
Di ruangan Danuarta kini ada Elsa. Dua sejoli. itu saling berpegangan tangan. Danuarta memegang kedua tangan Elsa. Lalu mencium tangannya. Adegan itu ternyata di lihat oleh Edogawa saat mencari Danuarta di ruangannya. Edogawa bergegas ke ruangan Danuarta karena beberapa kali dirinya melakukan panggilan melalui telepon seluler dan juga handphone nya, tidak diangkat oleh Danuarta. Hal itu membuat Edogawa segera ke ruangan Danuarta langsung.
"Danuarta!?" panggil Danuarta. Elsa yang mendengar seseorang memanggil Danuarta dengan cepat menarik tangannya yang sejak tadi dalam pegangan Danuarta. Tentu saja wajah Elsa memerah.
"Eh, em bang?!" sahut Danuarta segera berdiri mendatangi Edogawa yang masih berdiri di pintu masuk ruangan itu.
"Ke ruangan ku sekarang juga!" perintah Edogawa.
"Dan kamu, Elsa! Bersih kan toilet di ruangan kerja ku, sekarang juga!?" sambung Edogawa memberikan perintah kepada Elsa.
"Eh? Tapi.. tapi kak?!" sahut Elsa.
"Tidak ada tapi tapian! Aku di sini dirut di perusahaan ini," kata Edogawa. Danuarta yang mendengar nya jadi menyipitkan matanya.
"Astaga, benar kamu dirut di perusahaan ini. Kami sudah tahu itu," gumam Danuarta.
Dengan langkah lebarnya, Edogawa kembali ke ruangan kerja nya diikuti oleh Danuarta. Elsa pun dengan langkah gemulai segera melaksanakan perintah dari Edogawa selaku dirut di perusahaan itu.
"Ada apa sih dengan kak Edogawa? Kenapa sorot matanya tadi tajam banget. Seperti tidak suka saat melihat aku berdekatan dengan mas Danuarta," gumam Elsa.
"Wah, Jangan-jangan kak Edogawa mulai cemburu ketika melihat aku berdekatan dengan mas Danuarta, hehehe yes! Ini namanya kak Edogawa sebenarnya diam-diam menyukai aku bukan?" gumam Elsa.
*****
Di ruang kerja itu Danuarta dan Edogawa saling duduk berhadap-hadapan. Kedua nya berbicara serius.
__ADS_1
"Mulai.besok akan aku umumkan peraturan baru bahwasanya di dalam satu perusahaan ini tidak boleh berpacaran antara karyawan dengan karyawan yang bekerja di sini. Antara atasan dengan bawahan di dalam satu kantor maupun dalam satu perusahaan," ucap Edogawa.
"Hah, apa? Gila! Jangan begitu dong bos! Bagaimana dengan aku? Aku berpacaran dengan Elsa. Lalu apakah kami harus putus demi mengikuti dan mentaati aturan yang berlaku? Eh, peraturan yang kamu buat itu, bang?" sahut Danuarta.
"Hai ini peraturan bukan aku yang membuat nya. Ini peraturan sudah lama ada. Cuma akan kembali aku sah kan dan publikasikan kembali. Supaya saat bekerja tidak ada lagi yang berpacaran," kata Edogawa.
"Bagaimana dengan kamu, bang? Yang aku lihat selama ini pun abang selalu berpacaran dengan Kiara di dalam ruang kerja, abang," ucap Danuarta.
"Aku direktur utama di perusahaan ini, Danuarta! Posisi nomer dua di perusahaan ini setelah ayahku," kata Edogawa.
"Aku pun nomor tiga setelah abang, bukan? Jadi aku boleh dong berpacaran dengan Kiara? Ayolah bang, jangan egois seperti itu membuat peraturan," ucap Danuarta.
"Tidak boleh! Sekarang kamu boleh memilih, tetap berpacaran dengan Kiara atau berhenti bekerja di perusahaan ini. Bagaimana? Katanya kamu cinta dengan Elsa, jadi mau dong berkorban demi Elsa," kata Edogawa.
"Emang gue pikirin?! Eh, oh iya kamu bisa jadi penjual cendol dawet saja. Wah seperti nya kamu sangat cocok jika menjual cendol dawet di siang hari. Apalagi cuaca hari ini panas terik. Pasti laris manis deh," kata Edogawa.
"Astaga, bang! Tega sekali sih sama aku!? Baiklah aku terpaksa tidak pacaran lagi dengan Elsa. Tapi kalau setelah pulang ngantor boleh kan?" sahut Danuarta.
"Itu tetap tidak diijinkan! Berpacaran dengan orang yang satu kerjaan. Oke?" kata Edogawa.
"Ih abang! Benar-benar tega banget membuat peraturan," sahut Danuarta.
*****
Elsa membersihkan toilet di ruang kerja Edogawa. Sambil menyikat toilet itu, Elsa ngomel tidak jelas. Padahal pekerjaan membersihkan toilet sudah menjadi tugas office boy. Kenapa menjadi dirinya yang bertugas membersihkan toilet itu.
__ADS_1
"Direktur nya lagi sentimen dengan aku dan mas Danuarta kali yah? Tidak jelas banget sih," omel Elsa. Namun saat dirinya melihat ekspresi Edogawa sewaktu Danuarta memegang kedua tangannya, wajahnya seperti tidak suka. Lalu setelah nya Edogawa memanggil Danuarta ke ruang kerja nya.
"Sudah selesai belum yah, dua pimpinan itu berbicara di ruangan itu. Nyaris suara mereka tidak aku dengar sampai di toilet ini," gumam Elsa.
Namun saat Elsa hendak keluar dari dalam toilet itu, Tiba-tiba di luar pintu toilet itu sudah ada Edogawa. Kapala Elsa menabrak dada bidang Edogawa. Elsa yang lebih rendah tinggi badannya daripada tinggi badan Edogawa kini langsung mendongak kepala melihat wajah Edogawa.
"Eh, kak Edogawa! Maaf!" ucap Elsa. Namun kepala nya masih saja menempel di bagian dada bidang Edogawa. Elsa sesaat mencium parfum maskulin dari tubuh Edogawa.
"Minggir kamu? Suka sekali menggoda aku. Aku ini pria yang sudah memiliki pacar. Jadi jangan coba-coba menggoda aku dengan trik murahan seperti itu," ucap Edogawa tanpa kontrol.
"Eh, aku juga wanita yang sudah punya pacar! Kak Edo saja yang suka Nempel-nempel terus kepada ku, huh," sahut Elsa. Elsa segera mendorong tubuh Edogawa supaya dirinya bisa keluar dari toilet itu. Namun tanpa dia sengaja, Edogawa terjatuh dan tangannya reflek menarik Elsa hingga keduanya sama-sama jatuh.
"Kyaa!!!" teriak Elsa.
Kini kedua netra mereka kembali beradu. Elsa berada di atas tubuh Edogawa. Bahkan kedua tangan Edogawa memeluk pinggang ramping Elsa. Sesaat mereka diam. Entah siapa lagi yang memulai, bibir mereka kembali bersentuhan. Bahkan mata Edogawa terpejam. Kedua nya saling membalas ciuman. Ciuman panjang dan lama terjadi bahkan saling menyesap dan membelit lidah. Saat Elsa merasakan bagian perut bawahnya seperti mengganjal benda keras yang berkedut. Mata Elsa membuka Lalu melihat ke bola mata Edogawa.
"Em, kak Edogawa!?" gumam Elsa. Elsa segera turun dari atas tubuh Edogawa. Lalu mulai mengusap bibir nya bekas ciuman dengan Edogawa. Lalu dengan langkah tergesa-gesa, segera meninggalkan Edogawa yang masih posisi telentang karena jatuh tadi. Edogawa meringis merasakan sakit di bagian pinggang nya.
"Aduh! Pinggang ku!" gumam Edogawa.
Kini Edogawa mengusap bibir nya yang tadi sudah mencium Elsa, adik tirinya. Lalu Edogawa tersenyum seringai.
"Manis juga rasanya," gumam Edogawa.
"Eh, ya ampun! Kenapa aku tadi kembali mencium Elsa? Ada apa dengan ku? Kenapa aku sekarang ini menjadi sering mencium Elsa? Dan bagian bawah sana selalu bereaksi jika dekat dengan Elsa. Bibir itu pun sangat menggoda. Berbeda banget dengan Kiara. Bahkan saat aku bersama dengan Kiara. Getaran aneh itu tidak Sedasyat sewaktu bersama dengan Elsa," gumam Edogawa.
__ADS_1