
Sampai suara resepsionis itu mengagetkan Qila...
" Maaf ada yang bisa saya bantu nona "? tanya resepsionis.
" Emm... Ruangan pak Adit dimana ya mbak, saya ingin mengantarkan makan siang " sahut Qila.
" Maaf kalau boleh tahu nona ini dengan siapa ya ?" tanya resepsionis itu lagi.
" Nama saya Aqila mbak, boleh saya bertemu dengan pak Adit nya mbak ?" jawab Qila dan bertanya balik.
" Oh jadi nona ini dengan nona Aqila, mari silahkan nona saya antara langsung ke ruangan beliau. " kata mbak yang bekerja sebagai resepsionis itu.
" Terimakasih mbak. " sahut Qila dengan senyum manisnya dan di balas juga dengan senyumannya oleh mbak resepsionis itu.
Aqila dan mbak itu langsung masuk dan menaiki lift, menuju ke ruangan CEO pemilik perusahaan itu.
Setelah sampai di ruangan atas tepatnya di depan ruangan CEO.
" Silahkan nona, ini ruangannya, kalau begitu saya permisi dulu , mari nona " kata mbak itu menunduk memberi hormat pada Aqila.
" Terimakasih mbak, mari... " sahut Qila sedikit aneh dengan perlakuan resepsionis itu.
" Kenapa mbak itu seperti menghormati ku, padahal aku ini kan cuma pelayanan, apa Adit ya yang bilang kalau aku ini bukan hanya pelayan, tapi juga teman sekaligus sahabatnya. " gumam Qila pelan setelah resepsionis itu pergi meninggalkannya tepat di depan pintu ruang CEO.
Tok tok tok...
__ADS_1
Qila mengetuk pintunya terlebih dahulu.
" Masuk " sahutan dari dalam.
Cekklek...
Qila pun membuka pintunya secara perlahan.
" Permisi tuan, saya membawakan makanan siang. " kata Qila.
" Oh kamu Qila, ayo masuk silahkan duduk dulu di situ, aku menyelesaikan pekerjaan ku ini sebentar. " kata Adit yang memang kelihatan sangat sibuk sekali.
" Iya tuan " sahut Qila sambil melangkahkan ke sopa lalu meletakkan rantang makanan yang ia bawa di atas meja dan duduk di situ sambil menunggu bos sekaligus sahabatnya itu.
Setelah lima menit menunggu, akhirnya Adit datang dan duduk bersamanya.
" Silahkan tuan ini makanannya. " kata Qila sambil menyodorkan sepiring makanan.
" Terimakasih Qila, kamu sudah makan ?" tanya Adit sambil memakan makanan yang di berikan Qila.
" Saya nanti setelah tuan makan baru saya yang makan. " sahut Qila sedikit menunduk hormat seperti halnya seorang maid.
" Hey, bukankah sudah ku bilang tidak usah pormal begitu ngomongnya, biasa saja, bagaimana aku bisa makan kalau sahabatku sendiri belum makan, sekarang buka mulut mu aaa', kita makan bersama. " kata Adi dengan lembutnya sambil menyodorkan sendok makanan di depan mulut Qila.
" Tapi... " kata Qila terhenti saat Adit kembali bersuara.
__ADS_1
" Shuutthh... Tidak ada tapi - tapian, aaa' " kata Adit yang bersikeras menyuapi Qila.
Mau tidak mau Qila membuka mulutnya dan mendapat suapan dari Adit.
" Kalau kau bersikap lembut seperti ini terus ka Adit, lama - lama aku tidak bisa menahan perasanku ini padamu, karena aku sudah jatuh cinta beneran padamu, haah... ya tuhan bagaimana ini, lalu bagaimana dengan orang yang sudah menjadi suami dadakan ku itu " kata Qila dalam hati dengan perasaan yang sudah bercampur aduk saat mereka berdua makan sepiring berdua lagi.
Setelah selesai makan Qila pun membereskan bekas makan mereka berdua.
" Ya sudah Qila kembali ke rumah lagi ya ka, takut ganggu kalau Qila terlalu lama di sini " kata Qila.
" Iya, terimakasih sudah mengantarkan ku makan siang. " sahut Adit yang sangat bahagia mendapat perhatian dari Qila meski sebagian pelayannya saja.
" Sudah tugas saya tuan, permisi... " ujar Qila.
" Qila... Sekali lagi kamu bicara pormal seperti itu aku cium kamu mau... " kata Adit sakit gemasnya pada sahabatnya ini.
" Eh tidak, haram tahu istri orang ini. Kalau begitu aku pulang sekarang, bahaya terlalu lama di sini permisi ka. " kata Qila yang langsung keluar ruangan itu tanpa mendengar sahutan dari bosnya itu.
Mendengar perkataan Qila itu membuat Adit bertambah gemas sekaligus bahagia, karena Qila sadar dengan status dirinya sekarang, dan Qila pun tidak mau macam - macam meskipun mereka berdua adalah sahabat dekat.
" Meskipun aku melakukannya, tidak akan dosa Qila - Qila... " gumam Adit pelan sambil tersenyum saat melihat Qila yang sudah keluar dari ruangannya, lalu Adit pun melanjutkan kembali pekerjaannya.
Sedangkan di luar, Qila langsung melangkahkan kakinya keluar dari kantor itu, dan langsung menuju pulang.
Di dalam perjalanan pulang Qila pun memikirkan statusnya yang sekarang mendadak menjadi seorang istri.
__ADS_1
" Haah... bagaimana ini, kalau aku tinggal bersama ka Adit terus, lama - lama aku tidak bisa menahan perasaan ku lagi, karena sekarang aku benar-benar mencintai ka Adit. Lalu bagaimana dengan orang yang berstatus sebagai suamiku itu, haah... Ampuni dosa ku ini tuhan, apa yang harus ku lakukan sekarang. " kata Qila dalam hati sambil memikirkan semuanya saat di perjalanan pulang.
Hingga Qila menemukan sebuah ide yang baik untuknya saat ini...