
"Sudah dong, jangan cemberut saja!" ucap Kiara pada Edogawa saat sudah berada di dalam mobil. Namun Edogawa belum juga menjalankan mobil itu dari area parkir kafe itu.
"Menyebalkan sekali cewek itu! Belum juga kenal dekat dengan aku, dia sudah seperti itu tingkahnya. Bagaimana kalau nanti dia sudah benar-benar menjadi adik tiri ku," kata Edogawa.
"Papa kamu mau menikah dengan mama nya gadis itu?" tanya Kiara.
"Benar! Sebentar lagi, papa akan menikah dengan tante Putri. Sebenarnya dari awal aku tidak setuju jika papa menikahi sekretaris nya sendiri itu. Tapi seperti nya papa sudah sangat mencintai tante Putri. Aku kalau tidak menyetujui pernikahan papa, terancam tidak akan mendapatkan semua aset-aset harta warisan yang akan papa wariskan kepada ku," urai Edogawa.
"Hem, begitu yah??! Tapi jika papa kamu menikah dengan tante Putri. Jelas-jelas papa kamu akan membagi harta warisan nya pada anak-anak dari tante Putri dong! Apa kamu tidak mengkhawatirkan soal itu?" sahut Kiara. Edogawa menyipitkan bola matanya.
"Eh, iya yah! Benar apa kata kamu! Kenapa aku tidak berpikir ke sana yah?!" kata Edogawa.
"Tapi kalau kamu tidak mempermasalahkan semua itu tidak apa, sih? Bukankah semua harta kita di dunia ini nantinya tidak akan dibawa mati. Lebih baik kita saling berbagi dengan saudara kita. Apalagi mereka adalah orang-orang yang di sayangi oleh papa kamu juga. Papa kamu mencintai tante Putri, itu artinya papa kamu juga ikut menyayangi dan memikirkan anak-anak bawaan dari tante Putri. Demikian juga dengan kamu, kamu juga akan disayang oleh mama tiri kamu," jelas Kiara.
__ADS_1
"Hem, tapi aku mungkin saja tidak sebaik itu, Kiara. Mungkin saja aku juga akan timbul cemburu jika papa lebih memperhatikan anak-anak dari tante Putri," ucap Edogawa.
"Kenapa? Kalian semua sudah sama-sama dewasa dan bisa berdiri sendiri. Seharusnya ikut bahagia saja saat salah satu orang tua kita bisa hidup bahagia dengan pasangan baru nya. Kita tidak boleh egois dalam hal ini," kata Kiara.
"Hem, benar! Setengah saham pemilihan papa sudah atas nama ku. Setengahnya lagi nama papa. Mungkin setelah ini papa akan menawarkan kepada anak-anak dari tante Putri. Aku pikir seperti itu. Tapi tidak tahu juga," jelas Edogawa.
"Bekerja sama dan saling kompak bersatu membangun bisnis perusahaan papa kamu akan membuat semakin berkembang bukan? Siapa tahu saudara tiri kamu itu nantinya bisa menjadi partner yang tepat jika mau ikut bergabung di perusahaan kamu nanti," kata Kiara.
"Kamu tahu, Kiara! Kakak dari Elsa tadi adalah Also," sahut Edogawa. Kiara terdiam namun matanya melebar ke arah Edogawa.
"Benar! Tante Putri itu memiliki dua anak yaitu Also dan Elsa. Saat papa menyampaikan padaku akan menikahi tante Putri, aku langsung marah dan tidak setuju jika papa berniat menjadikan tante Putri sebagai istrinya. Karena alasan pertama adalah, Also adalah anak dari tante Putri. Kalau Elsa, aku baru mengetahui nya baru tadi. Aku mengenal Also sudah lama sekali," kata Edogawa.
"Hem jadi, gara-gara kamu saat ini membenci Also, akhirnya kamu tidak setuju kalau papa kamu akan menikah dengan tante Putri? Apa karena Also selama ini adalah rival kamu saat mengejar aku?" sahut Kiara. Edogawa garuk-garuk Kepala nya yang tidak gatal dan dia mulai terkekeh.
__ADS_1
"Hehehe tapi karena kamu sudah jadian dengan ku. Dan kamu sudah menjadi pacarku, sekarang tidak ada alasan lagi untuk membenci Also. Serta melarang papa untuk menikah dengan tante Putri. Tapi ingat! Aku tidak mau jika kamu dekat-dekat lagi dengan Also. Apalagi berusaha menarik perhatian Also. Awas saja kalau itu kamu lakukan yah!" ucap Edogawa. Kiara menyipitkan bola matanya menatap Edogawa yang mulai posesif.
"Sudah malam, Edo! Lebih baik kamu antar kan aku pulang ke rumah!" sahut Kiara.
"Kenapa terburu-buru sih? Padahal aku ingin mengajak kamu ke tempat romantis sambil menikmati sinar bulan di malam ini. Kita menghabiskan malam indah ini," kata Edogawa.
"Hem, pasti pikiran kamu sudah mulai mesum kan?" tuduh Kiara.
"Itu kalau kamu mau, Kiara! Lagipula kita kan sudah sama-sama dewasa. Tidak ada salahnya kalau kita mencoba sesuatu yang belum pernah kita lakukan," ucap Edogawa. Mata Kiara membulat dengan sempurna.
"Apakah ini yang selalu kamu tawarkan pada wanita-wanita yang sudah menjadi pacar kamu?" sahut Kiara.
"Eh??" Edogawa salah ucap.
__ADS_1
"Bukan, bukan bukan itu! Bahkan aku juga belum pernah melakukan nya dengan wanita mana pun kok. Aku masih perjaka ting ting kok. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh mencoba nya," ucap Edogawa.
"Apa??" Kiara kembali membulat matanya dengan sempurna. Edogawa menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Dia mulai kembali berpikir untuk membujuk Kiara supaya tidak marah dengan dirinya.