MENYUKAI ADIK TIRI

MENYUKAI ADIK TIRI
BAB 18


__ADS_3

"Ini kopi apa jamu, sih? Pahit sekali!" ucap Edogawa. Elsa mengerutkan keningnya saat kopi buatan nya itu sedikit diminum oleh Edogawa.


"Itu kopi kok! Tadi aku sendiri yang membuatkan nya untuk kakak," sahut Elsa.


"Tapi kenapa pahit sekali, sih? Kamu tidak menuangkan gula ke dalam nya?" ucap Edogawa. Elsa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dari gaya dan sikap Elsa sudah menjawab pertanyaan Edogawa kalau kopi yang dibuatnya tanpa gula.


"Astaga!! Kamu ini, apakah tidak pernah bikin kopi untuk mama kamu atau kakak kamu, Also, hah? Masa hanya bikin kopi saja aku harus mengajari kamu sih?" ucap Edogawa.


"Bukannya kakak tadi yang meminta padaku untuk dibuatkan kopi pahit. Jadi nama nya kopi pahit tentu saja tidak pakai gula kan? Apakah aku salah?" protes Elsa.


"Maksud aku kopi pahit itu dengan sedikit gula. Jadi jangan terlalu manis sekali," kata Edogawa.


"Kalau begitu, biar aku kasih gula dulu, kak!" sahut Elsa.


"Tidak usah! Lebih baik aku delivery saja," sahut Edogawa.


Elsa mengerucutkan bibirnya. Elsa kembali ke tempat duduknya menunggu perintah dari Edogawa. Hari pertama bekerja, Elsa masih bingung belum banyak mengerjakan sesuatu. Dia masih mencatat beberapa agenda dan mencatat klien-klien yang sudah membuat janji dengan Edogawa. Benar! Elsa harus mengetahui jadwal setiap harinya yang akan Edogawa jalankan serta Elsa harus mengingatkan Edogawa jika lupa dengan agenda yang sudah dijadwalkan, termasuk kegiatan meeting di perusahaan.


Tok.


Tok.


Suara pintu ruangan kerja Edogawa diketuk oleh seseorang. Elsa segera berdiri membukakan pintu itu. Edogawa yang sudah tahu yang datang siapa segera ikut berdiri menyambut kedatangan orang tersebut.

__ADS_1


"Halo sayang?! Aku pikir kamu bohong kalau mau datang ke sini!" ucap Edogawa seraya memeluk seorang gadis yang datang mengunjungi diri nya saat kerja. Elsa masih berdiri mematung di sana melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh pasangan kekasih itu. Gadis cantik itu dengan malu-malu melirik ke. arah Elsa karena Edogawa tanpa ada rasa malu memeluk dan mencium nya.


"Edogawa, ada Elsa! Malu dong!" protes gadis cantik itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kiara, pacar Edogawa.


"Tidak apa-apa! Dia kan sudah menjadi adik ku dan sekaligus asisten pribadi ku. Jadi, tidak usah malu dengan Elsa," ucap Edogawa.


"Eh, em kalau begitu saya permisi di luar dulu, kak!" ucap Elsa.


"Eh tunggu!" sahut Edogawa. Elsa menoleh ke arah Edogawa dan berdiri menunggu, apa yang akan di perintahkan oleh kakak tiri nya itu. Edogawa mengeluarkan dompet yang ia letakkan di kantong celana kainnya. Lalu mulai mengeluarkan ATM nya dan memberikannya pada Elsa. Elsa menerimanya.


"Tolong belikan beberapa makanan dan minuman dingin. Aku dan Kiara akan makan bersama di ruangan ku," ucap Edogawa.


"Edogawa, aku sudah kenyang! Tadi sebelum pergi ke kantor kamu ini, aku sudah makan kok!" sahut Kiara.


Elsa segera melenggang keluar dari gedung megah itu untuk mencari makanan dan minuman segar yang diminta oleh Edogawa. Benar, jam menunjukan jam makan siang. Dan perut Elsa juga sudah menuntut meminta jatah. Elsa sekalian juga mencari makan untuk dia juga.


*****


Di depan gedung perkantoran itu tepatnya di seberang jalan berjejer warung makan yang menjual berbagai jenis makanan. Elsa kali ini tertarik ingin membeli sate ayam dengan minuman nya es teh.


"Mang, sate ayam di makan di sini satu yah!" ucap Elsa sebelum dirinya duduk di kursi yang sudah tersedia di warung sate itu. Kebetulan di warung itu masih sepi pembeli. Hanya satu pembeli laki-laki dan dirinya saja.


"Baik, neng! Pakai lontong atau nasi?" tanya penjual itu.

__ADS_1


"Hem, lontong saja mang! Tapi lontong nya di potong-potong yah," sahut Elsa. Penjual itu tersenyum saat Elsa meminta lontong nya di potong-potong.


"Tentu lontong nya di potong-potong kalau di sajikan langsung, neng! Oh iya neng, minumnya apa?" ucap penjual itu.


"Hehe, minumnya teh panas saja, mang!" sahut Elsa.


"Siap! Ditunggu yah neng!" kata penjual itu.


*****


Elsa sangat lahap menikmati sate ayam lontong nya. Dia cuek makan sendiri tanpa teman di warung itu. Tanpa dia sadari sedari tadi laki-laki yang makan sate di warung itu memperhatikan Elsa saat menikmati makannya. Saking semangatnya sambel kacang nya ada yang nempel di pipi kanan Elsa. Laki-laki itu tersenyum melihat Elsa masih belum sadar kalau bagian pipinya menempel sambel kacang di sana.


"Mang, tolong di bungkus sate kambing dua dan sate ayam dua yah, Mang! Terus, lontong nya di pisah saja," kata Elsa memesan makanan itu untuk Edogawa beserta pacar nya.


"Aku beliin sate ayam dan kambing saja, deh! Pakai duit ku dulu! Masak warung sate ini ada debit card nya sih, kan tidak mungkin kan?" pikir Elsa sambil menghabiskan sisa makanan nya.


Laki-laki itu mengikuti Elsa setelah membayar semuanya pada penjual sate itu. Merasa diikuti, Elsa berlari. Namun laki-laki itu pun ikut berlari mengikuti Elsa masuk ke gedung perkantoran di mana Edogawa ada di bangunan itu. Sampai ke pintu masuk, laki-laki itu masih tetap mengikuti Elsa. Elsa menghentikan langkah nya dan berniat hendak memarahi laki-laki yang mengikuti Elsa.


"Hai, kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Elsa.


"Hahaha, maaf, saya juga bekerja di sini!" sahut laki-laki itu. Elsa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki itu masih terkekeh dengan sikap Elsa dan juga sambal kacang yang menempel di pipi nya masih di sana.


"Oh iya, itu sambal kacang nya ada di pipi," kata laki-laki itu seraya berjalan meninggalkan Elsa yang masih berdiri mematung karena malu.

__ADS_1


__ADS_2