
"Kita bungkus makanan nya saja yah! Nanti kita makan di rumah nya Kiara. Siapa tahu Kiara juga belum makan," ucap Edogawa kepada Elsa.
"Baiklah! Kalau sudah sedang jatuh cinta, mau makan apa saja jadi ingat orang itu. Jadi maunya apa yang kita makan dia juga ikut memakannya seperti kita," sahut Elsa.
"Salah lagi kan? Ini juga supaya lebih efisien saja. Kalau kelamaan makan di restoran ini, nanti di rumah Kiara nya jadi sebentar. Sedangkan kamu juga butuh istirahat karena seharian bekerja jadi buruh kan?" kata Edogawa. Ada kata merendahkan Elsa yang membuat gadis belia itu mencebikkan bibir nya. Edogawa terkekeh kalau sudah berhasil membuat Elsa sebal.
Lima belas menit akhirnya pesanan makanan dan minuman mereka sudah siap di bungkus. Setelah melakukan pembayaran Edogawa mengajak Elsa kembali ke dalam mobilnya. Mobil itu kembali melaju menuju rumah Kiara, pacar Edogawa.
"Aku memberikan penawaran pada kamu, Elsa. Ini kalau kamu mau menerimanya yah!" kata Edogawa sambil menyetir mobilnya. Elsa menyipitkan bola mata nya menoleh ke arah Edogawa.
"Apa itu?" tanya Elsa.
"Bagaimana kalau kamu berhenti bekerja sebagai buruh di tempat kamu bekerja. Yang tentu saja gajinya tidak seberapa itu, yang hanya bisa untuk membeli pembalut kamu setiap bulan nya itu," ucap Edogawa kembali meremehkan kerjaan dari Elsa. Elsa dengan spontan memukul lengan Edogawa yang kekar itu.
"Kamu ini, bisa tidak sih kalau tidak menghina orang? Walaupun aku bekerja sebagai buruh, yang penting duit yang aku peroleh halal," protes Elsa.
__ADS_1
"Astaga, ringan sekali tangan kamu! Aku hanya menawarkan pekerjaan buat kamu. Tentu saja ini lebih menguntungkan dan gajinya lebih besar. Di tambah bonus setiap bulannya. Dan lagi, kamu lebih santai bekerja dengan pekerjaan ini," kata Edogawa.
Elsa menoleh ke arah Edogawa yang lagi-lagi membuat dirinya bingung.
"Hai, jangan bengong gitu! Ngapain kamu melihat aku seperti itu? Aku tahu kalau aku ini tampan," ucap Elsa. Elsa lagi-lagi mencubit lengan Edogawa.
"Aduh, sakit tau! Ih kamu gak asyik banget, selain suka memukul juga suka mencubit," protes Edogawa.
"Habis kamu itu selalu saja nyebelin!" kata Elsa.
"Sekarang, kamu mau apa tidak?" tanya Edogawa.
"Iya, dan kamu bekerja tentu dengan gaji yang besar," sahut Edogawa.
"Baiklah! Kalau kamu memaksa, aku mau deh. Lalu pekerjaan apa yang aku lakukan? Dan bekerja di mana?" kata Elsa.
__ADS_1
"Kamu bekerja dengan ku. Kamu menjadi asisten pribadi ku sekaligus merangkap sekretaris. Bagaimana?" ucap Edogawa serius.
"Hem, aku harus buat surat mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum bekerja dengan kamu," sahut Elsa.
"Halah, pekerjaan buruh seperti itu saja tidak usah terlalu formal begitu! Kecuali kamu memiliki posisi yang bagus di tempat kamu bekerja. Sudahlah langsung saja bekerja dengan ku. Mulai besok pagi," ucap Edogawa.
"Astaga! Kenapa sih kamu selalu menganggap enteng dan rendah aku?" sahut Elsa.
"Hahaha, ngambek!? Ya udah ayo turun! Ini rumah Kiara! Kita sudah sampai!" kata Edogawa akhirnya.
*****
Edogawa sedang disuapin oleh Kiara. Elsa di tempat itu seperti obat nyamuk. Mereka memang makan bersama-sama di ruang makan dengan menu makanan yang dibeli oleh Edogawa. Kiara terlihat sudah mulai menyukai dan benar-benar serius menjalin hubungan dengan Edogawa. Padahal awalnya Kiara bimbang dengan perasaan nya sendiri. Sekarang setelah mengetahui bahwasanya Edogawa lebih kaya, mapan, dan menjanjikan kehidupan nya akan lebih terang benderang, Kiara semakin lengket dan serius menjalin hubungan dengan Edogawa.
"Sayang, kamu juga makan dong!" ucap Edogawa sambil ikut menyuapi makanan ke dalam mulut Kiara. Kiara dengan patuh membuka mulutnya. Keduanya saling siap suapan. Elsa yang berada di depan mereka menjadi tidak enak. Sesekali Edogawa melirik ke arah Elsa yang sewot melihat nya.
__ADS_1
"Weleh, kayak dunia milik berdua saja, yang lain dianggap ngontrak," gumam Elsa mencebikkan bibirnya saat Edogawa melihat ke arahnya.
"Menyebalkan sekali!" batin Elsa sambil melahap habis makanan nya.