
Akhirnya Edogawa nekat menyapa dan memanggil tuan Marcos.
"Om Marcos!" sapa Edogawa seraya menjabat tangan tuan Marcos. Mau tidak mau tuan Marcos menjabat tangan Edogawa dan memeluk nya.
"Halo, Edogawa! Maaf, tadi om ragu-ragu apakah benar ini kamu! Kalau kamu tidak menyapa, mungkin saja om sudah lupa," kata Marcos.
"Oh iya, ini kenalkan Amanda, istri om!" ucap Marcos. Edogawa mengernyitkan dahinya saat Marcos langsung bicara jujur dengan Edogawa kalau wanita di sebelahnya itu adalah istrinya. Amanda sang istri lalu mengulurkan tangan nya menyalami Edogawa.
"Amanda, istri mas Marcos!" ucap Amanda pada Edogawa.
"Edogawa!" sahut Edogawa tidak kalah ramahnya.
"Oh, iya, kami sudah selesai membayar semua barang-barang belanjaan kami. Aku duluan yah. Semoga lusa kita ketemu lagi, Edogawa!" kata Marcos seraya menepuk punggungnya pelan.
"Oke, om!" kata Edogawa. Edogawa kini mulai. menunggu barang-barang belanjaan nya dihitung oleh kasir di mini market itu. Dalam benaknya masih berpikir, apakah mama nya menjalin hubungan dengan om Marcos itu, sebenarnya sudah mengetahui kebenarannya atau tidak kalau om Marcos sebenarnya sudah memiliki seorang istri. Edogawa rasanya sudah tidak sabar ingin bertanya dengan mama nya itu.
__ADS_1
Edogawa keluar dari mini market itu dan kembali ke dalam mobilnya. Di dalam mobil itu sudah ada papa nya.
"Lama banget kamu," ucap Indra.
"Hem, maaf pa! Tadi ketemu seseorang, jadi ngobrol sebentar," jelas Edogawa.
"Baiklah! Ayo jalankan mobilnya!" kata Pak Indra. Edogawa mulai menghidupkan mesin mobil itu lalu menjalankan kemudinya dengan kecepatan sedang.
*****
Masih dengan tatapan yang angkuh dan kurang bersahabat, Edogawa terkesan cuek saat bertemu dengan Elsa dan juga Also. Also pun berusaha baik karena mama nya sudah menasihati dirinya untuk bersikap sopan dan jangan mencari gara-gara dengan putra tunggal dari Pak Indra. Elsa dan Also tidak banyak bicara hanya untuk menghormati mama nya yang akan menikah dengan papa nya Edogawa.
"Kok seperti di kuburan sih?! Ayo ngobrol dong kalian, supaya kalian lebih akrab gitu," kata Putri. Elsa dan Also saling tatap lalu mereka berdua sama-sama menatap ke arah Edogawa.
"Kami sedang makan, tante! Kalau sedang makan tidak boleh bicara. Bukan begitu, Elsa?" sahut Edogawa. Elsa mencebikkan bibir nya saat Edogawa menyebut namanya.
__ADS_1
" Tiba-tiba seperti di kuburan saja ma, kalau ada laki-laki yang dingin seperti beruang kutub," ucap Elsa. Indra dan Putri saling pandang lalu mereka berdua berusaha mencairkan suasana.
"Bagaimana kalau setelah makan kita nonton film bareng yuk!" ajak pak Indra.
"Nah, itu ide bagus tuh mas! Kita nonton film bareng di sini rumah saja. Bagaimana?" sahut Putri.
"Tidak dong! Kita ke studio XXI dong, sayang!" ucap pak Indra.
"Dan kalian tidak boleh menolak ajakan dari. papa," sambung pak Indra.
"Haduh, Tiba-tiba saja aku sakit perut, ma! Maaf ma, aku tidak bisa ikut nongol film bersama dengan semuanya," sahut Elsa.
"Maaf, ma! Maaf om Indra! Saya juga tidak bisa ikut karena sudah ada janji dengan teman," sambung Also. Pak Indra dan juga. Putri saling berpandangan. Keduanya terlihat kecewa mendengar alasan dari Elsa dan Also.
"Mereka tuh tidak terbiasa nonton film di bioskop XXI pa! Mereka sudah terbiasa nonton film di lapangan ramai-ramai sekampung gitu pa! Jadi jangan mengajak mereka ke tempat-tempat elite gitu," ucap Edogawa. Elsa dan Also saling tatap. Kedua nya melotot tajam ke arah Edogawa.
__ADS_1
"Eh sudah-sudah! Jangan ribut dong! Ya sudah, kita lebih baik nonton ramai-ramai di rumah saja sambil ngemil jajanan. Oke?" kata Pak Indra berusaha mencairkan suasana.