Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)

Menikahi Selingkuhan Papah(Rencananya)
Pertengkaran


__ADS_3

"Mas, semakin ke sana, perasaanku semakin tak tenang, kadang aku merasa kasian pada istri mas." Laras terlihat merebahkan diri di pergelangan Pa Kenan.


"Apa maksudmu? apa kau sudah memiliki laki-laki lain?" Pa Kenan menatap Laras tajam.


"Bukan begitu! aku merasa banyak dosa, bagaimana kalau istri Mas tau?" Ah alasan Laras aja deeeh. Dia kan sudah ada si oppa ganteng😁.


"Kalau begitu! jangan sampai ketahuan, bereskan? kita cukup bertemu di kasur aja, dan lagian kita juga sudah nikah, walau hanya diam-diam sih, tapi sudah halal kan?" Pa Kenan kembali mencumbu Laras yang masih tidak mengenakan pakaian sehelai benang pun.


"Tapi bagaimana kalau tiba tiba tercyduk." Laras pun berpaling dari pa kenan.


"Bagaimana tercyduk? kalau kita tidak kemana-mana" Pa Lenan sedikit menaikan suaranya.


"Aku merasa tertekan, setiap saat, terus di hantui rasa takut, aku juga pengen kaya orang mas, punya keluarga, rumah, anak anak yang lucu dan..."


"Cukup!" Belum sempat Laras menyelesaikan ucapannya, Pa Kenan memotong dan membentaknya.


"Laras! entah sudah yang ke berapa kali kau meminta berpisah, aku lagi pusing Laras! tolong mengertilah! bukankah kau tau? aku sudah diperas, aku sudah kehilangan banyak uang, aku pun berhutang pada rekan bisnis untuk mendapatkan uang 1M itu!" Kenan terlihat kesal dan membentak bentak.


"Aku juga tertekan, aku juga tidak ingin seperti ini terus! kalau Mas benar-benar mencintaiku, bisakah Mas ceraikan istri Mas itu,si itu tu, si ummi? apa Mas bisa?" Laras mulai terisak, mungkin dia ingin jadi wanita satu satunya.


"Laras hentikan! apa maksudmu?" Kenan pun berdiri dan menuju kamar mandi


Byur byur.


Terdengar suara air menyembur-nyembur. Kayaknya Pa Kenan sedang mandi wajib guys☺hening. Dia sudah selesai mandi, dan berganti baju.


"Mas mau kemana? beri aku jawaban, agar aku tidak di gantung Mas!" Laras pun berdiri, mendekati Kenan.


" Jawaban apa lagi sih? sudah jelas! kita tidak akan pisah, titik! aku mau kekantor." Karena Pa Kenan olahraganya saat istirahat siang ni ya. Kan kalau malam takut ketahuan.


"Mas...tunggu! selesaikan dulu pembicaraan kita!" Laras menyusul hanya sampai muka pintu saja, lagian Laras nggak pakai baju, mana mungkin dia berani keluar.


Pa Kenan tidak memperdulikan Laras yang berteriak memanggilnya.


🌹🌹🌹


"Papa dari mana? ko keramas siang-siang?" Rado sengaja bertanya demikian, dia tau pasti, bahwa papanya baru saja berolahraga ckckck.


"Nggak keramas, cuma membasahi sebagian kepala aja, gerah." jawab papanya santai.


Klok.


Terdengar pesan masuk di HP pa kenan.


("Kau tertangkap lagi, lihat foto ini, bagaimana bisa keluar dari pintu wanita yang tidak mengenakan baju?


aku cukup minta, 500 juta untuk ini!

__ADS_1


di rekening yang sama.")


"Sial" Gerutu Kenan, Rado yang melihat hanya tersenyum simpul.


"Ada apa pa? ko terlihat kesal?" Rado pura pura bego nih.


"Ah tidak apa apa, cuma ada sedikit masalah."


🌹Flashback🌹


"Zidan tolong bantu aku lagi ya? hari ini tolong ikuti papa, kamu bisa menyamar, berpakaian seperti apa aja deh, agar papa tidak curiga!"


"Baiklah, siap!" Zidan memang sahabat top markutop.


Zidan pun mengikuti pa kenan sampai ke hotel dan menyewa kamar yang ada disebelahnya. Tentunya pakai uang Rado dong. Saat adegan di muka kamar itu, saat Laras hanya memakai sprei yang dililitkan di badannya, kebetulan Zidan ada di ujung lorong.


🌹Flashback end🌹


"Pa, aku pengen beli villa buat mahar untuk Nahla, aku juga pengen secepatnya menyunting Nahla, agar tidak di embet orang Pa." Rado berharap papanya mau mengeluarkan uang banyak kali ini.


"Untuk apa beli villa Do? rumah kita cukup besar untung menampung kalian berdua!" menambah pikiran papa aja ni si Rado.


"Emang kenapa pa? Rado juga sudah bicarain ini dengan ummi, ummi setuju setuju aja tu pa." Rado beranjak berdiri hendak meninggalkan perusahaan.


"Iya deh, nanti papa pikirkan." Pa Kenan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang pribadinya itu.


🌹🌹🌹


("Sayang,kamu dimana?")


("Di rumah lah, mau kemana lagi gadis kayak aku ini, aku kan anak rumahan.")


("Tunggu ya! jangan kemana-mana")


Klik.


🌹


"Nahla! cepetan! tuh cowok kamu sudah nungguan!" Ummi Ririn mendekati putrinya yang masih gosok gigi.


"Lho sudah datang? perasaan tadi baru nelpon?" Nahla pun menyudahi aktifitasnya.


"Ah, namnya juga lagi jatuh cinta tuh, bisa instan semua, ayo cepat cepat, nanti keburu di embet tetangga, kalau saja ummi belum menikah, udah ummi deh yang pergi sama Rado." ckckckck, emang mau ya rado ama ummi.


"Ah, ummi lebay deh, mana mau Rado ama ummi hehe." Nahla pun berlari keluar memakai syar i yang dibelikan Rado waktu itu.


"Eh jangan lupa bawa adikmu, jangan pergi berduaan!" ummi pun tak mau ad syaiton tuh di antara mereka.

__ADS_1


"Ya Mi, Adik sudah di mobil tuh." Nahla pun duduk di depan.


"Assalamualaikum Mi." Rado pun pamit, bawa anak gadis orang soalnya, kalau nggak pamit kirain penculikan. hehe.


"Waalaikumussalam." Ummi melambai, sampai anak gadisnya tak terlihat lagi.


Di perjalanan.


"Emang kita mau kemana Mas?" Nahla memandang wajah ganteng Rado, aaaah, meleleh deh rasanya.


"Sabar sayang! bentar lagi kita sampai." Rado mengelus pundak Nahla yang tertutup kerudung panjang.


"Kakak, emang kapan kakak menikah?kelamaan, aku kan pengen punya adik bayi." ih usil banget deh si adik aisa.


Adik Aisa ini baru kelas 3 iftidaiyah lho. tapi karwna cewek suka ceplas-ceplos deh.


Tilolet tilolet.


Tiba-tiba telepon Rado berbunyi.


Astaga, dari Laras. Batin rado


"Lho, Mas, kok di mati in sih." Nahla melirik Rado penasaran.


"Udah, nggak papa, pekerjaan aja, aku lagi nggak mood menerima telpon klien." Rado berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Kita sudah sampai, ayo turun!" Rado pun membukakan pintu Nahla.


"Kok kesini? tanah kosong begini mau ngapain?" Nahla terlihat bingung.


"Mau pacaran." Rado melirik Nahla dan tersenyum licik.


"Dasar!" Nahla mendorong Rado yang hampir saja menggandeng Nahla.


"Kakak, ku bilangin 7mmi ni kalau nakal sama ka Nahla!" ih ni anak juga, nggak mendukung banget sama kaka ipar.


"Bilangin aja, biar sekalian kamu ku tinggal disini."ancam Rado. Terlihat serius agar ank itu takut beneran, padahal sih cuma bo'ongan


"Hehe, enggak kok." Aisa pun cengengesan, ngegemesin.


"Ini kavlingan aku, noh sampai ujung sana, luas 50 meter panjang 100 meter, aku mau membangun rumah mungil disini buat mahar aku ke kamu!" Rado menatap wajah cantik Nahla, dia pengen tau apa reaksi calon istrinya itu.


"Yang bene!? apa aku pantas mendapatkannya? kami tak menuntut apa-apa, asal kamu nggak pernah nyakitin aku nanti!" Nahla pun menatap mata Rado intens. mereka beradu pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Yeee, kakak!" Tiba-tiba Aisa datang dan mendorong tubuh Nahla hingga hampir terjatuh, untung tangan kekar Rado cekatan langsung memeluk tubuh Nahla yang mungil itu, jadi deh Nahla dan Rado mepet tanpa jarak.


"Eh, ais, awas ya!" Nahla pun mencubit adiknya, tentu saja cubitan bo'ongan hehe. Lagian dia juga suka.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2