
Ummi, Nahla dan Rado pun akhirnya pergi ke Mall untuk belanja keperluan Qia. Qia pun ikut di kereta dorong, dia sangat pintar dan lucu. Setiap di bawa jalan dia slalu saja tertidur pulas.
"Kita mampir ke satu Toko aja ya mi, takut banyak polusi, kasian Qia." ucap Nahla.
"Baik lah nak! ayo!" Mereka pun turun dari mobil, Rado menggendong Qia sementara Nahla mendorong kereta, kalau kalau nanti Qia, mau bobo.
"Di sana aja mi! kelihatan lebih banyak." Ucap Nahla pada mertuanya. Mereka pun memilih milih yang menurut Nahla cocok.
"Qia ngantuk?" Rado tampak berbincang dengan gadis mungil bermata bulat berhidung mancung tersebut. Dia pun meletakkan gadis mungil yang terlihat terkantuk kantuk tersebut.
setelah beberapa saat Rado dan Nahla juga ummi berniat pergi dari toko itu.
"Sayang! Qia mana?!" Nahla celingukan menatap Rado dan Ummi 'nya bergantian. Berharap mereka sedang menggendong gadis mungil itu, namun kosong. Tak ada yang sedang menggendong.
"Ya Allah, mana anakku? anakku? tolong!" Nahla histeris.
"Mana Qia?" Ummi pun panik.
"Tadi aku taruh disini!" Rado pun panik dan mulai gelisah.
Orang-orang yang menyaksikan pun ikut berkerumun.
"Tolong bayiku! tolong, mana dia?" Nahla berlari ke sana kemari seperti orang hilang ingatan.
Datanglah security dan membawa mereka ke pos.Kita lihat CCTV dulu pa bu!" security mall itu langsung dengan sigap membuka area F.
"Lihat! ada dua orang di sana yang mondar mandir! laki laki dan perempuan?" ucap security itu.
Deg
Berarti mereka di intai dari awal masuk sini.
Nahla langsung menangis histeris
"Hik....hik....hik....Tidaaaaak, aku tidak mau kehilangan Qia. Aku sangat menyayanginya. ummi....hik hik hik"
" Nahla, sabar nak..."Ummi pun menangis tapi tidak terlalu histeris. Nahla meraung, benar benar labil nih si Nahla.
"Pipip, ini salahmu, kenapa mesti di letakin di kereta, trus main di tinggal hik...hik....hik....aku nggak mau lagi ngomong sama pipip"
Bruk
Kereta dorong itu di dorong Nahla dan dia pun pergi entah mau kemana.
"Sayang! Aku minta maaf, aku akan cari sampai dapat, kamu jangan khawatir, tunggu! aku akan mengambil mobil dulu." Nahla tak menghiraukannya, dia pergi kejalan dan mencegat taxi. Nahla pin kabur.
Rado pun bergegas, mengambil Mobilnya
"Ummi ayo masuk!" Akhirnya mereka pun pulang, belanjaan yang sudah dibayar pun mereka lempar begitu saja di toko tadi.
Sesampainya di rumah, mereka tak menemukan Nahla.
"Papah...ayo segera perintahkan kenalan mu untuk mencari Qia!" Ummi segera ke kamar dan memerintahkan Pa Kenan mencari Qia sampai dapat.
__ADS_1
"Ada apa Mi? kenapa dengan Qia?!"
"Qia hilang pah."
Deg
Kenan terbelalak, mulutnya tak mampu berkata untuk beberapa saat.
"A-apa? apa maksud mu Mi?"
"Qia diculik Pah!"
"Tidak mungkin tidak boleh, di mana hilangnya? mana Rado?" Kenan terlihat sangat marah.
Tap
Tap
Tap
Kenan pun naik ke tangga atas dan memanggil manggil Rado
Bruk...
Kenan mendorong pintu Rado kasar.
"Rado, apa yang kau lakukan? sampai Qia lepas dari awasan mu heh." Kenan mencengkram kerah Rado.
"Kamu harus mendapatkannya kembali, Dia anakku, darah daging ku Do!" Kenan begitu marah, dan masih mencengkram kerah baju Rado.
Sementara di depan pintu, Ummi yang ingin masuk terhenti saat mendengar perkataan Kenan. Tak berapa lama, matanya terasa berkunang kunang.
Bruk....
"Apa itu?" Rado pun menepis tangan papahnya dan berlari keluar.
"Ummi...Bangun mi...Ummi." Rado mengguncang guncang tubuh Ummi nya, namun tak sadar sadar.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit!" ucap Kenan tiba tiba datang.
"Jangan sentuh! Jangan! Aku saja!" Rado berteriak sangat nyaring hingga Bibi yang di bawah pun terkejut dan buru-buru berlari ke atas.
"Ada apa tuan?....Nyonya...ada apa dengan Nyonya?"
"Bi...Tolong siapkan baju ummi aku akan membawanya ke rumah sakit." Rado pun membopong tubuh Ummi nya menuruni tangga. Setelah memasukan umminya di kursi belakang, dia pun mengambil baju umminya.
"Do aku akan ikut!" Kenan memaksa ikut.
"Tidak!...Bibi ayo ikut! Rado pun berlari ke mobil begitu juga bibi.
Rado menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bibi yang jarang naik mobil pun mual mual. Sesampainya di rumah sakit Rado pun memanggil perawat, dan ummi dibawa ke UGD.
"Apa yang terjadi Tuan? mengapa Nyonya pingsan?" Bibi terlihat khawatir.
__ADS_1
"Kisahnya sangat panjang Bi, ketika tadi kami tidak menyadarinya, ketika Ummi mendengar semua, bahwa Qia...dia....dia adalah anak Papah dengan wanita lain!" Rado tertunduk menyesal.
"Apa? jadi...jadi Qia, itu anak Pa Kenan?astagfirullah, kurang apa nyonya sama Tuan besar hingga tuan besar tega berselingkuh!" Bibi pun tampak sangat sedih.
Tring Tring Tring
"Nahla, ini Rado, angkatlah! siapa tau penting"Ummi Ririn mengambil Hp Nahla dan menyodorkannya pada Nahla
"Ummi aja yang angkat, aku,males." Nahla tampak masih menyisakan isak tangis, karena merasa sangat kehilangan .
{Hello nak!Ada apa}?
{Mi, Ummi pingsan! Apa Nahla di rumah?}
{Astagfirullah, iya, Nahla sudah di rumah. Sekarang di mana Nana?}
{Kami bawa ke rumah sakit, Mi.Tanpa sengaja tadi ummi sudah mengetahui semua rahasia kita, bahwa Qia adalah anak papah}
Rado pun menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Baiklah, aku akan segera kesana!"
"Nahla, ayo ikut! kita ke rumah sakit, mertuamu pingsan."
"Males mi, nanti dia bisa bangun sendiri, aku males ketemu Rado mi."
"Ini semua gara gara kalian juga kan? coba kalau Qia tidak dibawa ke sana! Nana tak akan pernah tau kalau Qia anak Kenan!" bentak umminya emosi.
"Apa Mi? ummi Nana tau? kenapa tau?"
"Mana aku tau! makanya ayo kita ke sana."
Nahla pun akhirnya mau pergi menemui mertuanya yang pingsan. sepanjang jalan banyak pertanyaan dan jawaban apa yang harus dia ucapkan pada mertuanya itu. Apalagi mereka bersekongkol menyembunyikan jati diri Qia.
"Ish..." Nahla tampak stres dan menggaruk kepalanya yang terbalut kerudung kasar.
"Nahla, ada apa?" Ummi Ririn pun jadi bingung.
"Bagaimana aku menjawabnya mi, bagaimana kalau Ummi tanya sejak kapan kami mengetahui ini, ah aku frustasi mi!" Nahla pun memegang kepalanya.
"Sabar dulu, nanti kamu harus bicara dulu sama Rado dan Kenan."
Mereka pun sampai di Rumah sakit, bergegas mereka menuju ruangan Nana. Karena mereka sudah dapat kamar Vip.
Saat masuk Nahla terbelalak, karena ummi Nana telah bangun dari pingsannya.
"Nahla...tolong jujur nak!" mata ummi Nana terlihat basah karena menangis. Nahla pun bingung mau berkata apa.
"Nana, baiknya istirahat dulu, nanti kalau sudah tenang baru kita cari tau kebenarannya."
Ummi Ririn pun membantu mengalihkan perhatian mertua Nahla itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1