
Setelah selesai sarapan, seperti yang telah di katakan Adit, Qila kembali melakukan tugasnya mengantarkan Adit ke depan ketika hendak berangkat kerja.
" Hati - hati di jalan ya kak " kata Qila saat mereka sudah berada di depan rumah.
" Iya kamu juga ya, ah ya jangan lupa antarkan makan siang ku nanti ke kantor, nih... " sahut Adit sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Qila.
" Apa nih maksudnya, Salim... enak saja ga mau, emang aku istri ka Adit pakai Salim segala, perasaan pelayan yang lain nggak deh " bantah Qila.
" Hitung - hitung belajar La, jadi saat kamu kembali ke suami kamu, kamu sudah biasa melakukan semua ini ketika suami mu kerja nanti. Ingat aku bos nya Lo disini kamu ngerti kan " kata Adit yang masih menyodorkan tangannya pada Qila.
" Huuh... Iya - iya, hitung - hitung belajar, besar nih gajih ku bekerja di sini, habisnya bos berasa suami saja " sahut Qila sambil Salim dan mencium punggung tangan Adit.
" Nah gitu dong, masalah gajih kamu tenang saja La, berapapun kamu minta, aku pasti akan membayarnya, asal kamu betah bekerja dengan ku. Ya sudah aku berangkat dulu ya, assalamualaikum. " kata Adit sekaligus berpamitan pada Qila.
" Asyiiik kalau gitu mah, cocok itu, walaikum salam tuan bos berasa suami. " sahut Qila dengan senyum manisnya mengantarkan Adit ke mobilnya.
__ADS_1
Adit pun tersenyum gemas mendengar ucapan Qila yang sangat lucu baginya, dan menjadi penyemangat tersendiri untuk Adit, lalu Adit pun menjalankan mobilnya menuju ke perusahaannya.
Sedangkan Qila, setelah melihat Adit sudah pergi ia pun langsung masuk ke dalam rumah untuk melakukan tugasnya berikutnya.
Sesampainya Qila di ruang tamu, bertapa terkejutnya Qila...
" Hey pembantu baru, enak banget ya baru bekerja langsung di perhatikan oleh tuan, pakai pelet nih pasti. " kata Ningsih yang berdiri di ruang tamu itu sambil berkacak pinggang.
" Terserah... " sahut Qila yang tidak memperdulikan pelayanan yang satu itu, dan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur untuk memasak makan siang.
" Ke dapur, masak " sahut Qila dengan malasnya karena sudah tahu kalau pelayan satu ini terlihat tidak suka padanya.
" Hey saya peringatkan kamu ya, kamu itu baru di sini sadar diri dong, jangan cari perhatian sama tuan, asal kamu tahu tuan muda Adit itu adalah milikku seorang, mengerti... " kata Ningsih dengan gaya sombongnya.
" Iya, husshh sana, ganggu aja. " kata Qila dengan cueknya malas meladeni pelayan ini.
__ADS_1
" Ingat saya peringatkan sekali lagi, jauhi tuan Adit kalau tidak, awas kamu siap - siap angkat kaki dari rumah ini, dasar perempuan tidak jelas. " kata Ningsih lagi dengan sinisnya, lalu pergi meninggalkan Qila yang berada di dapur.
" Huuh... sabar, demi bertahan hidup, sabar... " gumam Qila pelan sambil meneruskan pekerjaannya.
" Jangan di ambil hati neng, Ningsih memang begitu orangnya, biarkan saja selama masih dalam batas wajar, kalau sudah lebih dari itu baru di kasih pelajaran. " kata bi Ijah yang membantu Qila memasak, perintah langsung dari Adit tanpa sepengetahuan Qila.
" Iya Bi, terimakasih bi sudah membantu Qila masak. " sahut Qila sambil tersenyum pada bi Ijah.
" Sama - sama, nah sudah selesai masakannya, sebaiknya neng istirahat saja, nanti kalau sudah mendekati waktu makan siang, baru neng ke kantor membawa makanannya. " kata Bu Ijah lagi.
" Iya tapi bi, apa yang bisa Qila bantu lagi, Qila kan juga bekerja di rumah ini, masa sudah istirahat duluan, apa kata yang lain nanti. " sahut Qila sambil membantu membereskan bekas memasaknya.
" Iya neng, disini semua pekerja sudah memiliki tugas masing-masing, dan tugas neng hanya mengurus tuan, dan selebihnya biar yang lain yang mengerjakannya. " kata Bu Ijah lagi.
" Baiklah kalau begitu bi, Qila ke kamar dulu ya mau bersih - bersih. " kata Qila yang langsung di anggukan oleh bi Ijah.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Qila pun meninggalkan dapur lalu menuju ke kamarnya, tapi sebelum melangkah menaiki tangga ia kembali melihat Ningsih yang tiba-tiba berada di hadapannya.