"Kamu tidak ingin tau siapa anak itu?" Tanya Rado lagi.


"Zidan sudah menceritakan semuanya, bahkan dia juga sudah cerita kalau sebenarnya kamu juga akan menikahinya." Ucap Nahla pelan.


"Zidan? payah, kenapa dia mesti cerita duluan?"Rado makin erat menggenggam tangan Nahla.


"Sayang, apakah ingatanmu sudah benar benar pulih?" Rado ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada Nahla.


"Oh, itu anu, nanti ku ceritakan, sekarang aku mau pulang dulu, kasian ummi sendirian di rumah." Nahla pun hendak keluar menuju pintu, namun Rado menarik tangan Nahla hingga Nahla pun replek berbalik dan menubruk tubuh kekar Rado.


"Au...aduh, Rado!" Nahla segera mendorong dada Rado pakai tangan kanannya, walau tangan kirinya masih di pegangi Rado.


Sementara di luar, Laras tampak cemberut, dan sesekali menatap ke arah pintu kamar, sementara Davian sedang bermain dengan teman temannya di halaman, karena mereka sudah lama tidak bertemu biasa anak anak. Laras tampak cemburu, sesekali dia menghempaskan nafasnya kasar.


"Apakah kamu janji akan menikah denganku?" Tanya Rado lagi memaksa.


"Apaan sih pip? nanti dulu, aku mau pulang dulu, lagian selama ini kamu banyak membuat aku kecewa, jadi aku perlu berpikir ulang."


Nahla coba melerai tangannya dari tangan Rado namun tak berhasil. Rado malah menarik tangan kiri Nahla dan membawanya kebelakang tubuh Rado, sedang tangan Rado yang kiri mencengkram erat pinggul Nahla, hingga Nahla yang mungil itu tidak bisa bergerak.


"Pip, lepasin." Nahla sedikit berbisik namun menekan suaranya, agar tidak terdengar dari luar.


"Aku nggak akan lepaskan kecuali kamu berjanji untuk menikah denganku." Rado makin mendekatkan wajahnya ke wajah Nahla.Nahla lun makin Deg deg kan, tubuhnya tak mampu menolak pelukan hangat itu, namun hatinya ingat ummi yang slalu menasehatinya setiap saat jangan sampai lengah.

__ADS_1


"Baik! sekarang lapaskan!" Ucap Nahla.


Cup


"Hey!" Nahla kaget tiba tiba saja Rado mencium jidadnya.


"Hey, kalian sudah selesai merapikan bajunya aku haus nih."ucap Laras dari ruang tamu sambil berteriak.


"Akan aku ambilkan." Sahut Nahla dari kamar.


Nahla pun keluar dan mengambilkan air putih untuk Laras. Tiba tiba saja bayi mungil menangis, Nahla pun cepat ke kamar, tapi ternyata Rado sudah menggendong anak itu.


"Sayang, lihat bayi ini, lucu sekali, apa dia mirip denganku?"Rado menatap mata Nahla.


"Apa maksudmu? tentu saja mirip, dia kan adikmu, hehe." Goda Nahla sambil membuka Tas dan memasukan baju Laras satu persatu ke lemari pakaian.


"Entahlah, aku bingung, sebenarnya aku pengen balas dendam, tapi....melihat bayi yang tak berdosa ini hatiku luluh." Rado menciumi wajah bayi mungil itu berulang ulang.


"Hust, tidak boleh dendam, semua mungkin Allah yang atur." Nahla sudah selesai merapikan baju, dia pun pamit pada Rado.


"Tunggu, kita pulang bareng, biar Laras nanti di urus baby sitter, aku sudah menelpon jasa baby sitter mungkin sebentar lagi datang." ucap Rado.


"Laras, kami akan pulang dulu, baby sitter akan segera datang." ucap Rado.


"Bagaimana kalau bayi itu bangun, aku tidak bisa menggendongnya, karena kondisiku masih lemah, perutku juga masih sakit." Ucapnya ketus. Terlihat wajahnya juga masih cemberut menahan cemburu.


Betapa manisnya wanita ini, ya Tuhaaan, jadikanlah dia jodohku.


Ucap Rado dalam hati.


"Assalamualaikum." Baby sitter sudah datang. Rado pun tersenyum dan menyambutnya di depan pintu.


"Waalaikumussalam, masuk Bi !"


"Bi tolong jaga Laras dan bayinya, mulai sekarang semua urusan dirumah ini adalah tugas bibi." Ucap Rado


"Iya tuan." Hanya itu sahutan bibi. Rado pun menunjukan kamar untuk Bibi.


"Kami pamit pulang dulu, nanti kalau ada apa apa telpon saja." Rado pamitan sama Laras, namun Laras tak sedikitpun menoleh, dia pura pura sibuk dengan Hpnya.


"Nanti malam kesini kan untuk nginep, aku tak bisa bangun malam malam untuk memberi dodot." Ucap laras.


ish, apaan, masa Rado yang harus menjaga bayinya.


Gerutu Nahla dalam hat


"Insyaa Allah, kan ada Bibi yang membantu disini, kamu konsentrasi saja pada kepulihan mu, obat mu juga minum dengan teratur. Persediaan makanan sudah ku siapkan di kulkas, sudah penuh." Rado pun keluar. Nahla mengiringinya. Sampai di teras depan, Rado meraih tangan Nahla dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Hey, jangan!" Pekik Nahla kaget, namun Rado tak melepaskan genggamannya.


Rado membukakan Pintu mobil dan menutupnya, bak tuan putri, Nahla tersenyum, akhirnya mereka baikan.


"Aku pengen jujur sesuatu." Saat mobil sudah mulai berjalan, Nahla membuka pembicaraan.


"Katakan saja aku akan mendengarkan." Rado sengaja memelankan Laju mobilnya.


"Sebenarnya, tentang amnesia itu, aku hanya pura-pura"


Ciiiit.


Bruk


Rado membanting setir mobil ke kiri dan menghantam trotoar.


"Apa....? apa kau bilang! kau hanya pura-pura?" Rado terbelalak kaget, nafasnya naik turun menahan kesal bukan main.


"I..itu"


Bram....


Rado melanjutkan perjalanannya, tapi dengan kecepatan sangat cepat.


"Rado, jangan....jangan kenceng-kencang, aku truma, tolong." Nahla terlihat panik. Namun Rado tidak mengurangi kecepatan mobilnya sudah berapa buah mobil dia lewati sambil meliak liuk. Nahla teriak teriak, sampai Nahla memukul mukul lengan Rado, mencengkram dan menarik nariknya, namun Rado tidak bergeming.


Sampailah dihalaman luas Rumah besar yang terlihat asri, tampak seseorang sedang menyiram tanaman, karena hari sudah jam 4 sore.


"Assalamualaikum, ustadzah, apa ustadz sulaiman ada?" Rado menghampiri wanita itu, dan Nahla pun hanya mengekor di belakangnya tanpa berani bertanya,melihat raut wajah Rado yang tidak bersahabat.


"Wa alaikumussalam, nak Rado, ada, masih dikamarnya,tadi habis sholat berjamaah,aku duluan keluar, ayo masuk dulu!" Ustadzah fatimah pun memanggilkan ustadz sulaiman.


"Oooh Nak Rado." Tiba-tiba muncul seorang bapa-bapa Tua yang terlihat berwibawa, walau Rambutnya sudah di penuhi uban, namun wajahnya masih terlihat seger dan bijaksana.


"Rado aku belum sholat, jangan lama-lama." bisik Nahla.


"Maaf ustadz, apa boleh kami ikut sholat dulu?karena kami baru dari rumah sakit belum sempat mampir di mesjid, kayaknya kami bakal lama disini." ucap Rado.


"Oh boleh, Mi, ayo bawa mereka ke musholla belakang." Ustadzah pun membawa ke musholla. Selesai wudhu Rado menunggu Nahla selesai Wudhu.


"Apa kau mau ku imami?" Tanya Rado pada Nahla. Nahla hanya mengangguk.


selesai Sholat berjamaah, Rado langsung keluar, sedang Nahla merapikan sajadah dan mukena dengan hati hati biar terlihat rapi.


Rado terlihat berbicara dengan ustadz sulaiman, Ustadz sulaiman terlihat kaget dan setelahnya tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Rado.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2