Menjadi Istri Dadakan

Menjadi Istri Dadakan
Episode 33


__ADS_3

Setelah di usir Nilam langsung menuju ke suatu tempat untuk menjalankan rencananya.


" Eh itukan Qila, sekarang saatnya. " kata Nilam saat di dalam taksi melihat Qila keluar dari mini market.


Dengan gerak cepat Nilam menghentikan taksi yang ia tumpangi dan langsung menghampiri Qila yang sedang berjalan santai.


" Qila... " panggil Nilam


Qila yang merasa di panggil pun langsung melihat kearah suara itu.


" Kak Nilam, sedang apa kakak disini ?" tanya Qila yang heran melihat keberadaan kakak sepupunya itu.


" Aku cuma berjalan - jalan saja Qila " jawab Nilam


" Bukan kah kakak lagi sakit kenapa keluar " kata Qila lagi yang sedikit khawatir pada kakak sepupunya itu.


" Aku sudah baik - baik saja Qila, Qila bisa kita bicara sebentar, ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ku sampaikan pada mu. " kata Nilam

__ADS_1


" Baiklah kak, ya sudah kita ke kafe saja " kata Qila yang langsung di anggukan Nilam.


Mereka berdua langsung menuju ke kafe yang tidak jauh dari sana, sesampainya di sana Qila dan Nilam langsung masuk kedalam lalu memesan minuman sambil duduk bersantai bersama.


" Oh ya ka Nilam, sebenarnya apa yang ingin kakak katakan padaku ?" tanya Qila sambil meminum minumannya.


" Mm... begini Qila, sebenarnya aku tidak enak untuk mengatakannya padamu, tapi mau bagaimana aku juga tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, jadi ku mohon setelah kau mendengar apa yang ku katakan nanti, ku harap kau mengerti. " kata Nilam Sebelum menjawab pertanyaan Qila, dan itu semakin membuat Qila penasaran.


" Baiklah kakak katakan saja, aku tidak apa-apa " kata Qila


" Begini Qila, sebenarnya aku dan suamimu Adit sudah saling kenal sebelumnya, dulu juga kami sudah menjalin hubungan, kami berdua saling mencintai, bahkan sampai sekarang tidak ada kata putus di antara kami, dan setelah aku mendengar kalau Adit sudah menikah dengan mu aku... " perkataan karangan Nilam terpotong untuk melihat reaksi Qila.


" Apa, kenapa ceritanya beda dengan yang ka Adit ceritakan padaku, siapa sebenarnya yang berbohong di antara mereka " kata Qila dalam hati sambil diam mendengarkan cerita Nilam.


Melihat reaksi Qila yang hanya diam mendengarkan, Nilam pun melanjutkan perkataannya.


" Aku langsung mendatanginya tadi ke kantor, aku memutuskan hubungan kami, karena aku tidak mau mengganggu rumah tangga kalian. Tapi... Tapi Adit tidak mau dan bersikeras untuk mempertahankan hubungan kami, maafkan aku Qila, aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku sudah berusaha untuk melepaskannya, tapi Adit tidak mau melepaskan ku sampai dia... Hiks hiks hiks... " kata Nilam lagi terhenti sambil menangis seolah tidak sanggup mengatakannya.

__ADS_1


Mendengar itu Qila semakin terkejut, ia semakin bingung apalagi melihat Nilam yang saat ini sedang menangis.


" Sampai apa kak, cepat katakan apa ka Adit sudah berbuat sesuatu yang buruk padamu, katakan saja ka, kakak jangan takut. " kata Qila lagi karena sudah bermacam-macam yang ada di pikirannya.


Sambil menangis Nilam melanjutkan ceritanya.


" Hiks hiks hiks... Adit, Adit melecehkan ku Qila, dia... Dia sampai merebut kehormatan ku hiks hiks hiks... " kata Nilam lagi dengan gaya meyakinkannya.


Mendengar itu Qila langsung terkejut ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Nilam, sampai Qila terdiam tidak tahu lagi harus melakukan apa.


Melihat Qila yang seperti ragu, seketika Nilam bertambah menangis...


" Huuuaaa... Qila, hiks hiks hiks... Aku, aku tahu mungkin kau tidak akan mempercayai perkataan ku, tapi hiks hiks hiks... Tapi aku punya buktinya Qila, ini... Kalau kamu tidak percaya lihatlah foto ini hiks hiks hiks... " kata Nilam sambil menyerahkan ponselnya dan menunjukkan foto saat Nilam mencium bibir Adit.


Masih dalam keadaan bingung Qila pun dengan berat hati mengambil ponsel itu lalu melihatnya, seketika...


" Apa ini... Ya Tuhan apa ini... " kata Qila dalam hati sambil memijat keningnya yang langsung terasah pusing karena menahan amarahnya setelah melihat bukti foto itu.

__ADS_1


Sedangkan Nilam masih menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya.


__ADS_2