Menjadi Istri Dadakan

Menjadi Istri Dadakan
Episode 38


__ADS_3

Lain halnya kebahagiaan yang dirasakan oleh Adit dan Qila, sekarang nasib Nilam bertambah mengenaskan karena setelah kematian Nilam, jasad Nilam langsung di bawa ke jalan raya, dan anak buah Adit mengurusnya seperti habis kecelakaan.


Sehingga keluarga Aqila termasuk Qila sendiri begitu sangat terkejut mendengar kakak sepupunya itu meninggal karena kecelakaan.


Tidak terasa tiga bulan sudah setengah pernikahan dadakan Aqila dan Adit, bermacam - macam yang sudah mereka hadapi, sekarang pagi ini mereka berdua sedang sarapan bersama sambil bercerita dan bercanda bersama.


" Sayang, hari ini aku akan keluar kota untuk beberapa hari, kamu mau ikut, atau di rumah saja ?" tanya Adit di sela sarapannya.


" Mmm... Qila ikut ka Adit ya, Qila mau jalan - jalan sekalian dan Qila juga mau... Hmm, hmm, hmm... " kata Qila terpotong saat tiba-tiba merasakan mual-mual dan langsung berlari ke wastafel memuntahkan semua isi perutnya.


Adit begitu terkejut melihat istrinya yang seperti itu, ia langsung menghampiri Qila dan lebih terkejut lagi saat melihat Qila yang sudah terduduk lemas di lantai karena muntah dan mengeluarkan semua isi perutnya.


" Sayang kamu kenapa, kamu baik - baik saja ?" tanya Adit yang begitu khawatir melihat keadaan istrinya itu.


Qila tidak mampu menjawab karena begitu sangat lemas, dan seketika Qila langsung tak sadarkan diri.


" Sayang, Qila kamu kenapa bangun Qila bangun. Pelayan... Siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang. " teriak Adit yang sangat khawatir melihat Qila yang tiba-tiba tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dengan gerak cepat Adit langsung menggendong Qila ala bridal style menuju ke mobil yang sudah di siapkan.


Tanpa menunggu apa - apa lagi mereka langsung berangkat menuju rumah sakit.


" Sayang kamu kenapa, kenapa bisa sampai seperti ini. " kata Adit saking cemasnya melihat sang istri pingsan.


" Sabar tuan, sebaiknya tuan hubungi keluarga, karena mungkin sebentar lagi ada kabar mengejutkan. " kata Bi Ijah yang juga ikut mengantarkan Qila ke rumah sakit saat dalam perjalanan.


" Apa maksudmu bi Ijah, memangnya apa yang sudah terjadi pada Qila, Ya tuhan semoga istri hamba tidak kenapa - kenapa " kata Adit yang begitu sangat takut Sekarang, takut terjadi apa-apa pada Aqila.


Tanpa lama - lama lagi Adit langsung menghubungi orang tuanya dan juga orang tua Qila, untuk mengabarkan kalau mereka sedang menuju rumah sakit, karena Qila tiba - tiba tak sadarkan diri.


Tidak menunggu lama akhirnya mereka tiba di rumah sakit, dokter dan para perawat lainnya sudah menunggu kedatangan mereka, karena Adit sudah menghubungi mereka terlebih dahulu saat di perjalanan tadi.


Dengan gerak cepat dokter dan para perawat langsung bertindak memeriksa Qila di dalam ruangan UGD, sedangkan Adit dan bi Ijah sedang menunggu di depan ruangan karena tidak di perbolehkan masuk kedalamnya.


Adit mondar-mandir di depan ruangan itu karena saking cemas dan khawatir nya terhadap Aqila, sedangkan bi ijah terlihat santai saja duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


Pemeriksaan dokter hanya sebentar, tidak lama menunggu dokter yang merawat Qila sudah selesai dan keluar dari ruangan itu.


" Bagaimana keadaan istri saya dokter, apa yang sudah terjadi padanya ?" tanya Adit dengan cemasnya langsung bertanya saat dokter keluar ruangan itu.


" Anda tidak perlu khawatir tuan, semuanya baik - baik saja. " jawab dokter itu sambil tersenyum dan menepuk pundak Adit untuk menenangkannya.


" Maksud dokter apa, memangnya apa yang sudah terjadi ?" tanya Adit lagi yang masih dengan khawatirnya.


" Selamat istri anda saat ini sedang mengandung lima Minggu, dan kondisi seperti ini sudah biasa di alami oleh wanita yang sedang hamil muda, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya perlu menjaga agar kondisinya tetap sehat dan tidak boleh sampai kelelahan karena bisa berpengaruh pada janinnya. " kata dokter itu menjelaskan.


" Apa, maksud dokter istri saya hamil, istri saya mengandung...?" tanya Adit lagi yang begitu sangat terkejut tapi juga sangat bahagia setelah mendengarnya.


" Benar, sekali lagi selamat tuan Stevano, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah " kata dokter itu lagi sambil tersenyum mengabarkan kabar baik itu.


" Terimakasih banyak dokter, terimakasih " kata Adit yang begitu sangat bahagianya sekarang.


Begitu juga dengan bi Ijah yang sangat bahagia mendengar kabar majikannya itu.

__ADS_1


__ADS_2