
"Pipip, ada grabe tu didepan!" Nahla memberitahu Rado yang sedang duduk di tangga sambil main HP.
"Oh,bentar....,ayo! Ummi mungkin masih tidur" Rado menggandeng bagu Nahla.
"Kita pakai grabe? kenapa nggak makai mobil papa saja?" Tanya Nahla sambil menatap Rado.
"Aku lagi males nyetir, pengen fokus natap wajah cantikmu." Rado merayu Nahla.Nahla pun terlihat tersenyum.
"Gombal." Nahla pun melepaskan rangkulan Rado dari pundaknya. Rado membukakan pintu untuk calon istri tercintanya.
#
"Ya disini pa! " Rado dan Nahla pun turun dari mobil.
"Lho, emang perusahaan mu itu show room ya?setahuku kan konveksi pakaian anak?" tanya Nahla aneh dan bingung, menyadari mereka berhenti di show room.
"Masuk aja dulu." Ucap Rado dan memegang tangan Nahla mesra.
"Mari tuan, Nona, mau cari yang type apa, silahkan."
Terlihat karyawan show room ini sangat ramah dan juga cantik.
"Pipip mau beli mobil lagi? bukankah di rumah sudah ada 2 mobil? mubazir klo nggak dipakai, masa dijadikan pajangan aja?" Nahla terlihat penasaran, benarkah Rado mau beli mobil baru?
"Siapa bilang buat pajangan di rumah ku,ini nih buat istriku,biar kulitnya nggak gosong, kalau aku lagi pengen ketemu." Rado berbisik ditelinga Nahla saat mengucap gosong. hihi.
" Lebay deh, aku kan nggak bisa nyetir?" Namun begitu Nahla terlihat menyunggingkan senyum termanis untuk Rado.
"Belajar dong! masa, istri pengusaha muda nggak bisa nyetir mobil, malu maluin aja." Sahut Rado santai.
"Mbak, aku mau lihat toyota vios mbak! warna hitam ya! " Rado pun berjalan mengelilingi mobil mobil yang berjejer.Rado sudah punya pilihan, rupanya tadi di rumah setelah Nahla bilang kulitnya gosong,dia langsung cari cari merek mobil yang pas buat Nahla si mungil.
"Ini tuan." Karyawan itu menyerahkan katalog toyota dan membukakan halaman yang ada toyota vios. Setelah di jelaskan panjang lebar akhirnya itulah yang tepat buat pujaan hatinya.
"Ada diskon nggak?" Rado bertanya pada karyawan tersebut.
"Sudah habis tuan, biasanya diskon hanya di akhir tahun." Ucapnya lagi.
" Oke, aku ini deh mas, sudah paa, gimana nahla, kamu suka?" Rado memandangi wajah cantik nahla yang terlihat bingung dan tak percaya.
"Pip, beneran pengen beli in aku mobil?lagian aku cuma becanda kok, masalah gosong tadi." muka Nahla sedikit memalas.
"Masa aku bercanda sih sayang, ini supaya kamu ummi Ririn dan juga aisa nggak kepanasan lagi kalau pengen kemana-mana." rado pun menarik tangan Nahla menuju kasir.
"Aku rasa mimpi deh." Nahla pun mencubit tangan rado.
"Hei, kenapa tanganku yang dicubit?" Rado memelototi Nahla sambil mengelus punggung tangannya yang dicubit Nahla.
"Jehe, maaf." Nahla pun menyatukan tangannya di dadanya tanda dia minta maaf.
"heeeeh,gemes" Rado pun mencubit hidung Nahla greget.
"Tapi aku nggak berani nyetir Pip?" Nahla pun masih saja protes, dikasih juga masa ogah.
"Berapa mbak?" Sampai kasir Rado pun melakukan pembayaran.
__ADS_1
"319.000.000 tuan"
"What? Pip, yang lain aja, nggak usah itu." Tapi Rado pun menggesekkan kartunya dan membayar lunas.
"Pip, bener itu harganya?" Nahla masih tak percaya.
"Nggak, itu cuma uang bo ongan, ya iyalah sayang, buat kamu kenapa nggak?" Rado pun menggandeng tangan Nahla keluar. Nahla pun tak menolak. Makin jinak aja nih si Nahla. Kalau ketahuan ummi pasti dimarahin hehe.
###
"Selamat pagi tuan, nyonya." Para karyawan pabrik pun menunduk saat Rado dan Nahla melewati mereka. Banyak yang iri nih melihat Oppa pegangan tangan.
"Pip, lepasin dong, malu." Nahla mencoba melerai tangannya dari Rado, namun Rado makin kuat mencengkram sehingga terasa sakit, kalau Nahla coba melerainya.
"Kenalin, ini sekretaris ku, Nona Bela." Nahla pun menjabat tangan.
Kreeeek
mereka pun masuk keruangan
"Pip, sekretaris Pipip, kok cantik banget?" Nahla terlihat sedikit cemburu dengan kecantikan bela,apalagi rok mininya yang setinggi lutut.
"Kamu cemburu? nggak livel sayang." Rado pun duduk di samping Nahla di sofa panjang ruangan pribadinya.
"Eh jangan dekat dekat." Nahla mengusir Rado yang duduk mepet ke arahnya.
"Udah dapet mobil, masa mau duduk dekat aja dilarang." Rado terlihat sedikit kesel.
"Eh, berarti pip kasih mobil nggak ikhlas dong,ada maunya?" Nahla memandang ke arah Rado dengan tatapan menyelidik.
"Nggak juga sayang,udahlah, aku slalu kalah kalau berdebat denganmu, aku mau tidur." Tiba tiba Rado merebahkan kepalanya di pangkuan Nahla.
"Nahla...!" Rado sedikit memekik karena terkejut, saat Nahla berdiri.
"Aku mau pulang, mau ngelus-ngelus mobil baru...." Canda Nahla sambil berjalan menuju pintu.
"Tunggu!" Rado segera bangkit dan menyentuh handel pintu. Nahla yang sudah berada di balik pintu terkejut.
"Ngapain?" Nahla panik.
"Ayo!" Rado merenggangkan lengannya,supaya Nahla berpegangan bak raja dan ratu. Ckckck.
"Ogah." Nahla menolak keras.
"Aku nggak mau bukain pintu, sebelum kamu nuruti perintahku." Rado memaksa.
Tilolet tilolet.
Telpon Rado berdering.
Laras?
Rado jadi bingung harus bagaimana?kalau dia merijek, pasti Nahla curiga.
"Sebentar, aku balas WA dulu." Akhirnya itu yang keluar dari mulut Rado. Tak membuang kesempatan, Nahla pun kabur, karena pintu sudah tak dijaga Rado.
__ADS_1
###
Rado sudah sampai di rumah Laras. Laras terlihat pucat.
"Laras, maaf, akhir akhir ini aku sangat sibuk." Rado duduk di kursi teras rumah baru Laras.
"Mas, aku mau jujur sesuatu,apa pun keputusanmu, itu hak mu mas." Laras pun menghela nafas dalam..
"Mas, aku hamil." Laras terdiam dan memandang Rado, menunggu hukuman yang akan diberikan padanya, walau akan ditinggalkan dia pasrah.
Rado terdiam dan menatap Laras tajam, dia berpura pura belum tau bahwa laras mempunyai laki-laki lain.
"Anak siapa?" Tiba-tiba Rado terlihat bersikap dingin.di dalam hatinya dia sangat kaget, bukan ini harapannya.
"Ceritanya sangat panjang mas." Laras pun mulai bercerita, bagaimana awalnya dia terpikat oleh lelaki yang seharusnya layak menjadi ayahnya tersebut.
"Memang dulu beliau hanya memberi santunan uang pada kami, waktu itu dia hampir menyerempet kami, saat aku mengantar davian sekolah, sejak itulah beliau sering menemui kami, beliau simpatik dengan kami, kami pun jadi sering bertemu, dan akhirnya menumbuhkan....." Belum sempat laras meneruskan, Rado pun memotong pembicaraannya.
"Stop." Hatinya sangat hancur, bagaimana mungkin ayahnya begitu lemah imannya. Dia pun berjalan menaiki kendaraannya dan pergi begitu saja. Laras mengerti, bahwa dengan sikap Tio alis Rado berarti hubungannya sudah berakhir.
Bremmm
Tiba-tiba Rado datang dan turun dari motornya lagi. Laras pun sontak langsung berdiri.
"Ada apa?"
Bruk
Rado memeluk erat Laras, air matanya mengalir di sudut matanya.
Laras, maafkan papa bisik hatinya.
dia menangis bukan karena kasihan, tapi dia kasian sama umminya.dia hanya berpura pura menguatkan Laras. Agar kelak dia bisa menjatuhkan wanita itu ke dasar perut bumi terdalam.
"Mas." panggil Laras lagi.
"Laras, aku mau kamu berjanji satu hal." Rado menatap Laras tajam, dia ingin memastikan kalau Laras tidak lagi mencari papanya.
"Apa?" Laras pun penasaran.
"Maukah kau meninggalkan orang itu demi aku?" Rado terlihat serius, walau sebenarnya dia belum tau bagaimana nanti, soalnya dia adalah anak tiri disni. Anak tiri diharamkan menikahi ibu tirinya, walau mereka sudah bercerai, itu kata ummi nya.
"Aku janji, tapi apakah kau juga bisa ku percaya? nanti setelah anak ini lahir, kau akan menikahi ku?" ada harapan di mata Laras yang polos. Harapan untuk bahagia, seperti impiannya dulu bersama pa kenan.
"insyaa Allah." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rado, itu yang di ajarkan ummi kalau berjanji.
"Aku pulang, jaga diri, uang akan aku transfer secepat nya, kamu tidak usah bekerja untuk saat ini, mungkin karena hamil muda, kamu akan sering merasa lelah." Rado memberi nasehat, itu sih yang pernah dia dengar dari ummi.
Laras hanya mengangguk. Dia pun memandang Tio yang menjauh, sampai Tio hilang dari pandangannya.
("Mas, maaf, aku sudah tidak bisa lagi menunggu, tolong ceraikan aku!")
Pesan singkat masuk ke HP Pa Kenan. Pa Kenan yang sedang istirahat terkejut melihat pesan itu.
"Papa mau kemana? bukankah papa masih sakit?" Ummi khawatir dengan kondisi papa yang tiba tiba mengambil kunci mobil dan menuju pintu luar.
__ADS_1
"Papa harus keluar sebentar mi,ada keperluan mendadak".
Bersambung