MENYUKAI ADIK TIRI

MENYUKAI ADIK TIRI
BAB 28


__ADS_3

"Elsa! maaf kita lebih baik putus saja yah!" ucap Danuarta pada Elsa. Elsa melebar bola matanya. Saat ini Danuarta mengajak Elsa pergi ke suatu tempat yaitu taman kota. Mereka sedang duduk bersama di sana.


"Tapi bohong!" sambung Danuarta akhirnya. Elsa seketika memukul lengan Danuarta keras.


"Hahaha aduh, sakit dong Elsa! Hahaha, duh yang hampir nangis dan keluar air mata.... " ucap Danuarta. Elsa jadi manyun bibirnya.


"Enggak lucu sama sekali!" kata Elsa seraya masih memukul lengan Danuarta.


"Hahahaha, kenapa kamu sedih yah kalau aku beneran memutuskan kamu," ucap Danuarta.


"Tidak! Tidak sama sekali!" sahut Elsa. Kembali Danuarta terkekeh mendengar jawaban dari Elsa yang bilang seperti itu. Namun ekspresi nya terlihat kecewa, kaget, sedih saat Danuarta bilang ingin memutuskan Elsa.


"Tadi saat di kantor bang Edo bicara dengan ku. Mulai besok bang Edo akan mengumumkan aturan baru di perusahaan itu. Salah satunya dilarang berpacaran dengan sesama karyawan yang bekerja di sana. Di larang juga antara pimpinan dan bawahan nya saling berpacaran. Atau menjalin hubungan kekasih dalam satu kerjaan," ucap Danuarta. Elsa yang mendengar itu menjadi mengerutkan dahinya.


"Hah? Lalu?" sahut Elsa.


"Tentu saja kita jangan langsung putus dong demi mentaati peraturan baru itu," kata Danuarta.


"Bagaimana kalau kak Edogawa melarang kita berpacaran?" sahut Elsa.

__ADS_1


"Makanya aku mengajak kamu datang kemari, untuk membicarakan masalah ini. Saat di kantor, kita jangan menunjukkan kalau kita sedang berpacaran. Kita pura-pura sudah putus. Supaya bang Edo tidak menggeser jabatan kita. Bahkan yang lebih tragis di pecat dari kerjaan kita," kata Danuarta.


"Begitu yah??" sahut Elsa.


"Kamu tidak apa-apa kan kalau aku akan bersikap cuek dengan kamu saat di kantor?" kata Danuarta.


"Tidak masalah kok," kata Elsa. Danuarta menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Sebenarnya akulah yang bermasalah. Aku pasti akan susah untuk bersikap cuek kepada mu, Elsa!" ucap Danuarta. Elsa tersenyum lebar.


"Hehehe kalau begitu lebih baik kita benar-benar putus saja, mas. Supaya mas Danuarta lebih enak tanpa lagi berpura-pura tidak perduli dengan ku," kata Elsa.


"Bagaimana kalau saat mas Danuarta datang ngapel ke rumah. Saat itu kak Edogawa jadi melihat bahwa kita masih berpacaran. Apakah ini tidak masalah?" kata Elsa.


"Seharusnya tidak masalah dong! Seharusnya aturan nya dilarang berpacaran saat bekerja di kantor. Benar begitu kan?" sahut Danuarta.


"Heem, mas! Seharusnya memang seperti itu," kata Elsa.


"Ya sudah yuk! Kita makan dulu setelah itu aku baru mengantarkan kamu pulang ke rumah," kata Danuarta.

__ADS_1


"Hem, iya kak! Aku ingin mie ramen saja kak," kata Elsa.


"Oke, ayo kita ke restoran itu!" ajak Danuarta seraya berdiri dari duduknya.


*****


"Elsa! Masuk ke kamar!" perintah Edogawa. Danuarta yang mendengar Edogawa menyuruh Elsa segera masuk ke kamarnya menjadi menyipit matanya.


"Mas Danuarta! Aku ke atas dulu yah! Terimakasih sudah mentraktir ku hari ini," kata Elsa.


"Hehehe tidak masalah, Elsa! Iya, sana cepat lah ke atas dan ke kamar kamu. Nanti si harimau yang sedang lapar bisa memakan kamu, loh!" ucap Danuarta. Elsa segera berlari kecil menuju ke kamarnya. Sedangkan Edogawa menatap tajam ke arah Danuarta.


"Elsa itu masih kecil. Jangan diajari berpacaran. Awas saja kamu, Danu! Kalau Elsa tiba-tiba hamil gara-gara kamu," ucap Edogawa tanpa filter.


"Eh?? Hahaha, bang Edo bang Edo. Abang terlalu berlebihan. Berciuman saja belum pernah aku lakukan kok. Ini masak naninu naninu an," sahut Danuarta.


"Siapa tahu saja kamu sudah kebelet. Kamu kan memang sudah pantas untuk kawin. Eh menikah, maksudnya," kata Edogawa.


"Bang Edogawa juga sudah sangat pantas. Bahkan lebih pantas daripada aku," sahut Danuarta. Edogawa dengan cepat memukul lengannya dengan keras.

__ADS_1


"Hahaha aduh sakit bang!" ucap Danuarta sambil mengusap lengannya bekas pukulan dari Edogawa.


__ADS_2