
Nampak Laras tertidur pulas setelah hampir setengah malam dia berusaha mengeluarkan gadis cilik itu dari badannya, tampak lelah dan lesu di mukanya, Rado pun bagaikan jadi ayah dadakan bagi gadis mungil itu.
Ketika malaikat kecil itu bangun dan menangis, Rado siaga memberikannya mimi dari susu formula, karena ASI belum terlalu lancar. Rado terlihat bahagia melihat adik tirinya itu,sementara tak ad terlihat gurat dendam di wajah tampannya. Dia menikmati menjadi ayah dadakan. Laras juga sudah dipindahkan ke kamar biasa, sehingga Davian bisa menginap. Davian juga tampak lelah karena menunggu kakaknya sampai melahirkan baru bisa tidur tenang.
Sementara pa Kenan sudah di rumah dan dapat tidur pulas di ranjang empuknya, Pagi Pagi sekali Pa Kenan sudah bangun dan berdandan rapi. Pasti pengen ketemu sama Laras.
"Lho Papa mau kemana sudah rapi?" tatap Ummi aneh lada suaminya itu.
"Papa mau kekantor Mi, mau menyelesaikan pekerjaan kantor yang tadi malam terbengkalai."
sahutnya santai, wajahnya juga terlihat sumringah memamerkan senyumnya.
Pa Kenan pun pamit pada ummi. Tapi dia tidak berangkat kekantor akan tetapi ke Rumah sakit tempat Laras melahirkan tadi malam.
"Laras." Dia masuk kedalam kamar Laras dan melihat Laras sedang menyusui bayinya.
"Mas? maaf, sebaiknya mas jangan kesini lagi!" Ucap Laras ketus.
"Laras dia adalah anakku juga, aku berhak menjaganya." Kenan tampak ingin memangku gadis mungil itu. Namun Laras menolak
Kreeek
Tiba-tiba Rado dan Davian datang, mereka baru saja membeli sarapan keluar.
"Kau?" Rado pun kaget melihat kedatangan ayahnya dengan pakaian rapi dan sangat wangi.
"Apakah kalian saling kenal?" Laras terlihat bertanya-tanya.
"Laras mungkin ini saatnya aku bercerita semuanya." Rado pun duduk di samping Laras.
Rado mengambil malaikat kecil dari tangan Laras dan menggendongnya. Takut ada kejadian yang tak di inginkan terjadi.
"Laras, hanya satu keinginanku, bahwa Ummi Ku tak akan pernah tau tentang kau." Rado berhenti sejenak dia menarik nafas dalam, sementara Kenan hanya menunduk. Davian mulai asyik makan sarapannya di pojok dekat jendela.
"Apa hubungannya denganku?" tanya Laras penasaran.
"Kau tau kan betapa aku gigih mendekatimu? aku tidak ingin ummi ku terluka, awalnya aku juga akan bertindak nekat untuk menikahi mu."
"Apa?" Pa Kenan kaget
"Maksudmu? kau hanya membohongiku?" Tanya Laras lagi.
"Tidak Laras, awalnya memang aku hanya ingin menjauhkan kau dari laki-laki ini, tapi setelah cara itu tidak berhasil, aku pun bermaksud untuk menikahi mu setelah melahirkan, tapi ternyata kita tidak bisa menikah."
Rado memandangi bayi mungil itu, air matanya pun tak bisa dia bendung, air mata itu pelan tapi pasti mengalir dan jatuh di pipi sebelum sampai jatuh ke tubuh mungil bayi mungil Rado pun menyapu nya.
"Aku belum paham, apa maksud semua ini Rado?" Laras benar benar di bikin pusing oleh cerita Rado yang belum jelas ujungnya.
"Sebenarnya, kau adalah ibu tiri ku, dan ini adalah Adikku." Rado pun mencium wangi bayi yang sudah ada di pangkuan nya.
Deg
Bagai di sambar gledek disiang bolong Laras pun kaget. Matanya terbuka lebar mulutnya pun menganga, lalu melepaskan nafas dari mulut yang terbuka lebar tadi, sambil mengarahkan pandangannya kesamping kiri.
__ADS_1
" Mustahil, jangan mengarang cerita Kamu Tio?" Laras benar benar syok tingkat tinggi.
"Semua itu benar Laras, aku adalah ayah Rado." Kenan pun menekankan bahwa mereka memang anak dan ayah kandung.
"Rado? jadi namamu adalah Rado? sini!" Laras menarik paksa anak yang ada dipangkuan Rado.
"Sekarang juga kalian silahkan keluar, keluar!" Laras benar benar syok dan mengusir mereka.
"Laras, jangan begini? kamu baru lahiran, aku akan menjagamu." Ucap Kenan pada Laras.
"Tidak! kau pergi! aku yang akan menjaganya." Ucap Rado lagi geram.
"Rado, tidak bisa! aku adalah ayahnya." Tuan Kenan punya alibi kuat untuk tetap tinggal.
"Aku adalah kaka nya juga anaknya, aku tidak mungkin menyia-nyiakan nya, aku bukan seperti Papa yang tega mengkhianati kesetiaan ummi selama ini, sekarang Papa keluar, kalau Papa tidak bersedia, hari ini juga Rado akan menelpon ummi, biar semuanya jelas." Rado benar benar geram dengan ayahnya, bersusah payah selama 6 bulan memisahkan papanya dengan Laras, masa harus gagal.
"Rado! Aku ayahmu! jangan kurang ajar kau!" Tangan pa Kenan hampir melayang, namun Rado menantang, darah Rado seakan mendidih.
"Hentikaaaan!" Laras berteriak cukup keras.
"Baiklah! kalau kau tidak paham." ucap Rado lagi pada ayahnya.
Tring tring tring
("Assalamualaikum Mi.")
Rado benar benar menelpon umminya, Pa Kenan panik, dia pun menempelkan telunjuknya di bibir dengan mata agak menyipit.
("Nggak Mi, Rado belum bisa pulang, ini di rumah teman.")
ucapnya kemudian.
("Baiklah Nak")
Klik
"Baiklah aku akan pulang, tapi jaga Laras dan bayinya baik baik." Pa Kenan pun menciumi gadis mungil itu, sementara, Laras hanya diam melihat pertengkaran, anak dan ayah itu. Pa Kenan pun Pergi. Sepeninggalan Pa Kenan. Suasana tampak sepi.
"Laras, aku hanya ingin menyelamatkan pernikahan Papa dan Ummi, aku harap kamu bisa mengerti, setelah pulang nanti aku akan mencari baby sitter untuk menjaga kalian." Ucap Rado, Rado pun meninggalkan kamar Laras. mungkin dia ingin memberi waktu pada Laras untuk mengendalikan rasa terkejutnya..
Senyuman itu
Hanyalah menunda ...luka
Yang tak pernah ku duga
Inilah akhirnya
Kau harus dengannya...mengapa
Kau dekati aku
Kau membuat semuanya indah
__ADS_1
Seolah takkan terpisah
Aku t'lah tau kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tlah tau hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Tiba tiba lagu itu terdengar dari Hp Laras.karna tadi memang dia sedang mendengarkan lagu dari Tiara andini tak terasa air matanya pun mengalir sangat deras, dia pandangi gadis mungil yang kini di pangkunya,gadis yang tak berdosa itu tertidur di pelukan mamanya. tiba-tiba pintu terbuka.
Kreeek
Ternyata Rado yang datang membawa Roti dan cemilan lainnya, saat ini hari sudah mulai senja.
"Davian, kalau mau cemilan kaka letakin di dalam lemari ini ya." Davian mengangguk.
"Laras, kau mau sesuatu?" Laras terlihat lebih tenang dan tidak menangis lagi atau mungkin air matanya sudah kering.
"Mas, sejak kapan kau merencanakan semua ini?" Laras menatap tajam muka Rado.
"Sudahlah Laras, kita tak perlu lagi mengungkit itu, sekarang mari kita tatap masa depan, aku tak mau mengingat kenangan pahit yang hampir meruntuhkan langit di atas kepalaku." Ucap Rado.
"Tapi aku ingin penjelasan, mengapa semua ini kau lakukan? kau bahkan berjanji menikahi ku agar aku benar benar meninggalkan laki laki itu, oh bukan, tepatnya meninggalkan ayahmu." Laras terus saja mendesak Rado.
"Cukup Laraaas" Rado sebenarnya ingin sekali membentak Laras, namun dia menahannya, dia takut Laras mengalami Baby bluse syindrome. Itu sih kata ummi nya, semenjak Laras hamil Rado sering bertanya seputar kehamilan dan seputar melahirkan, kadang membuat ummi nya bingung dan heran.
"Baiklah, berarti kau tidak mungkin menikahi ku kan?" Tanya Laras lagi.
"Sebenarnya saat aku di ujung frustasi karena pertengkaran dengan Nahla wanita yang di jodohkan ummi untukku, aku benar benar akan menikahi mu, namun ketika aku bertanya pada ummi, ternyata mantan ibu tiri dilarang menikah dengan anak tiri, walau sudah berpisah sekali pun!" Ucap Rado.
"Ibu tiri? aneh, aku ini masih muda dan seusia denganmu! kenapa kau kejam sekali menyebutku Ibu tiri" Laras berpaling seperti merajuk manja.
"Tapi benarkan, kamu menikah dengan Papaku, ya otomatis kau adalah ibu tiri ku kan?"
Rado terlihat mengulum senyum.
"Aku masih tidak percaya semua ini."Laras meletakan bayi mungil nya di sampingnya duduk, Dia pun mengambil roti yang baru dibeli Rado.
"Saat itu aku sangat syok, aku melihat kalian di air panas tanuhi." Akhirnya Rado bercerita sambil memandangi wajah Laras.
"Jadi sudah 5 bulan, oh bukan 6 atau 7 bulan silam?" Tanya Laras.
"Ya! sebenarnya hubungan kalian sejak kapan?" kini Rado balik bertanya.
"Mungkin sudah 10 atau 11 bulan lalu." Ucap Laras datar.
Siang pun berganti malam dan Rado tetap setia menemani mama tiri muda itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1