
Baru saja mereka memakan makanannya tiba - tiba seseorang datang.
" Assalamualaikum... " salam orang itu
" Walaikum salam, eh ka Adit " kata Qila yang langsung menghampiri lalu mencium punggung tangan suaminya.
Setelah Aqila mencium punggung tangan suaminya, Adit pun membalas dengan mencium kening Qila.
" Mah... " Adit juga mencium tangan Mama mertuanya, Bu lira langsung tersenyum dan mengusap kepala menantunya.
Kemudian Adit langsung duduk di sebelah Qila tanpa memperdulikan Nilam yang memandangnya dengan tatapan yang sangat berbeda.
" Adit kenalkan ini Nilam, keponakan mamah, sepupunya Qila. " kata bi lira memperkenalkan keponakan pada menantunya itu.
" Nilam... " katanya sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Adit.
" Hmm... Adit, suami Qila " sahut Adit tanpa membalas jabatan tangan Nilam.
Merasa tidak di balas Nilam menarik kembali tangannya dengan perasaan sedikit malu, sedangkan Adit tidak memperdulikannya sama sekali, berbeda dengan Qila saat ini ia tengah menahan senyumnya melihat sikap sahabat sekaligus suaminya ini.
" Ya sudah ayo Adit ikut makan juga, kita lanjutkan makanya. " kata Bu lira tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat anak - anaknya.
" Iya mah, Tante. " sahut mereka bertiga.
__ADS_1
Lalu Qila mengambilkan makanan untuk suaminya itu dan melayani suaminya layaknya seorang istri yang sudah mahir, padahal baru beberapa hari Qila menjadi istri Adit.
Melihat Qila dan Adit kelihatan begitu harmonis membuat Nilam diam - diam menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Aku sudah di sini, tidak akan ku biarkan kalian berdua hidup bahagia. " kata Nilam dalam hati sambil tersenyum sinis menatap Qila dan Adit tanpa sepengetahuan mereka.
Setelah selesai makan, mereka langsung berkumpul di ruang keluarga.
" Papah mana mah?" tanya Adit yang juga di anggukan Qila.
" Papah mu ke luar kota ada pertemuan di sana katanya. " Jawab Bu lira santai.
" Kamu apa kabar Dit, sudah lama ya kalian nikah ko aku tidak di kasih kabar. " tanya Nilam yang duduk di sebelah Bu lira tapi terus menatap Adit.
" Kalian sudah saling kenal ya sebelumnya ?" tanya Qila sambil menatap sedikit aneh pada sepupunya dan suaminya itu.
" Iya, kita dulu satu kampus. " jawab Adit jujur.
" Benar, bahkan kita juga satu jurusan, oh ya bagaimana kabarnya Roy Dit?" tanya Nilam yang kelihatan sangat akrab pada Adit.
" Dia sekarang jadi asisten pribadi ku, sayang sepertinya harinya sudah malam kita pulang yu. " ajak Adit pada istrinya karena sangat malas dengan keberadaan Nilam di situ.
" Ah iya ka " sahut Qila.
__ADS_1
" Mah, ka Nilam kami pamit pulang dulu ya " kata Qila
" Lho kok buru - buru sekali sayang, kenapa kalian tidak nginap di sini saja " kata Bu lira pada anak dan menantunya.
" Besok Adit harus bekerja lagi mah, kalau dari sini terlalu jauh, jadi kita pulang saja. " sahut Adit, padahal ia ingin menginap di rumah mertuanya itu tapi karena Nilam ada di situ Adit jadi mengurungkan niatnya.
" Iya mah, nanti akhirnya pekan kita kesini lagi dan akan menginap di sini ya " kata Qila yang langsung memeluk ibunya itu.
" Ya sudah, kalian hati - hati ya di jalan. " kata Bu lira.
" Iya mah, kita pulang dulu ya assalamualaikum. " pamit Adit dan Qila bersamaan dan berganti mencium tangan Bu lira.
" Walaikum salam, iya sayang, sering - sering main ke sini ya. " kata Bu lira yang langsung mencium kening anak dan menantunya setelah mereka mencium tangannya.
" Kak Nilam kami pulang dulu ya, assalamualaikum " pamit Qila yang langsung memeluk sepupunya itu.
" Walaikum salam la, cepat banget sih pulangnya mentang - mentang sudah punya suami, ya sudah hati - hati di jalan ya, kapan - kapan aku main ke rumah mu boleh kan " kata Nilam dengan senyum hangatnya pada Qila.
" Oke, Qila tunggu " sahut Qila dengan tersenyum juga pada Nilam.
Sedangkan Adit hanya diam saja tanpa bicara apapun pada Nilam.
Setelah berpamitan Adit dan Qila langsung masuk ke dalam mobilnya, setelah melambaikan tangan Qila dan Adit langsung menjalankan mobilnya menuju pulang ke rumah.
__ADS_1
Setelah Adit dan Qila pulang, Bu lira langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Nilam masih memandang kepergian keduanya yang sudah tidak terlihat lagi.