MENYUKAI ADIK TIRI

MENYUKAI ADIK TIRI
BAB 17


__ADS_3

Pagi itu, Elsa masih enggan menjalani aktivitas. Hampir satu jam, dia berendam di bathub yang menghubungkan dengan kamar yang ditempati nya. Hingga suara ketukan pintu kamar nya terdengar sangat keras. Elsa segera turun dari dalam bathub itu dan segera menyambar handuknya. Dengan cepat Elsa melilitkan nya di sebagian bagian tubuh nya dari bagian dada hingga di atas pahanya.


Tok.


Tok.


Kembali pintu kamarnya diketuk keras. Elsa dengan hanya mengenakan handuknya saja segera membuka pintu kamarnya. Elsa pikir, bibi pembantu di rumah itulah yang mengetuk pintu kamarnya. Namun dugaan nya salah. Ternyata di depan pintu kamarnya telah berdiri Edogawa dengan berkacak pinggang. Tampangnya sudah mau marah. Entah apa yang menyebabkan Edogawa marah.


"Kenapa belum siap, hah? Aku sudah menunggu kamu sejak dari tadi? Kamu mau kerja tidak?" ucap Edogawa dengan mata melotot. Elsa bingung.


"Eh, em kerja? Aku kerja di mana? Kenapa kamu menunggu aku?" tanya Elsa.


"Dasar amnesia! Bukannya kamu sudah sanggup jika bekerja di kantor pusat menjadi asisten pribadi aku, hah? Cepat, pakai pakaian kamu! Dasar! Em, kamu mau menggoda aku membukakan pintu kamar mu tanpa memakai. baju?" ucap Edogawa asal.


"Eh?" Elsa tiba-tiba saja teringat kalau dirinya belum mengenakan pakaian dan hanya mengenakan handuknya yang hanya menutupi bagian dada hingga di atas lutut. Tentu saja bagian yang menonjol dan bentuk tubuh nya yang seksi terlihat. Elsa segera menutup pintu kamar nya tanpa berkata-kata.


"Hai, dasar kurang ajar! Tidak ada sopan santun nya!" umpat Edogawa.


"Tunggu saja di depan, kak! Aku berdandan dulu!!" teriak Elsa.

__ADS_1


"Aku beri waktu lima belas menit, jika lebih dari itu akan aku hukum kamu!" ancam Edogawa. Edogawa segera berlalu dari depan pintu kamar Elsa.


Keributan kecil itu tentu saja di dengar oleh pak Indra bersama dengan Putri yang saat ini sudah duduk di ruang makan dan sejak tadi sudah turun dari dalam kamar utamanya yang berada di lantai atas. Pak Indra dan juga mama Putri saling berpandangan setelah melihat tingkah Edogawa yang tadi menggedor pintu kamar Elsa.


"Ada apa sih, Edo?" tanya Pak Indra setelah Edogawa duduk di kursi makan.


"Mulai hari ini Elsa akan bekerja menjadi asisten pribadi ku, Yah! Elsa akan bekerja di perusahaan pusat membantu aku," jawab Edogawa. Pak Indra dan mama Putri saling pandang lalu mereka tersenyum lebar.


"Elsa mau bekerja di perusahaan membantu kamu?" sahut pak Indra.


"Harus mau dong Yah! Daripada menjadi karyawan biasa dan buruh di perusahaan tidak jelas itu, lebih baik membantu aku menjadi asisten pribadi ku. Aku akan menggaji Elsa beberapa kali lipat lebih besar daripada gaji yang ia peroleh di tempat nya bekerja," kata Edogawa.


"Maaf, Edogawa! Elsa memang dari dulu penampilan nya seperti itu, apa adanya. Tapi jika kamu bisa merubahnya sesuai keinginan kamu, pelan-pelan saja kamu ajari adik kamu itu cara berpenampilan seorang karyawan yang bekerja di perusahaan yang besar," sahut Putri.


"Mama Putri jangan khawatir! Elsa itu akan aku jadikan asisten pribadi ku, bukan karyawan biasa! Jadi dia harus sedikit merubah penampilan nya karena setiap hari akan bersama dengan aku menemui klien-klien ataupun rekan bisnis," ucap Edogawa.


"Ya sudah, jangan banyak bicara dan menilai! Sebaiknya kamu belikan semua pakaian kerja untuk adik kamu itu yang menurut kamu bagus dan elegan. Tapi tentunya yang sopan dan tertutup," kata Indra.


"Beres, Yah! Nanti aku akan mengajak Elsa berbelanja pakaian untuk bekerja," sahut Edogawa. Indra dan Putri saling berpandangan lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Terima kasih, Edogawa! Kamu sangat memperhatikan Elsa," ucap Putri. Indra tersenyum lebar melihat Putri dan Eropa secara bergantian.


"Selamat pagi, ayah, mama!" sapa Elsa yang kini baru saja bergabung di meja makan ruangan itu. Edogawa mencebikkan bibirnya karena Elsa baru saja datang.


"Dandan kamu, aku hitung-hitung sudah lebih dari lima belas menit!" sahut Edogawa.


"Eh, mana mungkin?! Aku juga sudah menghitung nya kok. Waktu dandan aku sekitar sepuluh menit," protes Elsa.


"Eh, eh ada apa sih ribut-ribut saja!" sahut Indra dengan terkekeh melihat anak kandung dan juga anak tirinya terlihat akrab dan dekat walaupun terlihat sering bertengkar.


"Elsa itu sudah menjadi asisten pribadi ku, Yah! Seorang asisten pribadi itu seharusnya lebih gesit dan mengatur jadwal aku setiap hari. Ini malah aku yang harus mengingatkan dia," omel Edogawa.


"Kan baru mulai hari ini kan? Besok Elsa juga sudah paham akan tugas-tugas nya sebagai asisten pribadi kamu," bela Indra.


"Benar, Yah! Soalnya tadi saya masih belum tahu kalau hari ini langsung disahkan menjadi asisten pribadi kak Edogawa," kata Elsa.


"Elsa, kamu bekerja yang benar yah sayang?! Walaupun kamu bekerja dengan Edogawa yang kini sudah menjadi kakak kamu, kamu tidak boleh malas. Tanpa disuruh kamu harus tahu pekerjaan kamu," ucap Putri.


"Baik, ma!" sahut Elsa. Edogawa yang masih duduk di kursi makan sambil makan roti tawar dengan selai kacang hanya tertawa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2