MENYUKAI ADIK TIRI

MENYUKAI ADIK TIRI
BAB 23


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun Edogawa belum juga keluar dari dalam kamarnya. Padahal Elsa sudah siap berangkat pergi ke kantor. Elsa masih duduk di ruang makan bersama dengan ayah Indra dan juga mama Putri. Setelah ayah Indra selesai makan, dia langsung pamitan dengan mama Putri berangkat ke kantor. Namun sebelum itu ayah Indra bertanya pada Elsa kenapa masih belum berangkat ke kantor juga.


"Saya nunggu kak Edogawa, ayah Indra! Kenapa yah kok kak Edogawa belum keluar juga dari dalam kamarnya?" ucap Elsa.


"Coba kamu ketuk pintu nya, Elsa! Siapa tahu Edogawa kurang sehat atau memang kesiangan. Tidak biasanya kan, Edogawa berangkat terlalu siang seperti ini," kata ayah Indra.


"Iya, ayah! Saya akan melihat nya ke kamarnya," sahut Elsa.


Elsa segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Edogawa. Saat sudah berada di dalam kamar kakak tiri nya itu, Elsa melihat Edogawa masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya.Bahkan Edogawa sedikit mendengkur. Elsa mendekati kakak tiri nya itu dengan niat untuk membangunkan nya.


Sebelum menepuk-nepuk bahu nya dan juga mengguncang badan Edogawa, Elsa duduk di pinggir tempat tidur itu. Elsa menatap wajah Edogawa yang seperti anak bayi.


"Dia terlihat sangat polos dan tanpa dosa kalau dalam keadaan tidur seperti itu. Tapi kalau sudah bangun, dia seperti singa yang siap menerkam siapapun yang ingin dia makan," gumam Elsa.


Elsa memberanikan dirinya menepuk bahu Edogawa supaya bangun.


"Kak Edo! Kak Edogawa, bangun! Sudah siang, kak! Apakah hari ini kakak Edogawa tidak ke kantor?" ucap Elsa.


"Huum, Kiara! Jangan pergi!" sahut Edogawa. Tiba-tiba saja tangan Elsa ditarik Edogawa hingga jatuh berada di atas nya. Yang lebih membuat Elsa sangat terkejut adalah kedua bibir mereka saling menempel. Mata Elsa melotot sempurna. Bahkan Edogawa mulai liar mencium bibir Elsa. Elsa tentu saja dibuat syok bukan kepalang. Bahkan ciuman itu sangat luar dan penuh hasrat.


"Kak Edo!!?" gumam Elsa dengan melebar matanya dengan sempurna. Apalagi tengkuk Elsa ditekan oleh Edogawa supaya Elsa tidak memberontak.


Irama jantung Elsa menderu tidak karuan. Wajahnya mulai memerah dan memanas. Apalagi tangan kekar Edogawa sudah memeluknya. Elsa tidak membalas ciuman itu. Namun saat Edogawa menggigit bibir bawahnya, Elsa jadi membuka mulut nya. Kini ciuman itu akhirnya saling berbalas dan saling menyesap bertukar saliva. Mata Elsa terpejam seolah-olah pasrah dan menikmati semuanya. Namun di saat itu pula, Edogawa mendorong Elsa hingga Elsa jatuh dari atas tempat tidur di kamar itu.


"Ahhh aduh! Kak Edo!?" teriak Elsa Edogawa membenarkan duduknya lalu menatap tajam ke arah Elsa.


"Kamu??! Apa yang kamu lakukan di kamarku, hah? Apa yang kamu lakukan terhadap aku?. Kamu melecehkan aku yah? Kamu memperkosa aku di saat aku tidur yah?" ucap Edogawa dengan sorot mata yang tajam melihat ke arah Elsa yang masih terjatuh di lantai.


"Eh, tidak, tidak kak! Justru aku membangunkan kak Edo karena sudah siang? Tapi kak Edogawa malah menarik tanganku dan.. dan kak Edogawa mencium ku," kata Elsa.


"Hah, apa? Aku mencium kamu? Tidak tidak mungkin! Kamu salah! Aku tidak mungkin mencium kamu, Elsa!" sahut Edogawa.


"Nyatanya kamu memeluk aku dan mencium paksa aku saat aku berusaha membangunkan kamu, kak!" kata Elsa.

__ADS_1


Edogawa melihat bibir Elsa yang membengkak. Dan ditambah lipstik nya belepotan kemana-mana.


"Hah? Benar! Bibir Elsa jadi bengkak dan lipstik nya kemana-mana. Tapi kenapa aku tadi mencium Elsa? Aku pikir Kiara. Seperti nya ini semua karena aku kangen dengan Kiara. Sial!" pikir Edogawa.


"Ya sudah! Kamu keluarlah! Tunggu aku di luar! Aku akan bersiap-siap mandi terlebih dahulu. Kita akan ke kantor," ucap Edogawa. Seperti tidak terjadi apa-apa Edogawa meninggalkan Elsa yang masih bengong di dalam kamar itu. Sedangkan Edogawa segera masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Edogawa menuntaskan bagian bawahnya yang tadi menegang karena ciuman itu. Bahkan Edogawa memeluk Elsa dan ia merasakan benda empuk dan kenyal menempel di dada nya.


"Bagian tubuh bawahku bereaksi saat ciuman tadi. Kenapa dengan Elsa? Ah ini salah! Aku tidak mungkin menyukai adik tiri ku itu!" gumam Edogawa.


Bahkan pikiran nya tiba-tiba menjadi tertuju pada Elsa. Edogawa menjadi berfantasi liat bermain dengan adik tiri nya itu.


"Ini gila! Tapi kenapa harus Elsa?! Bukan Kiara, pacarku?" gumam Edogawa sambil menuntaskan permaisuri solo nya di dalam kamar mandi.


Setelah menyelesaikan kegiatan Solo lalu mandi, Edogawa keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuknya untuk menutupi bagian bawahnya. Edogawa tentu saja terkejut saat melihat Elsa masih di dalam kamarnya menatap tubuh nya yang terbuka di bagian dada nya. Elsa menelan saliva nya dengan berat melihat kembali bagian perut Edogawa yang sixpack dengan lengan lebar dan kekar itu.


"Kamu kenapa masih di dalam kamar ku? Kamu mau melecehkan aku lagi yah?" seru Edogawa.


"Eh, tidak, tidak! Saya keluar kak! Saya keluar dari kamar ini dan menunggu di depan," sahut Elsa dengan gugup. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dalam hati Edogawa menahan tawanya karena Elsa terlihat malu saat melihat sebagai tubuh nya yang terekspos terbuka itu.


*****


Setibanya di kantor, Elsa dengan Edogawa tidak banyak bicara. Tentu saja keduanya masih jelas teringat akan kejadian tadi pagi. Apalagi Elsa bertambah bingung saat kakak tiri nya itu tiba-tiba menarik tangannya hingga jatuh ke dalam pelukan Edogawa. Setelah nya ciuman itu mendarat di bibirnya. Sampai akhirnya ciuman saling berbalas pun terjadi.


Tok.


Tok.


Tok.


"Selamat siang, bang Edo! Halo bebeb cantik!" sapa Danuarta saat sudah masuk ke dalam ruangan kerja Edogawa.


Di dalam ada Edogawa sibuk berkutat dengan laptop nya. Sedangkan di meja yang tidak jauh dari Edogawa, Elsa duduk mengcopy berkas. Beberapa minggu ini Edogawa memindahkan meja kerja Elsa menjadi satu dengan ruangan kerja nya. Entah kenapa, setelah Danuarta gencar berusaha mendekati Elsa dan bahkan menganggap Elsa seperti pacarnya itu, Edogawa mulai protektif dan posesif.

__ADS_1


"Siang!" sahut Edogawa ketus. Danuarta menyipitkan matanya melihat ada sesuatu yang aneh terjadi antara Edogawa dengan Elsa. Danuarta mendekati Elsa lalu memberikan kotak yang berisi makanan untuk Elsa.


"Ini bolu lumer coklat buatan bunda untuk calon menantu," ucap Danuarta. Edogawa yang mendengar nya menjadi mendongak kepalanya dan tersenyum sinis. Elsa kini matanya tertuju pada Danuarta dan Edogawa secara bergantian.


"Terimakasih, mas! Sampaikan pada bunda, bolu nya saya terima.Dan rasanya... "


"Lezat sekali mas!" sambung Elsa sambil mengunyah satu bolu coklat itu. Edogawa menatap tajam ke arah Elsa.


"Hem, kebiasaan! Kalau disaat sedang bekerja, tolong jangan makan yah! Tidak profesional banget!" protes Elsa.


"Tapi ini enak kok, kak! Coba kak Edogawa cicip," sahut Elsa seraya memberikan potongan kecil bolu coklat itu dan memasukkan nya ke mulut Edogawa yang melongo. Sukses membuat Danuarta terkekeh melihat ekspresi Edogawa yang dengan terpaksa menguyah bolu coklat yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Hem, rasanya tidak buruk kok!" gumam Edogawa.


"Benar kan? sahut Elsa.


" Tapi jangan makan disaat sedang bekerja," ucap Edogawa lagi dengan sorot mata yang tajam. Danuarta hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*****


Di saat Elsa membuatkan kopi untuk pria itu yaitu Edogawa dan Danuarta, kedua nya bercanda gurau membicarakan wanita.


"Malam minggu nanti aku akan nembak Elsa. Aku akan mengajaknya berpacaran. Setelah Elsa mau, mungkin satu bulan kemudian aku akan mengajaknya bertunangan. Bagaimana menurut kamu?" tanya Danuarta.


"Hah?" Edogawa tentu saja terkejut. Dalam hatinya sekarang ini seperti belum rela jika. Elsa lebih dekat dengan Danuarta. Lebih tepatnya seperti direbut oleh Danuarta.


"Kenapa kamu malah terkejut sih, bang? Seharusnya kamu mendukung aku dong? Abang kapan bertunangan dengan Kiara? Bagaimana kalau kita buat pesta pertunangan secara bersama-sama?" usul Danuarta.


"Ogah! Itu ide yang gila dan tidak masuk akal!" sahut Edogawa.


"Kenapa tidak, bang? Ayolah! Atau abang kasih ide apa buatku?" kata Danuarta.


"Ah sudahlah! Jangan bicara omong kosong dan membual. Jadian saja belum. Dan lagipula Elsa juga belum tentu mau dengan kamu," sahut Edogawa.

__ADS_1


"Ais, sepertinya Elsa mau kok! Sepertinya Elsa juga menyukai aku!" ucap Danuarta percaya diri.


Elsa masuk membawa Dua cangkir kopi. Keduanya langsung terdiam.


__ADS_2