MENYUKAI ADIK TIRI

MENYUKAI ADIK TIRI
BAB 14


__ADS_3

Hari pernikahan antara Indra dengan Putri telah tiba. Mereka akhirnya benar-benar menikah dan sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Pesta pernikahan yang berlangsung cukup meriah dan lumayan mewah. Walaupun ini pernikahan yang kedua dari Indra dan juga Putri, harapan nya ini adalah pernikahan mereka yang terakhir dan untuk selama-lama nya hingga mereka menikmati masa tua mereka bersama anak-anak dan cucu-cucu mereka kelak.


Setelah Putri resmi menyandang sebagai istri dari Indra, Putri pindah di rumah kediaman utama Indra. Sebenarnya Elsa tidak mau diajak pindah bersama dengan mama nya itu di rumah suami baru nya itu. Namun karena Putri memaksa Elsa supaya ikut bersama dengan dirinya, dengan terpaksa akhirnya Elsa pindah di rumah papa tiri nya itu bersama dengan mama nya. Sedangkan Also, tentu saja tidak mau pindah. Dia bersikeras tinggal di rumah lama. Rumah tinggal yang memiliki kenangan manis dari dirinya kecil dan masih lengkap bersama papa kandung nya. Walaupun sekarang papa kandung nya sudah bercerai dengan mama nya dan sudah mempunyai kehidupan baru lagi bersama istri baru nya.


Putri dan Elsa sekarang sudah berada di rumah kediaman utama Pak Indra. Barang-barang mereka pun sudah diangkut ke rumah itu. Putri dan Elsa sekarang menjadi penghuni baru di rumah itu.


"Nah, ini kamar kamu Elsa! Bagaimana, kamu suka tidak? Kalau kurang suka dengan warna cat kamarnya, nanti bisa kita cat lagi sesuai selera kamu. Atau kamu mau di kamar atas, di sana lebih luas kamarnya daripada ini," ucap pak Indra yang saat ini menunjukkan kamar yang akan ditempati Elsa di rumah itu.


"Tidak om! Kamar ini sangat bagus dan bersih kok. Tempat tidur nya pun juga sangat mewah sekali. Ini berbeda jauh dengan kamarku yang di rumah," sahut Elsa.


"Syukur lah kalau kamu menyukai nya. Aku sengaja memilihkan kamar kamu di lantai bawah supaya kamu lebih nyaman dan tidak perlu naik-naik anak tangga lagi ke lantai atas.


" Hem, Elsa kamu terimakasih dong dengan om Indra! Dia sudah kasih tempat yang bagus untuk kamu di rumah ini," ucap Putri.


"Terimakasih om!" kata Elsa.


"Hahahaha, tidak masalah. Aku sangat senang kamu mau ikut pindah dan tinggal di rumah ini. Oh iya, sekarang jangan memanggil aku dengan om yah? Bukannya sekarang aku sudah resmi menikah dengan mama kamu. Jadi panggil aku papa yah," ucap Indra.


"Eh?? Papa?" sahut Elsa. Elsa terkekeh-kekeh.


"Loh, kenapa? Ayo dong, panggil papa!" kata Indra.


"Entar Edogawa protes loh om, kalau aku memanggil om dengan panggilan papa," ucap Elsa.


"Mana mungkin Edogawa marah? Benar tidak sayang?" sahut Indra lalu bertanya pada Putri.


"Hem benar! Bukankah itu panggilan yang tepat?" kata Putri.

__ADS_1


"Dan Edogawa nanti harus memanggil kamu dengan panggilan mama," sambung Indra pada Putri.


"Hehehe, ah sudah lah mas! Mereka sudah besar dan dewasa. Terserah memanggil kita dengan panggilan apa. Yang terpenting mulai sekarang, mereka adalah anak-anak kita," ucap Putri.


"Iya, om! Sepertinya lidah ini sudah terbiasa memanggil om Indra dengan panggilan om. Tidak apa-apa kan?" sahut Elsa.


"Ah sebenarnya itu terdengar kurang saja," ucap Indra terlihat kecewa. Melihat hal itu, Elsa tiba-tiba berucap.


"Papa Indra!" gumam Elsa pelan.


"Hahaha, itu bisa! Mulai sekarang pokoknya aku ingin kamu memanggil aku dengan panggilan papa yah," sahut Indra senang. Putri menatap Elsa sambil tersenyum senang.


"Baiklah! Walaupun lidah nya terasa kaku jika memanggil om dengan panggilan papa Indra. Bagaimanapun juga sekarang om Indra adalah papa ku juga karena sudah menikah dengan mama ku," ucap Elsa.


"Oke, nanti biar asisten rumah tangga di rumah ini yang akan membantu memberesi barang-barang kamu," kata Pak Indra.


"Terimakasih, papa Indra!" sahut Elsa.


"Hahaha, kasihan istriku. Ayo sayang!" kata Indra seraya merangkul pundak istrinya.


*****


Elsa mulai merapikan kamar baru nya. Dan pintu kamarnya dalam keadaan terbuka tidak dikunci. Tiba-tiba ada suara khas bariton mengagetkan dirinya.


"Wow, penghuni baru yah?!" ucap suara laki-laki yang tidak asing bagi Elsa. Elsa menoleh ke arah suara.


"Eh, akak Edogawa! Semoga kita bisa menjadi kakak adik yang akur yah," sahut Elsa dengan mencebikkan bibir nya.

__ADS_1


"Hahahaha, katanya kamu gak bakalan pindah ke rumah ini dan ikut pindah bersama dengan mama kamu," kata Edogawa.


"Sebenarnya gitu. Malas, karena setiap hari pasti ketemu dengan kamu," ucap Elsa.


"Hahaha, Hati-hati kamu! Pesona ku dan kegantengan ku bisa membuat kamu jatuh cinta dengan aku loh!" kata Edogawa.


"Itu tidak mungkin! Karena kita adalah saudara sekarang!" sahut Elsa.


"Hahaha," kekeh Edogawa. Tiba-tiba suara tawa Edogawa berhenti ketika melihat sebuah foto. Lalu dia mengambilnya.


"Ini siapa kamu?" tanya Edogawa yang melihat Elsa sedang bersama dengan seseorang pria.


"Eh? Jangan suka ambil barang milikku! Mana kembalikan foto itu!" kata Elsa seraya menggapai foto yang dipegang oleh Edogawa. Namun Edogawa berusaha supaya tidak bisa dijangkau oleh Elsa. Tiba-tiba saja Elsa memeluk Edogawa hingga keduanya mengikis jarak dan kembali keduanya terdiam. Netra mereka sama-sama bertemu. Detak jantung mereka sama-sama berdetak dengan kencang.


"Eh??" Elsa segera menyambar foto yang dipegang oleh Edogawa. Setelah nya sedikit mendorong tubuh Edogawa.


"Dia sudah meninggal saat kecelakaan itu. Dia adalah pacar pertama dan mungkin cinta pertama ku. Namun kini kini dia sudah meninggal dunia," cerita Elsa.


"Maaf, aku membuat kamu sedih," sahut Edogawa.


"Ah sudahlah! Bukankah kita juga nantinya akan meninggal dan menunggu giliran," ucap Elsa.


"Astaga! Kenapa kamu bicaranya gitu sih? Gak asyik banget! Ya sudah! Ayo ikut aku! Aku akan mengajak kamu keluar supaya tahu dunia luar," kata Edogawa.


"Eh, tapi aku ganti pakaian dulu akak!?" sahut Elsa yang berusaha melepaskan pergelangan tangan nya yang ditarik oleh Edogawa.


"Tidak usah! Begitu sudah rapi dan cantik kok! Nanti kalau terlalu cantik bisa ditawar om-om loh," kata Edogawa.

__ADS_1


"Hah?Apa? Kamu pikir aku adalah kupu-kupu malam?" sahut Elsa dengan bibir yang manyun. Edogawa terkekeh-kekeh saja.


Selama ini Edogawa adalah anak tunggal dan tidak memiliki adik. Dengan adanya Elsa dirinya seperti memiliki teman untuk menjahili nya. Dari dulu sebenarnya Edogawa menginginkan seorang adik. Tetapi mama papa nya sudah lama pisah ranjang dan beberapa tahun ini akhirnya mereka benar-benar berpisah atau bercerai. Sekarang adanya Elsa di rumah itu, Edogawa merasa tidak sepi lagi karena ada teman untuk diajaknya bermain dan berbicara.


__ADS_2